Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 117 tentang Mengamati shalat malam Nabi di rumah Maimunah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab mencari ilmu dengan bertanya kepada ahlinya, tata cara shalat malam Nabi ﷺ, serta posisi makmum—jika sendirian, berdiri di sebelah kanan imam. Kisah Ibnu ‘Abbas yang bermalam di rumah Maimunah menunjukkan semangatnya dalam menuntut ilmu dan praktek shalat malam yang ringan dan tidak berlebihan. Hadits ini juga menegaskan bahwa shalat sunnah malam dikerjakan secara berpasangan (dua rakaat) dengan witir sebagai penutup.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur’an terkait:

QS. Al-Muzzammil [73]: 20

(فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ ۚ)

“Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an.”

Ayat ini mendorong shalat malam tanpa memberatkan, sesuai contoh Nabi ﷺ dalam hadits.

QS. Al-Isra’ [17]: 79

(وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ ۖ)

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu.”

Hadits:

Shahih Al-Bukhari, Kitab Ilmu, Bab Sumar dengan Ilmu, no. 117.

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma.

Kaitan dengan ulama:

Imam Al-Bukhari menempatkan hadits ini dalam “Bab Sumar dengan Ilmu” untuk menunjukkan bolehnya bercerita atau bertukar ilmu pada malam hari, selama masih dalam adab dan tidak mengganggu ibadah.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Ibnu ‘Abbas sengaja bermalam di rumah Maimunah untuk mengamati shalat malam Nabi ﷺ, karena ia masih kecil dan ingin mencontoh langsung.

Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa posisi makmum sendirian adalah di sebelah kanan imam, sebagaimana dipraktikkan dalam hadits ini.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

  1. Semangat menuntut ilmu

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang saat itu masih muda (pra-remaja) rela bermalam di rumah bibinya untuk mengamati dan belajar langsung dari Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa mencari ilmu harus dengan usaha, kesabaran, dan adab yang baik. Al-Hasan al-Bashri berkata, “Ilmu itu diraih dengan menghadiri majelis, bertanya, dan merenungkan.”

  1. Posisi makmum sendirian

Ketika Ibnu ‘Abbas berdiri di sebelah kiri Nabi ﷺ untuk shalat, beliau memindahkannya ke sebelah kanan. Ini menunjukkan bahwa jika hanya satu orang makmum (laki-laki), ia berdiri di sebelah kanan imam, sejajar atau sedikit di belakang. Pendapat ini disepakati oleh jumhur ulama, termasuk Imam Syafi’i, Imam Ahmad, dan lainnya.

  1. Tata cara shalat malam

Nabi ﷺ mengerjakan shalat malam dengan rakaat yang masing-masing dua rakaat, lalu ditutup dengan witir (satu rakaat). Dalam riwayat lain, beliau witir dengan tiga, lima, atau tujuh rakaat.

  • Beliau shalat empat rakaat setelah Isya (dua rakaat-dua rakaat).
  • Kemudian tidur sejenak, lalu bangun untuk shalat malam.
  • Setelah itu, beliau shalat lima rakaat (mungkin dua rakaat + dua rakaat + witir satu).
  • Lalu dua rakaat lagi (mungkin shalat sunnah fajar).

Semua dikerjakan dengan tenang, tidak tergesa-gesa, dan tidak memberatkan.

  1. Adab bertanya dan memperhatikan

Ibnu ‘Abbas tidak langsung bertanya, tetapi diam mengamati agar tidak mengganggu ibadah Nabi ﷺ. Setelah selesai, barulah ia bertanya. Ini pelajaran: hendaknya kita mencari ilmu dengan cara yang sopan dan pada waktu yang tepat.

  1. Shalat malam tidak dilarang setelah Isya meskipun tidur

Nabi ﷺ tidur di antara shalat Isya dan shalat malam, lalu bangun untuk shalat. Ini menunjukkan bahwa shalat malam tidak harus langsung dilakukan setelah Isya; boleh tidur sejenak untuk menyegarkan badan.

Story Telling

Kisah Ibnu ‘Abbas dan Maimunah

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Aku bermalam di rumah bibiku Maimunah istri Nabi ﷺ. Aku berbaring di ujung tempat tidur, sementara Nabi ﷺ dan Maimunah tidur di sisi lain. Setelah Isya, Nabi ﷺ shalat empat rakaat, lalu tidur hingga tengah malam. Kemudian beliau bangun, melihat ke arah langit, lalu membaca ayat ‘Inna fi khalqis samawati wal ardi…’ (QS. Ali Imran [3]: 190). Setelah itu, beliau berwudhu dan shalat. Aku ikut berdiri di sebelah kirinya, tetapi beliau memegang kepalaku dan memindahkanku ke sebelah kanan.”

Hikmah:

Ibnu ‘Abbas sejak kecil sudah haus ilmu. Ia rela berjaga malam hanya untuk melihat bagaimana Nabi ﷺ beribadah. Dari sini, para salaf sangat perhatian dalam menuntut ilmu langsung dari ahlinya. Sufyan ats-Tsauri berkata, “Ilmu itu didapat dengan mendatangi ulama, bukan dengan mendoa saja.”

Kesimpulan Praktis

  1. Semangatlah mencari ilmu dengan cara yang benar: datang, perhatikan, dan bertanyalah dengan adab.
  2. Jika shalat berjamaah hanya dua orang, makmum berdiri di sebelah kanan imam, sedikit ke belakang.
  3. Shalat malam dikerjakan dua rakaat-dua rakaat, lalu witir sebagai penutup.
  4. Boleh tidur di antara shalat Isya dan shalat malam untuk menyegarkan badan.
  5. Tidak boleh meremehkan shalat malam, namun juga tidak boleh memberatkan diri secara berlebihan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.