Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengabarkan tentang dua tanda besar menjelang kiamat: hilangnya kefakiran dan keamanan jalan, sehingga orang akan kesulitan mencari penerima sedekah dan tidak ada perampokan. Namun ada peringatan keras bahwa setiap manusia akan berdiri sendirian di hadapan Allah, ditanya tentang harta dan kerasulan, lalu hanya melihat neraka di kanan-kirinya. Maka selamatkan diri kalian dari neraka meskipun dengan sedekah setengah biji kurma, atau jika tidak mampu, cukup dengan ucapan yang baik.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits: Shahih al-Bukhari, Kitab az-Zakat, Bab ash-Shadaqah Qabla ar-Radd, no. 1413, dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu. Juga diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya (no. 1016) dengan redaksi yang semakna.
Ayat Al-Qur’an yang memperkuat pesan hadits:
- Q.S. Al-Baqarah [2]: 261
﴿مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَٰلَهُمْ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنۢبُلَةٍۢ مِّا۟ئَةُ حَبَّةٍۢ ۗ وَٱللَّهُ يُضَـٰعِفُ لِمَن يَشَآءُ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ﴾
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.”
Ayat ini menerangkan besarnya pahala sedekah.
- Q.S. Al-Hadid [57]: 7
﴿ءَامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَأَنفِقُوا۟ مِمَّا جَعَلَكُم مُّسْتَخْلَفِينَ فِيهِ ۖ فَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَأَنفَقُوا۟ لَهُمْ أَجْرٌۭ كَبِيرٌۭ﴾
“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah sebagian dari apa yang Allah telah menjadikan kamu sebagai penguasanya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfakkan (hartanya) mendapat pahala yang besar.”
- Q.S. Ali ‘Imran [3]: 133-134
﴿وَسَارِعُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍۢ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَـٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ • ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَـٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ﴾
“Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Penjelasan ulama yang merujuk pada hadits ini:
- Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam _Fath al-Bari_ (Kitab az-Zakat) menjelaskan bahwa sabda Nabi “_laa yajidu man yaqbaluha_” (tidak menemukan yang menerimanya) menunjukkan bahwa pada akhir zaman harta akan melimpah ruah sehingga sedekah tidak lagi dibutuhkan. Ini adalah tanda dekatnya kiamat. Beliau juga menegaskan bahwa “_syiqqu tamrah_” (setengah biji kurma) bukanlah batas minimal nilai sedekah, melainkan anjuran untuk tidak meremehkan sedekah sekecil apa pun.
- Imam an-Nawawi dalam _Syarh Shahih Muslim_ (no. 1016) mengatakan bahwa hadits ini mengandung motivasi kuat untuk bersedekah dan berbuat baik, serta ancaman bagi orang yang lalai. Kata “_kalimah thayyibah_” mencakup dzikir, salam, amar ma’ruf, dan nasihat.
- Ibnu Rajab al-Hanbali dalam _Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam_ (syarah hadits ke-25) mengaitkan hadits ini dengan firman Allah dalam Q.S. Az-Zalzalah [99]: 7-8 tentang balasan amal sekecil zarah. Beliau menekankan bahwa sedekah dan perkataan baik adalah bentuk rasa syukur atas nikmat harta dan lisan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini bermula dari kedatangan dua orang laki-laki kepada Rasulullah ﷺ. Yang satu mengeluh tentang al-‘aylah (kemiskinan/kefakiran), dan yang lain mengeluh tentang qath’u as-sabil (perampokan/pencurian di jalan). Nabi ﷺ memberi kabar gembira sekaligus peringatan:
- Tentang perampokan: “Tidak akan berlalu waktu yang lama sehingga rombongan unta akan pergi ke Makkah tanpa penjaga.” Maksudnya, keamanan akan merata dan orang tidak takut lagi dirampok. Ini adalah salah satu tanda kiamat, sebagaimana disebut dalam hadits lain bahwa harta akan melimpah sehingga tidak ada yang mau menerima zakat.
- Tentang kemiskinan: “Kiamat tidak akan terjadi sehingga salah seorang dari kalian berjalan membawa sedekahnya, lalu tidak mendapatkan orang yang mau menerimanya.” Ini menunjukkan bahwa pada akhir zaman kefakiran lenyap, semua orang berkecukupan atau bahkan kaya raya. Namun hal ini justru menjadi ujian tersendiri karena orang kehilangan kesempatan bersedekah.
- Peringatan hisab: Setiap manusia akan berdiri sendirian di hadapan Allah. Tidak ada hijab (tabir) antara dia dan Allah, dan tidak ada penerjemah (turjuman). Allah langsung bertanya:
_“Bukankah Aku telah memberimu harta?”_ Jawab: “Ya.”
_“Bukankah Aku telah mengutus Rasul kepadamu?”_ Jawab: “Ya.”
Kemudian ia melihat ke kanan dan ke kiri, ia hanya melihat neraka. Tidak ada yang bisa menolong selain amal perbuatannya sendiri.
- Solusi yang diajarkan:
- Sedekah meski sedikit: “Selamatkanlah diri kalian dari neraka walaupun dengan setengah biji kurma.”
- Jika tidak mampu: “Maka dengan kalimah thayyibah” — yaitu ucapan yang baik. Ini mencakup tasbih, tahmid, tahlil, istighfar, salam, dan perkataan yang bermanfaat.
Penjelasan ulama tentang konsep hisab dalam hadits ini:
- Imam al-Bukhari sendiri menempatkan hadits ini dalam Bab “Sedekah Sebelum Kembali” (yaitu segera bersedekah setelah mendapatkan harta). Ini mengisyaratkan agar kita tidak menunda-nunda sedekah.
- Ibnu Hajar dalam _Fath al-Bari_ menjelaskan bahwa tidak adanya hijab dan penerjemah menunjukkan betapa jelas dan transparannya hisab. Manusia tidak bisa berbohong atau berdalih. Semua yang pernah diberikan Allah akan ditanyakan.
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika membahas Q.S. Al-Muddaththir [74]: 38-48 mengutip hadits ini sebagai penjelasan bahwa setiap jiwa tergadaikan dengan amalnya, dan tidak ada syafaat bagi orang yang lalai.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin (dalam _Syarh Riyadh ash-Shalihin_) menekankan bahwa “kalimah thayyibah” adalah sebaik-baik sedekah bagi yang tidak memiliki harta. Ini mencakup menyuruh kebaikan, mencegah kemungkaran, dan mengucapkan kata yang menyenangkan hati orang lain.
Story Telling
‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu — perawi hadits ini — adalah seorang pemimpin suku Thayyi’ yang sebelumnya penganut Nasrani. Ketika mendengar dakwah Rasulullah, ia ragu-ragu hingga akhirnya masuk Islam. Suatu hari ia duduk di sisi Nabi ﷺ, lalu datang dua pengadu. Setelah Nabi ﷺ bersabda seperti dalam hadits ini, ‘Adi bin Hatim sangat terkesan dan menyampaikannya kepada generasi setelahnya.
Diriwayatkan bahwa ‘Adi bin Hatim sangat bersungguh-sungguh dalam bersedekah walaupun dengan sepotong roti. Beliau berkata, “Aku tidak akan meninggalkan sedekah walaupun hanya dengan setengah biji kurma.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam _al-Adab al-Mufrad_ dan disebutkan oleh Ibnu Hajar dalam _Fath al-Bari_).
Hikmah: Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat antusias mengamalkan isi hadits. Mereka tidak meremehkan sedekah sedikit pun, karena tahu bahwa di hadapan Allah amal sekecil apa pun akan dihisab.
Kesimpulan Praktis
- Bersegera bersedekah ketika memiliki harta, sekecil apa pun. Jangan menunda-nunda.
- Jangan meremehkan kebaikan; setengah biji kurma pun bisa menjadi penyelamat dari neraka jika ikhlas.
- Jika tidak punya harta, perbanyaklah ucapan baik seperti dzikir, salam, nasihat, dan doa untuk saudara sesama Muslim.
- Sadarilah bahwa hisab di akhirat sangat teliti dan tidak ada yang menolong selain amal kita sendiri. Maka persiapkan diri dengan taat dan sedekah.
- Gunakan nikmat harta dan lisan untuk ketaatan, karena keduanya akan ditanyakan pada hari kiamat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.