Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa sedekah tidak dinilai dari besar atau kecilnya jumlah, melainkan dari keikhlasan dan kemampuan seseorang. Orang yang mencela sedekah kecil atau menuduh riya orang yang bersedekah besar telah melakukan kesalahan, karena Allah tidak membutuhkan harta kita, tetapi Dia melihat hati dan usaha kita. Jangan meremehkan kebaikan sekecil apa pun, karena yang sedikit di mata manusia bisa jadi besar di sisi Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an terkait:
وَالَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لَا يَجِدُونَ إِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ ۙ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
QS. At-Taubah [9]: 79
"Dan orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan mencela orang-orang yang tidak menemukan (untuk memberi sedekah) kecuali sekadar kesanggupannya, lalu mereka mengolok-olok mereka; Allah akan mengolok-olok mereka dan bagi mereka azab yang pedih."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Zakat, Bab "Takutlah kepada Api Walaupun dengan Setengah Kurma" (no. 1415), dari sahabat Abu Mas'ud Al-Anshari radhiyallahu 'anhu.
Hadits lain yang semakna, dari Adi bin Hatim radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:
اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ
"Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun dengan setengah butir kurma." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan larangan mencela orang yang bersedekah, baik yang banyak maupun yang sedikit.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa sedekah diterima sesuai kemampuan dan keikhlasan, bukan berdasarkan jumlahnya.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya atas QS. At-Taubah [9]: 79 menjelaskan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa yang disebutkan dalam hadits Abu Mas'ud ini.
Penjelasan Rinci
Latar belakang peristiwa:
Sahabat Abu Mas'ud Al-Anshari radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa ketika ayat tentang sedekah diturunkan (yakni perintah untuk bersedekah), para sahabat yang bekerja sebagai pengangkut (pekerja kasar) merasa berat karena mereka tidak memiliki harta banyak. Lalu datanglah seorang sahabat yang kaya raya — menurut sebagian riwayat ia adalah Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu — yang menyedekahkan hartanya dalam jumlah besar. Orang-orang munafik pun mencelanya dengan tuduhan riya (pamer). Kemudian datang sahabat lain yang hanya mampu menyedekahkan satu sha' (sekitar 2,5 kg makanan), dan orang-orang munafik mencela dengan mengatakan, "Allah tidak butuh sedekah sekecil ini."
Maka Allah menurunkan ayat 79 dari Surah At-Taubah sebagai jawaban atas celaan mereka.
Pemahaman ulama:
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan beberapa poin penting:
- Sedekah tidak dinilai dari jumlahnya, tetapi dari keikhlasan dan kemampuan. Orang kaya yang bersedekah banyak dengan ikhlas lebih baik daripada orang yang mencela tanpa berbuat apa-apa.
- Mencela orang yang bersedekah adalah dosa besar, karena mencela amal kebaikan berarti menghalangi orang dari berbuat baik dan merendahkan syariat Allah.
- Allah tidak membutuhkan sedekah kita, sebagaimana firman-Nya dalam ayat lain. Yang Allah lihat adalah hati dan usaha hamba-Nya.
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menambahkan bahwa hadits ini mengandung pelajaran tentang adab dalam beramal: jangan meremehkan amal kebaikan orang lain, sekecil apa pun. Bisa jadi amal yang tampak kecil di mata manusia justru lebih berat timbangannya di sisi Allah karena keikhlasan dan keterbatasan orang yang melakukannya.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai teguran kepada orang-orang munafik yang selalu mencari-cari alasan untuk mencela orang beriman. Jika seseorang bersedekah banyak, mereka tuduh riya. Jika seseorang bersedekah sedikit, mereka remehkan. Sikap seperti ini adalah ciri kemunafikan dan harus dijauhi.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan bahwa Allah menerima sedekah dari siapa pun yang melakukannya dengan ikhlas, baik kaya maupun miskin, baik banyak maupun sedikit. Yang tercela adalah orang yang mencela dan mengolok-olok, bukan orang yang bersedekah sesuai kemampuannya.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
Sebagian ulama berbeda pendapat tentang siapa yang dimaksud "orang yang tidak menemukan kecuali sekadar kesanggupannya." Ibnu Hajar menyebutkan bahwa sebagian ulama mengatakan itu adalah Abu Aqil Al-Anshari radhiyallahu 'anhu yang hanya mampu menyedekahkan satu sha'. Namun inti pelajarannya sama: sedekah sesuai kemampuan tetap bernilai di sisi Allah.
Pendapat yang paling kuat adalah bahwa ayat dan hadits ini mengajarkan kita untuk tidak mencela amal kebaikan siapa pun, dan setiap sedekah yang dilakukan dengan ikhlas akan diterima Allah sesuai dengan niat dan kemampuan pelakunya.
Story Telling
Dikisahkan oleh Abu Mas'ud Al-Anshari radhiyallahu 'anhu — sebagaimana diriwayatkan Imam Al-Bukhari — bahwa pada suatu hari, ketika perintah sedekah baru saja turun, suasana Madinah dipenuhi semangat berbagi. Para sahabat berlomba-lomba mengeluarkan harta mereka.
Seorang sahabat kaya, Abdurrahman bin Auf radhiyallahu 'anhu, datang membawa sedekah yang sangat banyak. Orang-orang munafik yang melihatnya langsung berkata, "Dia hanya ingin pamer!"
Kemudian datanglah seorang sahabat miskin, Abu Aqil radhiyallahu 'anhu, yang sepanjang malam bekerja mengangkut air untuk mendapatkan upah. Ia hanya mampu menyedekahkan satu sha' kurma. Orang-orang munafik pun mencibir, "Allah tidak butuh sedekah sekecil itu!"
Maka turunlah wahyu dari langit, membela kedua orang mukmin tersebut dan mengecam sikap orang-orang munafik. Ayat itu mengabadikan peristiwa ini dalam Al-Qur'an hingga hari kiamat.
Hikmah: Jangan pernah meremehkan kebaikan, sekecil apa pun. Bisa jadi setengah butir kurma yang kita berikan dengan ikhlas lebih berat di timbangan amal daripada gunung emas yang diberikan dengan riya.
Kesimpulan Praktis
- Jangan meremehkan sedekah kecil. Setengah kurma, satu sha' makanan, atau senyuman pun bisa menjadi penyelamat dari api neraka jika dilakukan dengan ikhlas.
- Jangan mencela orang yang bersedekah. Baik ia memberi banyak atau sedikit, itu urusannya dengan Allah. Tugas kita adalah mendoakan dan mendukung, bukan mencela.
- Sedekah sesuai kemampuan. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya (QS. Al-Baqarah [2]: 286). Yang penting adalah keikhlasan, bukan jumlah.
- Waspadai sifat munafik. Salah satu ciri kemunafikan adalah mencari-cari alasan untuk mencela amal kebaikan orang lain.
- Bersedekahlah dengan ikhlas. Lakukan sedekah karena Allah, bukan karena ingin dipuji atau takut dicela manusia.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.