Penjelasan Hadits Bukhari No. 1387 tentang Kain kafan sederhana dan keinginan wafat hari Senin

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan percakapan Aisyah radhiyallahu 'anha dengan ayahnya, Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu, saat Abu Bakar sakit menjelang wafatnya. Ada tiga pelajaran utama: (1) sunnah mengafani mayat dengan tiga kain putih tanpa gamis dan sorban, (2) keutamaan wafat di hari Senin karena itu hari wafatnya Nabi ﷺ, dan (3) sikap zuhud Abu Bakar yang tidak mementingkan kain kafan yang bagus, karena yang hidup lebih berhak memakai pakaian baru daripada mayat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits yang dimaksud:

حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ، حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ قَالَتْ دَخَلْتُ عَلَى أَبِي بَكْرٍ ـ رضى الله عنه ـ فَقَالَ فِي كَمْ كَفَّنْتُمُ النَّبِيَّ ﷺ قَالَتْ فِي ثَلاَثَةِ أَثْوَابٍ بِيضٍ سَحُولِيَّةٍ، لَيْسَ فِيهَا قَمِيصٌ وَلاَ عِمَامَةٌ. وَقَالَ لَهَا فِي أَىِّ يَوْمٍ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ قَالَتْ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ. قَالَ فَأَىُّ يَوْمٍ هَذَا قَالَتْ يَوْمُ الاِثْنَيْنِ. قَالَ أَرْجُو فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَ اللَّيْلِ. فَنَظَرَ إِلَى ثَوْبٍ عَلَيْهِ كَانَ يُمَرَّضُ فِيهِ، بِهِ رَدْعٌ مِنْ زَعْفَرَانٍ فَقَالَ اغْسِلُوا ثَوْبِي هَذَا، وَزِيدُوا عَلَيْهِ ثَوْبَيْنِ فَكَفِّنُونِي فِيهَا. قُلْتُ إِنَّ هَذَا خَلَقٌ. قَالَ إِنَّ الْحَىَّ أَحَقُّ بِالْجَدِيدِ مِنَ الْمَيِّتِ، إِنَّمَا هُوَ لِلْمُهْلَةِ. فَلَمْ يُتَوَفَّ حَتَّى أَمْسَى مِنْ لَيْلَةِ الثُّلاَثَاءِ وَدُفِنَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ.

Terjemahan: Aisyah berkata, "Saya masuk menemui Abu Bakar (saat sakitnya) dan ia bertanya, 'Dalam berapa kain Nabi ﷺ dikafani?' Saya menjawab, 'Dalam tiga helai kain putih dari katun, tidak ada gamis dan sorban.' Ia bertanya, 'Hari apa Nabi wafat?' Saya menjawab, 'Hari Senin.' Ia bertanya, 'Hari apa ini?' Saya menjawab, 'Hari Senin.' Ia berkata, 'Saya berharap (wafat) antara sekarang dan malam ini.' Lalu ia melihat kain yang dipakainya saat sakit, ada noda kunyit. Ia berkata, 'Cucilah kainku ini dan tambahkan dua kain lagi, kafani aku dengannya.' Aku berkata, 'Ini sudah usang.' Ia menjawab, 'Orang hidup lebih berhak memakai yang baru daripada mayat; kain kafan itu hanya untuk (menutup) kebusukan.' Ia tidak wafat hingga malam Selasa dan dimakamkan sebelum pagi." (HR. Al-Bukhari no. 1387)

Dalil pendukung tentang keutamaan hari Senin:

Rasulullah ﷺ ditanya tentang puasa hari Senin, beliau bersabda:

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ

"Hari itu adalah hari aku dilahirkan, dan hari aku diutus atau diturunkan wahyu kepadaku." (HR. Muslim dari Abu Qatadah)

Kaitan dengan ulama:

  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan hadits ini secara panjang lebar, termasuk tentang hukum mengafani dengan tiga kain dan kisah Abu Bakar yang meminta dikafani dengan kain yang ada noda kunyitnya.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa mengafani mayat dengan tiga kain adalah sunnah, dan yang afdhal adalah kain putih.
  • Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ dikafani dengan tiga kain putih sahuliyyah (katun putih dari negeri Sahul di Yaman).

Penjelasan Rinci

Pertama: Tentang Kain Kafan Nabi ﷺ

Aisyah radhiyallahu 'anha mengabarkan bahwa Nabi ﷺ dikafani dengan tiga helai kain putih sahuliyyah, tanpa gamis dan tanpa sorban. Ini adalah berita penting karena banyak orang mengira mayat harus dikafani dengan gamis, sorban, dan kain sarung seperti pakaian hidup. Padahal sunnah Nabi ﷺ adalah tiga kain yang menutup seluruh badan.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa para ulama sepakat (ijma') bahwa mengafani dengan tiga kain adalah boleh dan mencukupi. Adapun hadits-hadits yang menyebutkan tambahan gamis dan sorban untuk mayat, para ulama menjelaskan bahwa itu khusus untuk mayat yang berihram (yang meninggal saat ihram), sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas tentang sahabat yang wafat di Arafah.

Kedua: Keutamaan Wafat di Hari Senin

Abu Bakar radhiyallahu 'anhu bertanya kepada Aisyah tentang hari wafatnya Nabi ﷺ, dan ketika tahu bahwa hari itu Senin, beliau berharap wafat di hari yang sama. Ini menunjukkan keutamaan hari Senin, karena:

  1. Nabi ﷺ dilahirkan pada hari Senin
  2. Nabi ﷺ diutus (menerima wahyu pertama) pada hari Senin
  3. Nabi ﷺ wafat pada hari Senin
  4. Abu Bakar juga wafat pada hari Senin malam

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa hari Senin adalah hari yang mulia karena peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah Islam terjadi padanya.

Ketiga: Sikap Zuhud Abu Bakar

Ketika Abu Bakar melihat kainnya yang usang dan bernoda kunyit, ia meminta kain itu dicuci dan dijadikan kain kafan. Aisyah berkata, "Ini sudah usang." Abu Bakar menjawab dengan jawaban yang sangat dalam: "Orang hidup lebih berhak memakai yang baru daripada mayat; kain kafan itu hanya untuk menutup kebusukan."

Ini menunjukkan bahwa Abu Bakar tidak mementingkan kemewahan kain kafan. Yang penting adalah menutup aurat mayat dan menjaga kehormatannya. Beliau lebih memilih memberikan pakaian barunya kepada orang yang masih hidup yang lebih membutuhkan, daripada membuangnya untuk mayat yang akan hancur di dalam kubur.

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa sikap ini menunjukkan pemahaman Abu Bakar yang dalam tentang hakikat dunia. Beliau tidak tertipu oleh kemegahan dunia, bahkan di saat-saat terakhir hidupnya.

Keempat: Pelajaran tentang Kematian

Abu Bakar radhiyallahu 'anhu tidak takut menghadapi kematian. Justru beliau berharap wafat di hari Senin karena itu hari wafatnya Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa seorang mukmin yang benar tidak takut mati, karena ia tahu bahwa kematian adalah pintu menuju pertemuan dengan Allah dan kekasihnya, Rasulullah ﷺ.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu sakit menjelang wafatnya, beliau berpesan kepada Aisyah: "Wahai Aisyah, tidak ada seorang pun yang lebih aku sukai kekayaannya daripada kekayaanmu. Dan tidak ada seorang pun yang lebih berat bagiku kemiskinannya daripada kemiskinanmu."

Kemudian beliau berkata: "Sesungguhnya aku telah memberi (sedekah) dari hartaku begini dan begini. Dan sesungguhnya aku tidak ingin meninggalkan sesuatu untuk ahli waris kecuali bagian mereka. Aku ingin harta itu untuk kaum muslimin."

Aisyah berkata: "Aku tidak akan memberinya (harta warisan) kepada siapa pun setelahmu."

Abu Bakar berkata: "Kalau begitu, bagikanlah untuk kaum muslimin."

Ini menunjukkan kedermawanan dan kezuhudan Abu Bakar. Bahkan di saat-saat terakhir hidupnya, ia masih memikirkan kaum muslimin dan tidak ingin meninggalkan harta untuk keluarganya secara berlebihan. Beliau adalah teladan dalam zuhud dan tidak cinta dunia.

Kesimpulan Praktis

  1. Mengafani mayat dengan tiga kain putih adalah sunnah Nabi ﷺ dan yang paling utama. Boleh juga dengan satu kain yang menutup seluruh badan, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain.
  2. Memilih kain kafan yang sederhana dan tidak berlebihan adalah sikap yang sesuai sunnah. Yang penting adalah menutup aurat mayat dengan baik.
  3. Mengharap kematian di hari yang mulia seperti hari Senin adalah hal yang baik, selama tidak disertai rasa bosan dengan hidup atau mengharap mati karena musibah. Yang terlarang adalah mengharap mati karena kesulitan dunia.
  4. Mempersiapkan kematian dengan amal shalih adalah ciri orang beriman. Abu Bakar tidak sibuk memikirkan kain kafannya, tetapi sibuk memikirkan amal dan wasiatnya untuk kaum muslimin.
  5. Zuhud terhadap dunia adalah akhlak para sahabat. Mereka tidak mementingkan kemewahan untuk mayat, tetapi lebih mengutamakan orang hidup yang membutuhkan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?