Penjelasan Hadits Bukhari No. 125 tentang Pengetahuan tentang ruh hanya sedikit diberikan kepada manusia

Tentu, berikut penjelasan hadits tersebut sesuai format dan aturan yang telah ditetapkan.

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab mulia Nabi ﷺ dalam menerima wahyu dan menjawab pertanyaan. Ketika ditanya tentang hakikat ruh, beliau tidak menjawab dengan spekulasi, melainkan menunggu wahyu turun, lalu menjelaskan bahwa ilmu manusia tentang ruh sangatlah sedikit. Ini menegaskan bahwa ruh adalah urusan Allah yang pengetahuan detailnya hanya ada pada-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Ilmu, Bab Firman Allah: "Dan tidaklah kamu diberi ilmu kecuali sedikit." Sanadnya: Qais bin Hafsh → Abdul Wahid → Al-A'masy (Sulaiman) → Ibrahim → Alqamah → Abdullah bin Mas'ud.

Ayat yang menjadi inti jawaban Nabi ﷺ adalah:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ ۖ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

QS. Al-Isra' [17]: 85

Terjemahan: "Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah: 'Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.'"

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini turun sebagai jawaban atas pertanyaan orang Yahudi tentang ruh. Beliau menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang makna "ruh" di sini—ada yang mengatakan itu adalah ruh manusia, ada yang mengatakan itu adalah malaikat Jibril, dan ada yang mengatakan itu adalah makhluk agung dari makhluk Allah. Namun, intinya adalah bahwa pengetahuan tentang hakikat ruh diserahkan kepada Allah, dan manusia hanya diberi sedikit ilmu.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak menjawab pertanyaan tersebut sampai wahyu turun, dan ini adalah bukti bahwa beliau tidak berbicara tentang agama berdasarkan hawa nafsu. Beliau juga menyebutkan bahwa dalam hadits ini terdapat pelajaran tentang adab menuntut ilmu, yaitu tidak tergesa-gesa dalam menjawab dan menunggu penjelasan yang benar.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

Pertama: Adab Nabi ﷺ dalam menerima wahyu. Ketika ditanya tentang ruh, Nabi ﷺ diam. Abdullah bin Mas'ud menyangka beliau sedang menerima wahyu. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak menjawab dengan akal atau perkiraan, tetapi menunggu petunjuk dari Allah. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (meskipun hadits ini dari Bukhari, beliau juga membahasnya) menegaskan bahwa diamnya Nabi ﷺ adalah bentuk tawadhu dan penyerahan total kepada Allah.

Kedua: Ilmu manusia sangat terbatas. Ayat yang dibacakan Nabi ﷺ menegaskan bahwa manusia hanya diberi sedikit ilmu. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa bahkan para nabi dan malaikat pun tidak mengetahui hakikat ruh secara detail. Ini mengajarkan kita untuk tidak sombong dengan ilmu yang kita miliki.

Ketiga: Perbedaan pendapat tentang makna ruh. Ibnu Katsir menyebutkan beberapa pendapat: (1) ruh adalah ruh manusia yang menjadi nyawa, (2) ruh adalah Jibril, (3) ruh adalah makhluk agung. Namun, beliau menguatkan bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah ruh manusia, karena konteksnya adalah pertanyaan orang Yahudi tentang hakikat nyawa. Imam As-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa jawaban "ruh itu dari amr Rabbi" berarti ruh adalah urusan Allah yang tidak dapat dijangkau oleh akal manusia secara sempurna.

Keempat: Sikap orang Yahudi. Hadits ini juga menggambarkan keraguan orang Yahudi: sebagian ingin bertanya, sebagian khawatir jawabannya tidak menyenangkan. Ini menunjukkan bahwa mereka tidak mencari kebenaran, tetapi hanya ingin menguji Nabi ﷺ. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa ini adalah karakter ahli kitab yang sering mendebat tanpa ilmu.

Kelima: Pelajaran bagi penuntut ilmu. Imam Al-Bukhari meletakkan hadits ini dalam Kitab Ilmu, bab tentang firman Allah "dan tidaklah kamu diberi ilmu kecuali sedikit." Ini menunjukkan bahwa seorang penuntut ilmu harus menyadari keterbatasannya dan tidak memaksakan diri untuk mengetahui hal-hal yang hanya Allah yang tahu.

Story Telling

Dikisahkan oleh Abdullah bin Mas'ud, seorang sahabat mulia yang selalu dekat dengan Nabi ﷺ. Suatu hari, beliau berjalan bersama Nabi ﷺ di reruntuhan Madinah. Nabi ﷺ bersandar pada pelepah daun kurma. Beberapa orang Yahudi melihat beliau dan mulai berbisik: "Tanyakan kepadanya tentang ruh." Sebagian dari mereka ragu, takut jawabannya justru membongkar kebatilan mereka. Namun, salah seorang dari mereka maju dan bertanya, "Wahai Abul-Qasim, apa itu ruh?" Nabi ﷺ diam. Abdullah bin Mas'ud berkata, "Aku tahu beliau sedang menerima wahyu." Setelah wahyu selesai, Nabi ﷺ membacakan ayat: "Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi ilmu melainkan sedikit." (HR. Bukhari)

Hikmahnya: Nabi ﷺ tidak menjawab dengan spekulasi, tetapi menunggu wahyu. Ini mengajarkan kita untuk selalu merujuk kepada Al-Qur'an dan Sunnah dalam masalah agama, dan tidak berbicara tanpa ilmu. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menyebutkan bahwa diamnya Nabi ﷺ adalah bentuk pengagungan terhadap wahyu dan penyerahan kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Sadari keterbatasan ilmu. Manusia hanya diberi sedikit ilmu; jangan sombong dengan apa yang kita ketahui.
  2. Tidak menjawab agama dengan spekulasi. Dalam masalah ghaib seperti ruh, kita harus merujuk kepada Al-Qur'an dan Sunnah, bukan akal semata.
  3. Adab menuntut ilmu. Diam dan menunggu penjelasan yang benar lebih baik daripada berbicara tanpa dasar.
  4. Fokus pada yang bermanfaat. Ibnu Katsir menyebutkan bahwa para salaf tidak banyak membahas hakikat ruh karena itu bukanlah perkara yang diperintahkan untuk dikaji secara detail.
  5. Berdoa untuk ilmu yang bermanfaat. Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?