Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah penjelasan dari Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu tentang hakikat Hajar Aswad. Beliau menegaskan bahwa Hajar Aswad hanyalah batu biasa yang tidak memiliki kekuatan untuk memberi manfaat atau mudharat. Namun, karena Rasulullah ﷺ menciumnya, kita pun menciumnya sebagai bentuk ittiba' (mengikuti) sunnah beliau, bukan karena menganggap batu itu memiliki kekuatan gaib. Ini adalah pelajaran penting tentang kemurnian tauhid dan adab dalam beribadah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:
Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan, dengan sanad lengkap):
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَابِسِ بْنِ رَبِيعَةَ، عَنْ عُمَرَ ـ رضى الله عنه ـ أَنَّهُ جَاءَ إِلَى الْحَجَرِ الأَسْوَدِ فَقَبَّلَهُ، فَقَالَ إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لاَ تَضُرُّ وَلاَ تَنْفَعُ، وَلَوْلاَ أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ.
Makna ringkas: Umar bin Khaththab datang ke Hajar Aswad, menciumnya, lalu berkata, "Aku tahu engkau hanyalah batu yang tidak bisa memberi manfaat maupun mudharat. Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah ﷺ menciummu, aku tidak akan menciummu."
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab [33]: 21)
Ayat ini menunjukkan bahwa mengikuti Rasulullah ﷺ adalah sumber kebaikan, termasuk dalam hal mencium Hajar Aswad.
Kaitan dengan ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa perkataan Umar ini adalah bantahan terhadap orang-orang jahiliyah yang menganggap Hajar Aswad memiliki kekuatan sendiri. Umar ingin mengajarkan bahwa ibadah ini murni karena mengikuti perintah dan perbuatan Nabi ﷺ, bukan karena keyakinan pada batu tersebut.
- Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya mencium Hajar Aswad karena mengikuti Nabi ﷺ, dan bahwa Umar sengaja mengucapkan perkataan ini dengan suara yang bisa didengar orang banyak agar mereka tidak salah paham.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Kemurnian Tauhid dan Larangan Syirik
Umar radhiyallahu 'anhu dengan tegas menyatakan bahwa Hajar Aswad tidak bisa memberi manfaat maupun mudharat. Ini adalah penegasan tauhid — bahwa hanya Allah yang memiliki kuasa memberi manfaat dan mudharat. Umar ingin mengajarkan kepada umat Islam agar tidak ada yang terjerumus ke dalam keyakinan bahwa benda-benda tertentu memiliki kekuatan gaib.
2. Ibadah Itu Berdasarkan Ittiba', Bukan Akal Semata
Umar berkata, "Kalau bukan karena aku melihat Nabi ﷺ menciummu, aku tidak akan menciummu." Ini menunjukkan bahwa sebagian ibadah ada yang bersifat ta'abbudi (ibadah murni yang tidak bisa dijangkau oleh akal). Kita melakukannya semata-mata karena mencontoh Rasulullah ﷺ. Ini bukan berarti ibadah itu tidak masuk akal, tetapi kita mengakui bahwa akal kita terbatas dan wahyu adalah sumber utama.
3. Menghilangkan Syubhat (Kerancuan)
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa Umar mengucapkan perkataan ini dengan suara keras di hadapan para sahabat agar tidak ada yang salah paham. Seandainya Umar diam saja, mungkin ada orang yang mengira bahwa mencium Hajar Aswad adalah karena batu itu memiliki keistimewaan atau kekuatan. Maka Umar menjelaskan hakikatnya.
4. Mencium Hajar Aswad adalah Sunnah
Hadits ini sekaligus menetapkan bahwa mencium Hajar Aswad adalah perbuatan yang dicontohkan Nabi ﷺ. Jika tidak memungkinkan menciumnya karena terlalu ramai, maka boleh memberi isyarat dengan tangan, sebagaimana dijelaskan dalam hadits-hadits lain.
5. Sikap Pertengahan (Wasathiyah)
Islam mengajarkan sikap pertengahan: tidak berlebihan dalam mengagungkan benda-benda (seperti yang dilakukan orang jahiliyah terhadap berhala), dan juga tidak meremehkan sunnah Nabi ﷺ. Umar menunjukkan keseimbangan ini dengan sempurna.
Story Telling
Ada kisah yang diriwayatkan bahwa ketika Umar bin Khaththab mencium Hajar Aswad, beliau mengucapkan perkataan tersebut di hadapan para sahabat. Sebagian sahabat mungkin bertanya-tanya dalam hati, "Mengapa Umar mencium batu yang tidak bisa memberi manfaat?" Maka Umar menjawab dengan jelas, "Aku tahu engkau hanyalah batu yang tidak bisa memberi manfaat maupun mudharat. Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah ﷺ menciummu, aku tidak akan menciummu."
Perkataan ini menunjukkan kejujuran dan keilmuan Umar. Beliau tidak ingin umat Islam terjerumus ke dalam kesyirikan, tetapi beliau juga tidak ingin meninggalkan sunnah Nabi ﷺ. Ini adalah pelajaran berharga tentang bagaimana seorang mukmin bersikap terhadap ibadah yang bersifat ta'abbudi.
Kesimpulan Praktis
- Ikhlas dalam beribadah — lakukan ibadah semata-mata karena Allah dan mengikuti Rasulullah ﷺ.
- Jauhi syirik — jangan pernah meyakini bahwa benda-benda (termasuk Hajar Aswad) memiliki kekuatan sendiri.
- Ittiba' kepada Nabi ﷺ — dalam setiap ibadah, kita harus mengikuti tata cara yang dicontohkan, bukan membuat-buat sendiri.
- Berani menjelaskan kebenaran — seperti Umar yang menjelaskan hakikat Hajar Aswad agar tidak terjadi kesalahpahaman.
- Tawadhu' dalam berilmu — akui keterbatasan akal dan kembalikan semua kepada wahyu.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.