Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan adab menerima rezeki: jika harta datang tanpa kita meminta dan tanpa kita tamak mengharapkannya, ambillah dengan tenang; tetapi jika tidak datang, janganlah kita mengejar-ngejar atau menggantungkan hati padanya. Sikap ini melatih hati agar qana'ah (merasa cukup) dan tidak rakus terhadap dunia.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Zakat, dari jalur Salim bin Abdullah dari ayahnya Abdullah bin Umar dari Umar bin al-Khaththab رضي الله عنهم.
Teks hadits:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ يُونُسَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ سَالِمٍ، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ عُمَرَ يَقُولُ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُعْطِينِي الْعَطَاءَ فَأَقُولُ: أَعْطِهِ مَنْ هُوَ أَفْقَرُ إِلَيْهِ مِنِّي، فَقَالَ: «خُذْهُ، إِذَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ شَيْءٌ، وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلَا سَائِلٍ، فَخُذْهُ، وَمَا لَا فَلَا تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ»
Terjemahan: "Rasulullah ﷺ biasa memberiku suatu pemberian, lalu aku berkata, 'Berikanlah kepada orang yang lebih membutuhkannya dariku.' Maka beliau bersabda: 'Ambillah. Apabila datang kepadamu sesuatu dari harta ini sedangkan engkau tidak mengharap-harap dan tidak meminta, maka ambillah; dan jika tidak (datang), maka janganlah engkau mengikuti (mengejar)nya dengan jiwamu.'"
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan sikap tidak mengejar dunia:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ
QS. Thaha [20]: 131 — "Dan janganlah engkau tujukan kedua matamu (dengan penuh keinginan) kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan di antara mereka, yaitu keindahan kehidupan dunia, agar Kami menguji mereka padanya. Dan rezeki Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal."
Penjelasan Rinci
Hadits ini menyentuh inti akhlak seorang mukmin terhadap harta, yaitu 'iffah (menjaga kehormatan diri) dan qana'ah (merasa cukup). Nabi ﷺ mengajarkan kepada Umar رضي الله عنه dua syarat menerima pemberian:
Pertama: "غَيْرُ مُشْرِفٍ" — yaitu engkau tidak mengharap-harap, tidak mencondongkan hati, dan tidak menunggu-nunggu datangnya harta. Kedua: "وَلَا سَائِلٍ" — engkau tidak meminta-minta.
Jika dua syarat ini terpenuhi, maka ambillah. Jika tidak, jangan engkau ikuti hawa nafsu untuk mengejarnya.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan tidak meminta-minta dan tidak tamak, serta bolehnya menerima pemberian yang datang tanpa diminta. Beliau juga menyebut bahwa makna "لَا تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ" adalah jangan engkau susulkan jiwamu (mengejar-ngejar) harta yang tidak datang kepadamu.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa menerima pemberian yang datang tanpa permintaan lebih utama daripada menolaknya, karena Nabi ﷺ memerintahkan Umar untuk mengambilnya. Namun beliau juga menegaskan bahwa menolak karena ingin memberi kesempatan kepada yang lebih membutuhkan tetap merupakan kebaikan, sebagaimana yang dilakukan Umar. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa perintah "خُذْهُ" menunjukkan bolehnya menerima, bukan kewajiban.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menekankan bahwa hadits ini mengajarkan kepada seorang mukmin agar tidak menjadikan harta sebagai tujuan hati. Hati harus bebas dari perbudakan dunia. Beliau mengaitkan dengan sabda Nabi ﷺ yang lain tentang "tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah," dan bahwa sikap qana'ah adalah kekayaan sejati.
Syeikh Abdurrahman as-Sa'di dalam penjelasan tafsirnya menyebutkan bahwa ayat QS. Thaha [20]: 131 mengajarkan agar seorang mukmin tidak memandang panjang kepada kenikmatan dunia yang diberikan kepada orang lain, karena itu adalah ujian, sedangkan rezeki yang Allah janjikan bagi orang beriman lebih baik dan kekal.
Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa hadits ini mengandung hikmah: seorang muslim tidak boleh menggantungkan hatinya pada harta yang belum datang, karena itu akan membuatnya sibuk dengan sesuatu yang belum pasti. Jika harta datang tanpa diminta dan tanpa diharap, itu adalah rezeki yang Allah kirimkan, maka terimalah dengan syukur.
Perbedaan pendapat di antara ulama daftar: Sebagian ulama seperti Imam an-Nawawi cenderung memahami bahwa menerima pemberian tanpa meminta adalah lebih utama berdasarkan perintah Nabi ﷺ. Sedangkan sebagian lain menekankan keutamaan menolak jika ada orang yang lebih membutuhkan, sebagaimana sikap Umar. Namun pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah: menerima dengan syarat tidak mengharap dan tidak meminta adalah sunnah, sedangkan menolak untuk memberi kesempatan kepada yang lebih membutuhkan juga merupakan keutamaan, tergantung kondisi dan niat.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه, meskipun beliau adalah khalifah dengan kekuasaan luas, tetap hidup sederhana. Beliau pernah berkata bahwa beliau tidak ingin harta datang kepadanya, karena beliau takut harta itu akan melalaikan beliau dari mengingat Allah. Dalam sebuah riwayat, Umar pernah melihat harta yang banyak dan beliau menangis, lalu berkata: "Aku tidak takut harta ini akan membuat kalian sengsara, tetapi aku takut harta ini akan membuat kalian saling bersaing dan saling membenci." (disebutkan dalam kitab-kitab sejarah yang diriwayatkan oleh ulama seperti Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah).
Hikmahnya: seorang pemimpin dan mukmin sejati tidak menjadikan harta sebagai tujuan, tetapi sebagai sarana untuk taat kepada Allah. Hati mereka bebas dari cinta dunia, meskipun tangan mereka mengelola dunia.
Kesimpulan Praktis
- Terimalah rezeki yang datang tanpa diminta dan tanpa diharap — itu adalah rezeki yang Allah kirimkan, maka syukuri.
- Jangan mengejar-ngejar harta yang tidak datang kepadamu, karena itu akan melelahkan hati dan menjauhkan dari tawakkal.
- Latihlah hati untuk qana'ah — merasa cukup dengan apa yang Allah beri, karena kekayaan sejati adalah kaya hati, bukan kaya harta.
- Jika engkau ingin memberi kesempatan kepada yang lebih membutuhkan, itu adalah kebaikan, tetapi jangan sampai engkau menolak rezeki karena riya' atau ingin dipuji.
- Jangan meminta-minta kecuali dalam keadaan darurat yang sangat mendesak.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.