Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 122 tentang Kisah Nabi Musa mencari ulama yang lebih berilmu

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang adab seorang penuntut ilmu: jangan pernah merasa paling berilmu, karena ilmu Allah itu sangat luas dan tidak terbatas. Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir menunjukkan bahwa ada ilmu yang Allah berikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya yang tidak diketahui oleh nabi sekalipun. Pelajaran utamanya adalah tawadhu' (rendah hati) dalam menuntut ilmu dan bersabar dalam proses belajar.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Al-'Ilm (Kitab Ilmu), Bab: "Bab Apa yang Disukai bagi Seorang Ulama Jika Ditanya Siapa yang Paling Berilmu", nomor 122. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Fadha'il, dari sahabat Ubay bin Ka'ab radhiyallahu 'anhu.

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

QS. Al-Kahfi [18]: 60-82 menceritakan kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir secara lebih lengkap. Di antaranya firman Allah:

وَقَالَ مُوسَىٰ لِفَتَىٰهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: 'Aku tidak akan berhenti (berjalan) sampai aku sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.'" (QS. Al-Kahfi [18]: 60)

Dan firman Allah tentang ilmu-Nya yang luas:

وَلَوْ أَنَّمَا فِي الْأَرْضِ مِن شَجَرَةٍ أَقْلَامٌ وَالْبَحْرُ يَمُدُّهُ مِن بَعْدِهِ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمَاتُ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

"Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Luqman [31]: 27)

Penjelasan Ulama:

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya seorang ulama ditanya tentang siapa yang paling berilmu, dan jawabannya haruslah dengan tawadhu' serta mengembalikan ilmu kepada Allah. Beliau juga menukil perkataan Imam Al-Bukhari bahwa bab ini mengajarkan adab bagi ulama agar tidak mengklaim dirinya paling berilmu.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

1. Larangan Merasa Paling Berilmu

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa ketika Nabi Musa ditanya "Siapa yang paling berilmu?" beliau menjawab "Aku yang paling berilmu." Jawaban ini bukanlah bentuk kesombongan, tetapi karena saat itu beliau adalah nabi yang paling berilmu di kalangan Bani Israel. Namun Allah menegurnya karena beliau tidak mengembalikan ilmu kepada Allah, yaitu seharusnya beliau menjawab "Allah yang lebih mengetahui" atau "Ilmu itu di sisi Allah."

2. Luasnya Ilmu Allah

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir menunjukkan bahwa ilmu Allah itu sangat luas. Perumpamaan Nabi Khidir tentang burung pipit yang mencelupkan paruhnya ke laut menunjukkan bahwa ilmu seluruh makhluk dibandingkan ilmu Allah hanyalah seperti setetes air di paruh burung dibandingkan lautan yang luas.

3. Adab Murid Terhadap Guru

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa sikap Nabi Musa yang berkata, "Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku sebagian ilmu yang telah diajarkan kepadamu?" menunjukkan adab seorang murid: meminta izin dengan sopan, merendahkan diri, dan menyebut "sebagian ilmu" bukan "semua ilmu."

4. Kesabaran dalam Menuntut Ilmu

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin juga menjelaskan bahwa Nabi Musa diperintahkan untuk bersabar, dan Allah menguji kesabarannya dengan tiga peristiwa yang sulit diterima akal. Ini menunjukkan bahwa menuntut ilmu membutuhkan kesabaran yang besar, terutama ketika melihat hal-hal yang belum kita pahami hikmahnya.

5. Ilmu Laduni (Ilmu Khusus dari Allah)

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa Nabi Khidir memiliki ilmu khusus yang Allah berikan kepadanya tanpa melalui perantara, yang tidak diketahui oleh Nabi Musa. Sedangkan Nabi Musa memiliki ilmu syariat yang juga tidak diketahui oleh Nabi Khidir. Ini menunjukkan bahwa tidak ada satu orang pun yang menguasai seluruh ilmu.

Story Telling

Dari hadits ini, kita belajar tentang kerendahan hati Nabi Musa 'alaihissalam. Beliau adalah seorang nabi yang mulia, berbicara langsung dengan Allah, dan menerima kitab Taurat. Namun ketika Allah memberitahukan bahwa ada hamba-Nya yang lebih berilmu darinya, Nabi Musa tidak merasa malu atau sombong. Beliau langsung bertanya, "Bagaimana aku bisa bertemu dengannya?" Kemudian beliau berjalan jauh, membawa ikan dalam keranjang, dan bersabar dalam perjalanan yang melelahkan.

Ketika akhirnya bertemu dengan Nabi Khidir, Nabi Musa merendahkan diri dan meminta izin untuk belajar. Beliau bahkan berjanji akan bersabar dan tidak membantah. Namun ujian demi ujian datang, dan Nabi Musa tidak mampu bersabar. Nabi Muhammad ﷺ bersabda tentang hal ini: "Semoga Allah merahmati Musa! Seandainya dia bersabar hingga kami mendengar lebih banyak tentang kisah mereka." Ini menunjukkan bahwa kesabaran dalam menuntut ilmu adalah kunci keberhasilan.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan pernah merasa paling berilmu - selalu kembalikan ilmu kepada Allah dan akui keterbatasan diri.
  2. Bersikap tawadhu' (rendah hati) - bahkan Nabi Musa yang mulia pun merendahkan diri untuk belajar kepada Nabi Khidir.
  3. Bersabar dalam menuntut ilmu - jangan mudah bosan atau marah ketika belum memahami hikmah dari suatu pelajaran.
  4. Menghormati guru - mintalah izin dengan sopan, jangan membantah dengan keras, dan bersabarlah terhadap cara mengajar guru.
  5. Sadari bahwa ilmu itu luas - apa yang kita ketahui hanyalah setetes air dibandingkan lautan ilmu Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.