Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan percakapan Aisyah radhiyallahu 'anha dengan Nabi ﷺ tentang bagian Ka'bah yang dikenal dengan Hijr (dinding setengah lingkaran di sisi utara Ka'bah). Nabi ﷺ menjelaskan bahwa Hijr sebenarnya adalah bagian dari Ka'bah, tetapi kaum Quraisy tidak memasukkannya ke dalam bangunan karena kekurangan biaya, dan mereka meninggikan pintunya untuk mengontrol siapa yang boleh masuk. Beliau juga menyatakan keinginannya untuk mengembalikan Ka'bah ke bentuk aslinya, tetapi tidak melakukannya karena khawatir hati kaum Quraisy yang baru masuk Islam akan terganggu. Hadits ini menunjukkan kecintaan Nabi ﷺ pada Baitullah dan kebijaksanaan beliau dalam berdakwah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh:
- Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Haji, Bab Keutamaan Mekkah dan Bangunannya, no. 1584.
- Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Haji, no. 1333, dari jalur Aisyah radhiyallahu 'anha.
Ayat Al-Qur'an yang terkait dengan pembangunan Ka'bah oleh Nabi Ibrahim dan Ismail 'alaihimas salam:
QS. Al-Baqarah [2]: 127
وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail, (seraya berdoa), 'Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.'"
Kaitan dengan ulama:
- Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (kitab syarah Shahih Al-Bukhari) menjelaskan panjang lebar tentang hadits ini, termasuk riwayat-riwayat yang menjelaskan bahwa Hijr adalah bagian dari Ka'bah dan bahwa Nabi ﷺ tidak mengubah bangunan Ka'bah karena pertimbangan dakwah.
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim juga menjelaskan hadits ini dan menyebutkan bahwa para ulama sepakat Hijr termasuk bagian dari Ka'bah, dan bahwa Nabi ﷺ tidak mengubahnya karena kekhawatiran fitnah bagi orang-orang yang baru masuk Islam.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Hijr (dinding setengah lingkaran) adalah bagian dari Ka'bah
Para ulama menjelaskan bahwa Hijr atau Hatim adalah bagian yang tidak dimasukkan ke dalam bangunan Ka'bah oleh kaum Quraisy. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ketika Nabi Ibrahim 'alaihis salam membangun Ka'bah, bentuknya lebih besar dari yang ada sekarang, dan Hijr termasuk di dalamnya. Namun ketika kaum Quraisy membangun ulang Ka'bah sebelum kenabian, mereka mengurangi ukurannya karena kekurangan biaya yang halal, sehingga Hijr tidak masuk ke dalam bangunan.
2. Kebijaksanaan Nabi ﷺ dalam berdakwah
Nabi ﷺ menginginkan untuk mengembalikan Ka'bah ke bentuk aslinya sesuai fondasi Nabi Ibrahim, tetapi beliau tidak melakukannya. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah bentuk hilm (kesantunan) dan kebijaksanaan Nabi ﷺ, karena beliau khawatir orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam akan merasa asing dan terganggu hatinya jika bangunan Ka'bah yang mereka kenal diubah. Ini menunjukkan prinsip penting dalam dakwah: dar'ul mafasid muqaddamun 'ala jalbil mashalih (menolak kerusakan lebih didahulukan daripada mengambil manfaat).
3. Pelajaran tentang niat dan prioritas
Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Fathul Bari (syarahnya untuk Shahih Al-Bukhari) menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bagaimana seorang pemimpin harus memperhatikan kondisi umatnya dan tidak memaksakan perubahan yang bisa menimbulkan kegoncangan, meskipun perubahan itu sendiri baik.
4. Hikmah di balik pintu Ka'bah yang tinggi
Nabi ﷺ menjelaskan bahwa kaum Quraish meninggikan pintu Ka'bah agar mereka bisa mengontrol siapa yang masuk. Ini menunjukkan bahwa sebelum Islam, Ka'bah telah dijadikan alat kekuasaan oleh kaum Quraisy. Namun Nabi ﷺ tidak langsung mengubahnya karena pertimbangan dakwah.
5. Apakah Nabi ﷺ pernah mengubah Ka'bah?
Dalam riwayat lain (diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma), disebutkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Seandainya manusia tidak baru saja meninggalkan kekufuran, dan aku tidak khawatir hatiku akan berubah, niscaya aku akan membangun Ka'bah di atas fondasi Ibrahim." Namun beliau tidak melakukannya. Kemudian setelah itu, Abdullah bin Zubair radhiyallahu 'anhuma ketika berkuasa di Mekkah, beliau membongkar Ka'bah dan membangunnya sesuai fondasi Ibrahim, memasukkan Hijr ke dalam bangunan dan menurunkan pintunya. Namun setelah itu, Al-Hajjaj bin Yusuf atas perintah Khalifah Abdul Malik bin Marwan mengembalikannya ke bentuk Quraisy. Ini menunjukkan bahwa para sahabat dan tabi'in memahami hadits ini sebagai dorongan untuk mengembalikan Ka'bah ke bentuk aslinya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika Abdullah bin Zubair radhiyallahu 'anhuma berkuasa di Mekkah, beliau berkonsultasi dengan para sahabat dan tabi'in tentang keinginannya untuk membangun ulang Ka'bah sesuai fondasi Nabi Ibrahim. Beliau berkata: "Aku bertanya kepada Aisyah radhiyallahu 'anha tentang hal ini, dan ia menceritakan hadits Nabi ﷺ yang kita bahas ini. Maka aku memutuskan untuk mengembalikan Ka'bah ke bentuk aslinya."
Ibnu Zubair kemudian membangun Ka'bah dengan memasukkan Hijr ke dalam bangunan dan menurunkan pintunya ke tanah. Beliau melakukan ini karena memahami bahwa keinginan Nabi ﷺ adalah hal yang baik, dan beliau tidak khawatir dengan kondisi umat saat itu karena Islam telah kokoh.
Namun setelah Ibnu Zubair wafat, Al-Hajjaj mengubahnya kembali atas perintah khalifah. Para ulama berbeda pendapat tentang mana yang lebih utama, tetapi yang jelas, hadits ini menunjukkan bahwa bentuk Ka'bah yang ada sekarang adalah hasil ijtihad kaum Quraisy yang kemudian dipertahankan, dan Nabi ﷺ sendiri tidak mengubahnya karena pertimbangan dakwah.
Hikmah: Kisah ini mengajarkan kita bahwa seorang pemimpin harus memperhatikan kondisi umatnya. Perubahan yang baik sekalipun tidak boleh dipaksakan jika waktunya belum tepat dan bisa menimbulkan kegoncangan.
Kesimpulan Praktis
- Hijr (dinding setengah lingkaran di sisi utara Ka'bah) adalah bagian dari Ka'bah, dan ketika thawaf, kita harus melewati luarnya, tidak memotong melalui area tersebut.
- Nabi ﷺ sangat mencintai Baitullah dan ingin mengembalikannya ke bentuk aslinya, tetapi beliau menahan diri demi kemaslahatan dakwah.
- Prinsip penting dalam dakwah: memperhatikan kondisi mad'u (orang yang diajak), tidak memaksakan perubahan yang bisa menimbulkan kegoncangan, meskipun perubahan itu baik.
- Kebijaksanaan lebih utama daripada memaksakan keinginan, terutama dalam hal yang berkaitan dengan perasaan dan tradisi masyarakat.
- Para sahabat memahami hadits ini dengan baik, dan sebagian mereka berusaha mengamalkannya ketika kondisi sudah memungkinkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.