Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma, menceritakan pertemuan Nabi ﷺ dengan Ibnu Shayyad (seorang anak yang diduga kuat sebagai Dajjal). Nabi ﷺ mengujinya dengan pertanyaan-pertanyaan, dan Ibnu Shayyad menjawab dengan jawaban yang membingungkan. Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak membunuhnya karena belum ada kejelasan, dan mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa dalam menghukumi seseorang tanpa bukti yang jelas.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini terdapat dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Jana'iz, no. 1354, diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dengan lafaz yang serupa, dari jalur Salim bin Abdullah dari Ibnu Umar.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung banyak faedah, di antaranya tentang sifat Dajjal dan cara Nabi ﷺ berinteraksi dengan orang yang diduga keras sebagai Dajjal.
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih Al-Bukhari) memberikan penjelasan panjang lebar tentang hadits ini, termasuk perbedaan pendapat ulama apakah Ibnu Shayyad benar-benar Dajjal atau bukan.
Ibnu Katsir dalam An-Nihayah fil Fitan wal Malahim membahas kisah Ibnu Shayyad ini secara khusus dan menyebutkan bahwa sebagian ulama berpendapat Ibnu Shayyad adalah Dajjal, sebagian lain berpendapat ia hanya memiliki kemiripan.
Penjelasan Rinci
Konteks Hadits
Hadits ini menceritakan dua peristiwa:
Pertama: Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu pergi bersama Nabi ﷺ dan beberapa sahabat menuju tempat Ibnu Shayyad. Ibnu Shayyad saat itu masih muda, mendekati usia baligh, sedang bermain dengan anak-anak di dekat bukit Bani Mughalah (di Madinah).
Nabi ﷺ menepuk punggungnya dan bertanya: "Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?"
Ibnu Shayyad menjawab dengan cerdik: "Aku bersaksi bahwa kamu adalah Rasul orang-orang ummi (buta huruf/arab)." Ia mengakui kenabian Nabi ﷺ untuk bangsa Arab, tetapi tidak mengakui kerasulan beliau untuk seluruh manusia.
Kemudian Ibnu Shayyad balik bertanya: "Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?"
Nabi ﷺ menolak dan berkata: "Aku beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya." — Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak mengakui kerasulan Ibnu Shayyad.
Nabi ﷺ bertanya: "Apa yang kamu lihat?"
Ibnu Shayyad menjawab: "Yang datang kepadaku adalah yang benar dan yang dusta." — Ini menunjukkan bahwa ia didatangi oleh jin atau setan yang mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan.
Nabi ﷺ berkata: "Kamu telah dicampuradukkan urusannya."
Kemudian Nabi ﷺ mengujinya dengan berkata: "Aku telah menyembunyikan sesuatu untukmu." — Nabi ﷺ menyembunyikan surat Ad-Dukhan atau sesuatu yang lain. Ibnu Shayyad menjawab: "Itu Ad-Dukh (asap)."
Nabi ﷺ berkata: "Hina engkau! Kamu tidak akan melampaui batasmu."
Umar radhiyallahu 'anhu meminta izin untuk membunuhnya, tetapi Nabi ﷺ melarang: "Jika dia benar-benar Dajjal, kamu tidak akan mampu mengalahkannya. Jika dia bukan Dajjal, tidak ada kebaikan bagimu membunuhnya."
Kedua: Nabi ﷺ bersama Ubay bin Ka'b radhiyallahu 'anhu pergi ke kebun kurma tempat Ibnu Shayyad berada. Nabi ﷺ ingin mendengar sesuatu darinya tanpa diketahui. Namun ibu Ibnu Shayyad melihat Nabi ﷺ dan memanggil anaknya: "Wahai Saf, ini Muhammad!" Ibnu Shayyad pun bangkit. Nabi ﷺ bersabda: "Seandainya dia membiarkannya, niscaya akan jelas urusannya."
Penjelasan Ulama
Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan beberapa poin penting:
- Tentang pertanyaan Nabi ﷺ kepada Ibnu Shayyad: Nabi ﷺ mengujinya untuk mengetahui hakikatnya. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak menghukumi seseorang hanya berdasarkan dugaan, tetapi melakukan tabayyun (verifikasi).
- Tentang jawaban Ibnu Shayyad: Ia mengakui Nabi ﷺ sebagai Rasul orang Arab saja, bukan Rasul seluruh manusia. Ini menunjukkan kesombongan dan kedustaan, karena kenabian Muhammad ﷺ bersifat universal.
- Tentang larangan membunuh: Nabi ﷺ melarang Umar membunuh Ibnu Shayyad karena belum ada kejelasan. Ini mengajarkan prinsip keadilan dan tidak tergesa-gesa dalam hukuman.
- Tentang "Ad-Dukh": Sebagian ulama menjelaskan bahwa Nabi ﷺ menyembunyikan surat Ad-Dukhan (QS. Ad-Dukhan [44]: 10), dan Ibnu Shayyad menebak dengan "asap" karena jin yang bersamanya memberi tahu sebagian informasi.
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menambahkan:
- Hadits ini menunjukkan bahwa Dajjal adalah manusia biasa yang memiliki keistimewaan luar biasa dari Allah sebagai ujian bagi manusia.
- Ibnu Shayyad mungkin adalah Dajjal atau mungkin bukan. Nabi ﷺ sendiri tidak memastikan.
- Sikap Nabi ﷺ yang tidak membunuhnya menunjukkan bahwa hukuman hanya boleh dilakukan dengan bukti yang jelas.
Ibnu Katsir dalam An-Nihayah fil Fitan wal Malahim menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang Ibnu Shayyad:
- Sebagian berpendapat ia adalah Dajjal yang sebenarnya.
- Sebagian berpendapat ia bukan Dajjal, tetapi memiliki kemiripan.
- Pendapat yang paling kuat menurut Ibnu Katsir: Ibnu Shayyad bukanlah Dajjal akbar, karena Dajjal akbar akan muncul di akhir zaman dan tidak akan mati sebelum itu. Ibnu Shayyad mati di zaman sahabat.
Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah dalam Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa hadits ini mengandung pelajaran tentang bagaimana setan dapat mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan pada seseorang, sehingga ia mengucapkan sebagian kebenaran dan sebagian kebatilan.
Kaitan dengan Bab Kitab Al-Jana'iz
Imam Al-Bukhari meletakkan hadits ini dalam Kitab Al-Jana'iz, bab tentang "Jika seorang anak memeluk Islam dan meninggal, apakah dia dapat disolatkan dan apakah Islam diajarkan kepada anak."
Kaitan hadits ini dengan bab tersebut:
- Hadits ini menunjukkan bahwa anak yang belum baligh (seperti Ibnu Shayyad yang mendekati baligh) belum terkena beban taklif.
- Nabi ﷺ tidak membunuh Ibnu Shayyad karena ia belum baligh dan belum ada kejelasan.
- Ini menunjukkan bahwa anak-anak memiliki kedudukan khusus dalam syariat, dan tidak dihukumi sama seperti orang dewasa.
- Dalam konteks jenazah, anak yang meninggal dalam keadaan Islam disolatkan, dan tidak perlu dipertanyakan keislamannya secara detail karena ia belum mukallaf.
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa Imam Al-Bukhari sengaja meletakkan hadits ini di bab tersebut untuk menunjukkan bahwa anak yang belum baligh tidak dihukumi berdasarkan perbuatannya, dan jika ia meninggal, ia disolatkan sebagai muslim.
Story Telling
Kisah Ibnu Shayyad dan Nabi ﷺ
Di Madinah, ada seorang anak Yahudi bernama Abdullah bin Shayyad (atau Shaf bin Shayyad). Sejak kecil, ia memiliki keanehan: ia sering didatangi oleh sesuatu yang memberitahunya sebagian kebenaran dan sebagian kedustaan. Orang-orang mulai curiga bahwa ia adalah Dajjal yang disebutkan dalam hadits-hadits Nabi ﷺ.
Suatu hari, Nabi ﷺ bersama Umar bin Al-Khaththab dan beberapa sahabat pergi menuju tempat Ibnu Shayyad. Mereka menemukannya sedang bermain dengan anak-anak di dekat bukit Bani Mughalah. Nabi ﷺ mendekatinya dan menepuk punggungnya dengan lembut, lalu bertanya:
"Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?"
Ibnu Shayyad menatap Nabi ﷺ dengan pandangan yang aneh. Ia menjawab dengan jawaban yang cerdik namun penuh tipu daya:
"Aku bersaksi bahwa kamu adalah Rasul orang-orang ummi."
Ia mengakui kenabian Nabi ﷺ untuk bangsa Arab, tetapi tidak mengakui kerasulan beliau untuk seluruh manusia. Ini adalah jawaban yang menunjukkan kesombongan dan kedustaan.
Kemudian Ibnu Shayyad balik bertanya:
"Apakah kamu bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?"
Nabi ﷺ dengan tegas menolak dan berkata:
"Aku beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya."
Nabi ﷺ tidak mengakui kerasulan Ibnu Shayyad, karena kenabian telah berakhir dan tidak ada nabi setelah Muhammad ﷺ.
Nabi ﷺ bertanya lagi:
"Apa yang kamu lihat?"
Ibnu Shayyad menjawab:
"Yang datang kepadaku adalah yang benar dan yang dusta."
Ia mengaku didatangi oleh sesuatu yang memberitahunya kebenaran dan kebatilan bercampur. Ini adalah ciri khas orang yang diganggu jin atau setan.
Nabi ﷺ berkata:
"Kamu telah dicampuradukkan urusannya."
Kemudian Nabi ﷺ mengujinya dengan berkata:
"Aku telah menyembunyikan sesuatu untukmu."
Nabi ﷺ menyembunyikan surat Ad-Dukhan dalam hatinya. Ibnu Shayyad menjawab:
"Itu Ad-Dukh (asap)."
Nabi ﷺ berkata:
"Hina engkau! Kamu tidak akan melampaui batasmu."
Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, yang melihat semua ini, tidak dapat menahan emosinya. Ia berkata:
"Wahai Rasulullah, izinkan aku memenggal lehernya!"
Nabi ﷺ dengan tenang menjawab:
"Jika dia benar-benar Dajjal, kamu tidak akan mampu mengalahkannya. Jika dia bukan Dajjal, tidak ada kebaikan bagimu membunuhnya."
Nabi ﷺ tidak membunuhnya karena belum ada kejelasan. Ini adalah pelajaran tentang keadilan dan tidak tergesa-gesa dalam menghukumi seseorang.
Beberapa waktu kemudian, Nabi ﷺ bersama Ubay bin Ka'b radhiyallahu 'anhu pergi ke kebun kurma tempat Ibnu Shayyad berada. Nabi ﷺ ingin mendengar sesuatu darinya tanpa diketahui. Namun, ibu Ibnu Shayyad melihat Nabi ﷺ yang bersembunyi di balik batang pohon kurma. Ia memanggil anaknya:
"Wahai Saf, ini Muhammad!"
Ibnu Shayyad pun bangkit dari tidurnya. Nabi ﷺ bersabda:
"Seandainya dia membiarkannya, niscaya akan jelas urusannya."
Hikmah dari kisah ini:
- Tabayyun (verifikasi): Nabi ﷺ tidak menghukumi seseorang hanya berdasarkan dugaan, tetapi melakukan ujian dan verifikasi.
- Keadilan: Nabi ﷺ melarang membunuh seseorang tanpa bukti yang jelas.
- Kesabaran: Nabi ﷺ tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan.
- Bahaya setan: Setan dapat mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan pada seseorang, sehingga ia mengucapkan sebagian kebenaran dan sebagian kebatilan.
- Keterbatasan ilmu manusia: Nabi ﷺ sendiri tidak memastikan apakah Ibnu Shayyad adalah Dajjal atau bukan, karena itu adalah perkara ghaib.
Kesimpulan Praktis
- Jangan tergesa-gesa menghukumi seseorang hanya berdasarkan dugaan atau prasangka. Lakukan tabayyun (verifikasi) terlebih dahulu, sebagaimana Nabi ﷺ menguji Ibnu Shayyad.
- Hukuman hanya boleh dijatuhkan dengan bukti yang jelas. Nabi ﷺ melarang Umar membunuh Ibnu Shayyad karena belum ada kejelasan. Ini adalah prinsip keadilan dalam Islam.
- Anak yang belum baligh tidak dihukumi berdasarkan perbuatannya. Ini adalah prinsip penting dalam fiqih jinayah (hukum pidana Islam) dan menjadi dasar mengapa Imam Al-Bukhari meletakkan hadits ini dalam Kitab Al-Jana'iz.
- Berhati-hatilah terhadap fitnah Dajjal. Dajjal adalah ujian terbesar bagi umat manusia. Kita harus memperkuat iman dan ilmu untuk menghadapinya.
- Tidak semua yang memiliki keanehan adalah Dajjal. Ibnu Shayyad memiliki keanehan, tetapi Nabi ﷺ tidak memastikan ia adalah Dajjal. Kita harus berhati-hati dalam menuduh seseorang sebagai Dajjal.
- Doa dan perlindungan dari fitnah Dajjal. Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk berlindung dari fitnah Dajjal dalam shalat, sebagaimana dalam hadits: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Dajjal."
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.