Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 1206 tentang Menjawab panggilan ibu saat shalat lebih utama

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan tentang Juraij, seorang ahli ibadah Bani Israil, yang lebih memilih melanjutkan shalatnya daripada menjawab panggilan ibunya. Karena sikapnya itu, ibunya mendoakan agar ia diuji. Ujian itu datang berupa fitnah keji dari seorang wanita penggembala yang menuduh Juraij sebagai ayah dari anaknya. Namun, atas izin Allah, bayi yang masih dalam buaian berbicara dan membebaskan Juraij dari fitnah tersebut. Hadits ini mengajarkan kita tentang keutamaan berbakti kepada orang tua, adab dalam shalat, dan pertolongan Allah bagi hamba-Nya yang ikhlas.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Al-Bukhari

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Amalan dalam Shalat, Bab "Jika Ibu Memanggil Anaknya dalam Shalat" (no. 1206), dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an tentang Berbakti kepada Orang Tua:

Allah Ta'ala berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah kamu membentak mereka, dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." (QS. Al-Isra' [17]: 23)

Penjelasan Ulama:

  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya memutus shalat (yang sunnah) karena memenuhi panggilan orang tua, dan ini adalah pendapat yang lebih kuat. Namun, jika shalat wajib, maka tidak boleh diputus kecuali dalam keadaan darurat.
  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai apakah Juraij meninggalkan shalatnya atau tidak. Pendapat yang masyhur, ia tidak meninggalkan shalatnya karena ia sedang dalam shalat sunnah, namun ia berdoa kepada Allah agar diberikan kemudahan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua

Para ulama menjelaskan bahwa doa ibu Juraij yang mustajab menunjukkan betapa agungnya hak seorang ibu. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami'ul 'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa doa orang tua adalah salah satu doa yang mustajab, terutama doa ibu. Karena itu, seorang anak wajib mendahulukan keridhaan orang tua dalam perkara yang tidak bertentangan dengan perintah Allah.

2. Adab dalam Shalat

Para ulama berbeda pendapat mengenai sikap Juraij yang tidak menjawab panggilan ibunya:

  • Pendapat pertama (Imam Al-Bukhari dan mayoritas ulama): Juraij tidak menjawab karena ia sedang dalam shalat sunnah, dan ia memilih menyempurnakan shalatnya. Namun, ini menunjukkan bahwa memutus shalat sunnah untuk memenuhi panggilan orang tua adalah lebih utama. Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam bab "Jika Ibu Memanggil Anaknya dalam Shalat" untuk menunjukkan bahwa memenuhi panggilan ibu lebih utama daripada melanjutkan shalat sunnah.
  • Pendapat kedua: Juraij tidak menjawab karena ia sedang dalam shalat wajib, dan ia berpegang pada keumuman dalil bahwa tidak boleh berbicara dalam shalat. Namun, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa jika orang tua memanggil dalam keadaan shalat sunnah, maka menjawab panggilan mereka lebih utama. Adapun dalam shalat wajib, jika panggilan itu bersifat mendesak dan dikhawatirkan terjadi kemudharatan, maka boleh memutus shalat.

3. Pertolongan Allah bagi Hamba yang Ikhlas

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kisah ini menunjukkan bahwa Allah senantiasa menolong hamba-Nya yang ikhlas dan bertakwa. Juraij difitnah dengan tuduhan yang sangat keji, namun Allah membebaskannya dengan cara yang luar biasa—bayi yang masih kecil berbicara. Ini adalah mukjizat yang menunjukkan kekuasaan Allah.

4. Kisah Bayi yang Berbicara

Para ulama menyebutkan bahwa bayi yang berbicara dalam buaian termasuk salah satu dari tiga bayi yang berbicara dalam riwayat lain. Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menyebutkan bahwa ini adalah salah satu bukti kekuasaan Allah yang tidak terbatas.

Story Telling

Kisah ini adalah kisah nyata dari umat terdahulu yang diabadikan oleh Rasulullah ﷺ. Bayangkanlah seorang pemuda bernama Juraij yang sangat tekun beribadah. Ia tinggal di sebuah tempat ibadah (صومعة) yang terpencil, jauh dari keramaian. Setiap harinya ia habiskan untuk shalat, berdzikir, dan merenungkan kebesaran Allah.

Suatu hari, ibunya yang sudah lanjut usia datang memanggilnya. "Wahai Juraij!" panggilnya. Juraij yang sedang khusyuk dalam shalatnya hanya bisa berdoa dalam hati, "Ya Allah, ibuku memanggilku dan aku sedang shalat." Ia tidak menjawab karena ingin menyempurnakan shalatnya. Ibunya memanggil lagi, dan Juraij tetap dalam shalatnya. Sampai tiga kali, ibunya memanggil dan Juraij tidak menjawab.

Karena merasa sakit hati, ibunya berdoa, "Ya Allah, janganlah Juraij mati sampai ia melihat wajah para pelacur." Doa ini bukanlah doa kebinasaan, tetapi doa agar Juraij diuji dengan fitnah yang berat.

Tidak lama kemudian, seorang wanita penggembala yang biasa singgah di dekat tempat ibadah Juraij melahirkan anak di luar nikah. Ketika ditanya siapa ayahnya, wanita itu berbohong dan menuduh Juraij. Maka datanglah orang-orang untuk menghukum Juraij. Namun, Juraij tetap tenang. Ia meminta anak bayi itu dibawa kepadanya, lalu bertanya, "Wahai bayi, siapa ayahmu?" Maka atas izin Allah, bayi yang masih kecil itu menjawab, "Penggembala." Maka terbebaslah Juraij dari fitnah tersebut.

Hikmah dari kisah ini: Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang ikhlas. Ujian yang menimpa Juraij justru mengangkat derajatnya. Namun, kita juga harus belajar dari kesalahan Juraij—ia seharusnya tetap memenuhi panggilan ibunya, karena ridha Allah ada pada ridha orang tua.

Kesimpulan Praktis

  1. Dahulukan berbakti kepada orang tua dalam perkara yang tidak bertentangan dengan syariat. Jika orang tua memanggil saat kita shalat sunnah, lebih utama memenuhi panggilan mereka.
  2. Jaga keikhlasan dalam beribadah—karena Allah akan menolong hamba-Nya yang ikhlas, sebagaimana Ia menolong Juraij.
  3. Jangan meremehkan doa orang tua, baik doa kebaikan maupun doa keburukan. Karena itu, berhati-hatilah dalam bersikap kepada mereka.
  4. Jika diuji dengan fitnah, bersabarlah dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah akan membuktikan kebenaran hamba-Nya yang jujur dan ikhlas.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Hadits.id gratis

Bantu penjelasan AI tetap berjalan

Baca kalimat awal di atas. Lanjutkan dengan donasi seikhlasnya, atau nanti saja.

Donasi