Penjelasan Hadits Bukhari No. 1549 tentang Lafaz talbiyah Rasulullah saat haji

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan lafazh talbiyah yang dibaca Nabi ﷺ saat berihram haji maupun umrah. Talbiyah adalah bentuk pengakuan tauhid, penyerahan diri, dan pujian kepada Allah semata. Lafazhnya diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma dan disepakati keabsahannya oleh para ulama seperti Imam Bukhari, Imam Malik, dan Imam an-Nawawi.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an terkait perintah haji dan talbiyah:

QS. Al-Baqarah [2]: 196

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

"Dan bagi Allah atas manusia kewajiban menunaikan haji ke Baitullah, bagi yang mampu mengadakan perjalanan ke sana."

(Ini adalah potongan dari QS. Ali 'Imran [3]: 97, disebutkan sebagai penguat perintah haji.)

Hadits terkait:

  • Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari, Kitab Haji, Bab Talbiyah, no. 1549, dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, melalui jalur Nafi' dari Imam Malik.
  • Imam Muslim juga meriwayatkan hadits serupa dalam Shahih Muslim, Kitab Haji.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam Malik bin Anas meriwayatkan hadits ini dalam Al-Muwaththa' dan menjadikannya dasar lafazh talbiyah yang beliau pilih.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa lafazh ini adalah yang paling shahih dan paling utama.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil utama lafazh talbiyah Nabi ﷺ.
  • Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menegaskan bahwa talbiyah Nabi ﷺ mengandung makna tauhid yang sempurna.

Penjelasan Rinci

Makna Talbiyah secara bahasa dan syariat:

Talbiyah berasal dari kata labbaika yang berarti "aku menjawab panggilan-Mu dengan penuh ketaatan dan kesiapan." Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa talbiyah adalah jawaban atas seruan Nabi Ibrahim 'alaihissalam ketika Allah memerintahkan beliau menyeru manusia untuk berhaji, sebagaimana disebutkan dalam QS. Al-Hajj [22]: 27.

Kandungan tauhid dalam talbiyah:

  1. Pengakuan rububiyah Allah — "Labbaika Allahumma labbaik" menunjukkan bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan ditaati.
  2. Penolakan syirik — "La syarika laka" menegaskan tidak ada sekutu bagi Allah dalam segala hal.
  3. Pengakuan nikmat dan kekuasaan — "Innal hamda wan ni'mata laka wal mulk" menunjukkan bahwa segala puji, nikmat, dan kekuasaan hanya milik Allah.

Pemahaman ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menyatakan bahwa talbiyah ini adalah lafazh yang paling utama, dan boleh menambahkan lafazh lain yang shahih.
  • Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ terus membaca talbiyah sejak berihram hingga melempar Jumrah Aqabah.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma sangat bersemangat mengajarkan talbiyah ini kepada orang lain.
  • Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Mumti' menegaskan bahwa talbiyah adalah syiar haji yang paling agung dan mengandung tauhid yang murni.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama seperti Imam Abu Hanifah dan Imam asy-Syafi'i membolehkan menambahkan lafazh talbiyah yang lain selama shahih. Namun, lafazh yang paling utama adalah yang diriwayatkan dalam hadits ini, sebagaimana disepakati oleh Imam Malik, Imam an-Nawawi, dan Ibnu Hajar.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, ketika berhaji, selalu mengumandangkan talbiyah dengan suara lantang hingga terdengar oleh orang-orang di sekitarnya. Beliau juga mengajarkan lafazh talbiyah ini kepada keluarga dan sahabatnya. Suatu ketika, seorang tabi'in bernama Nafi' (murid beliau) bertanya tentang talbiyah Nabi ﷺ, maka beliau langsung menyebutkan lafazh ini dengan penuh penghayatan. (Disebutkan oleh Imam Bukhari dalam Shahih al-Bukhari dan Imam Malik dalam Al-Muwaththa').

Hikmahnya: Talbiyah bukan sekadar bacaan, tetapi ikrar tauhid yang harus diresapi hati. Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma menunjukkan bahwa mengajarkan sunnah Nabi ﷺ adalah bagian dari ibadah.

Kesimpulan Praktis

  1. Baca talbiyah dengan lafazh yang shahih — Lafazh dalam hadits ini adalah yang paling utama.
  2. Hayati maknanya — Talbiyah adalah pengakuan tauhid, bukan sekadar bacaan rutin.
  3. Perbanyak talbiyah — Dari mulai ihram hingga melempar Jumrah Aqabah.
  4. Ajarkan kepada orang lain — Sebagaimana Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma mengajarkannya.
  5. Jauhi tambahan yang tidak shahih — Cukup dengan lafazh yang diajarkan Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?