Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 1229 tentang Sujud sahwi karena lupa jumlah rakaat shalat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan tentang Nabi ﷺ yang lupa jumlah rakaat dalam shalat, yaitu beliau shalat dua rakaat padahal shalatnya empat rakaat. Setelah ditegur oleh sahabat yang bernama Dzul Yadain, beliau menyempurnakan shalatnya dengan dua rakaat lagi, lalu salam, kemudian melakukan sujud sahwi dua kali dengan takbir di setiap perpindahan. Hadits ini menunjukkan bahwa sujud sahwi dilakukan setelah salam apabila shalatnya bertambah atau berkurang karena lupa, dan di dalamnya terdapat takbir ketika turun dan bangun dari sujud sahwi.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab As-Sahwi (Lupa dalam Shalat), Bab "Siapa yang Takbir dalam Dua Sujud Sahwi", no. 1229, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

"Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman."

(QS. An-Nisa' [4]: 103)

Ayat ini menunjukkan bahwa shalat adalah ibadah yang telah diatur waktunya dan tata caranya oleh Allah, termasuk ketika terjadi kekeliruan di dalamnya, maka ada ketentuan syariat yang mengatur, yaitu sujud sahwi.

Kaitan dengan Ulama:

Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in seperti Al-Hasan Al-Bashri, Muhammad bin Sirin, dan para imam madzhab seperti Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dasar disyariatkannya sujud sahwi dengan dua sujud, dan di dalamnya terdapat takbir ketika turun dan bangun dari sujud.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu hadits terpenting dalam bab sujud sahwi. Mari kita pahami poin-poin pentingnya:

1. Kejadian Lupa yang Dialami Nabi ﷺ

Nabi ﷺ shalat (yang menurut riwayat Muhammad bin Sirin lebih cenderung shalat Ashar) hanya dua rakaat, kemudian beliau salam. Para sahabat yang hadir, termasuk Abu Bakar dan Umar, tidak berani menegur beliau karena rasa hormat yang sangat besar. Namun ada seorang sahabat yang dipanggil oleh Nabi ﷺ dengan julukan "Dzul Yadain" (yang memiliki dua tangan), ia berani bertanya: "Apakah engkau lupa wahai Rasulullah, ataukah shalat memang dipendekkan?"

2. Jawaban Nabi ﷺ dan Tindakan Beliau

Nabi ﷺ menjawab dengan tegas: "Aku tidak lupa dan shalat tidak dipendekkan." Namun Dzul Yadain meyakinkan: "Sungguh, engkau telah lupa." Maka Nabi ﷺ pun menyempurnakan shalatnya dengan dua rakaat lagi, kemudian salam, lalu melakukan sujud sahwi dua kali.

3. Hikmah dari Hadits Ini

Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Zad Al-Ma'ad menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan beberapa hal:

  • Sujud sahwi dilakukan setelah salam apabila shalatnya berkurang (kurang rakaat). Ini adalah pendapat yang kuat di kalangan ulama, karena Nabi ﷺ melakukan sujud sahwi setelah salam ketika beliau shalat dua rakaat (kurang dari seharusnya).
  • Terdapat takbir dalam sujud sahwi, baik ketika turun maupun ketika bangun dari sujud. Ini sebagaimana takbir dalam sujud biasa.
  • Sujud sahwi adalah dua sujud, sebagaimana sujud dalam shalat, dan di antara keduanya ada duduk.

4. Pendapat Ulama tentang Posisi Sujud Sahwi

Para ulama berbeda pendapat mengenai kapan sujud sahwi dilakukan:

  • Pendapat pertama: Sujud sahwi dilakukan setelah salam dalam semua kasus lupa. Ini adalah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal dalam salah satu riwayat, dan dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Dalilnya adalah hadits ini dan hadits-hadits lain yang menunjukkan Nabi ﷺ sujud setelah salam.
  • Pendapat kedua: Sujud sahwi dilakukan sebelum salam dalam semua kasus. Ini adalah pendapat Imam Asy-Syafi'i dalam pendapat yang masyhur.
  • Pendapat ketiga: Dirinci, yaitu: jika shalatnya kurang (seperti dalam hadits ini), maka sujud sahwi setelah salam. Jika shalatnya lebih (seperti dalam hadits riwayat lain tentang shalat lima rakaat), maka sujud sahwi setelah salam juga. Namun jika ragu-ragu, maka sujud sebelum salam. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya Ibnul Qayyim, serta dikuatkan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin.

Syaikh Al-Utsaimin dalam Asy-Syarh Al-Mumti' menjelaskan bahwa pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang merinci, karena setiap kasus memiliki dalil tersendiri dari perbuatan Nabi ﷺ.

5. Pelajaran Adab dari Hadits Ini

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fath Al-Bari menyebutkan bahwa hadits ini juga mengajarkan adab yang mulia:

  • Para sahabat tidak berani menegur Nabi ﷺ karena adab dan rasa hormat yang tinggi, namun mereka tetap peduli dengan kebenaran shalat.
  • Ketika ada yang menegur dengan cara yang baik dan sopan, Nabi ﷺ menerima teguran tersebut dengan lapang dada dan tidak marah.
  • Ini menunjukkan bahwa menegur kesalahan dengan cara yang baik adalah sesuatu yang dibenarkan dalam Islam.

Story Telling

Ada kisah indah tentang ketelitian para ulama dalam masalah sujud sahwi ini. Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang seseorang yang lupa dalam shalatnya. Beliau menjawab dengan sangat teliti dan memberikan rincian berdasarkan hadits-hadits Nabi ﷺ. Ketika murid-muridnya melihat ketelitian beliau, mereka terkagum-kagum. Imam Ahmad berkata: "Ilmu ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambil agama kalian."

Kisah ini menunjukkan bahwa masalah lupa dalam shalat bukanlah hal yang sepele. Para ulama sangat memperhatikan detail-detail ibadah ini, karena shalat adalah tiang agama dan amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat.

Kesimpulan Praktis

Berikut poin-poin yang bisa kita amalkan dari hadits ini:

  1. Jika kita lupa jumlah rakaat dalam shalat, maka kita harus menyempurnakan shalat tersebut berdasarkan keyakinan yang paling kuat, kemudian melakukan sujud sahwi.
  2. Sujud sahwi dilakukan dua kali dengan takbir di setiap perpindahan, sebagaimana sujud biasa.
  3. Jika shalat kurang rakaatnya, maka sujud sahwi dilakukan setelah salam, sebagaimana yang dilakukan Nabi ﷺ dalam hadits ini.
  4. Jangan malu untuk bertanya atau mengingatkan apabila melihat kesalahan dalam ibadah, selama dilakukan dengan cara yang baik dan sopan.
  5. Terimalah teguran dengan lapang dada, sebagaimana Nabi ﷺ menerima teguran Dzul Yadain dengan tenang dan langsung memperbaiki shalatnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.