Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa menulis ilmu adalah amalan yang terpuji dan telah dilakukan oleh para sahabat. Abdullah bin Amr rajin menulis hadits, sementara Abu Hurairah lebih mengandalkan hafalan yang kuat. Keduanya sama-sama mulia, dan hadits ini menjadi dalil dibolehkannya menulis ilmu, khususnya hadits.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat:
- Perawi: Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu
- Kitab: Shahih Al-Bukhari, Kitab Ilmu, Bab Menulis Ilmu, no. 113
Teks Hadits:
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، قَالَ حَدَّثَنَا عَمْرٌو، قَالَ أَخْبَرَنِي وَهْبُ بْنُ مُنَبِّهٍ، عَنْ أَخِيهِ، قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ، يَقُولُ مَا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ أَحَدٌ أَكْثَرَ حَدِيثًا عَنْهُ مِنِّي، إِلاَّ مَا كَانَ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو فَإِنَّهُ كَانَ يَكْتُبُ وَلاَ أَكْتُبُ
Terjemahan:
"Tidak ada seorang pun di antara sahabat Nabi ﷺ yang lebih banyak meriwayatkan hadits dariku, kecuali Abdullah bin Amr (bin Al-As) yang biasa menulis, sedangkan aku tidak menulis."
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Al-Bukhari (w. 256 H) sengaja meletakkan hadits ini dalam bab "Menulis Ilmu" untuk menunjukkan bahwa menulis ilmu adalah amalan yang dilakukan sahabat dan tidak terlarang.
- Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil utama tentang bolehnya menulis hadits, dan bahwa Abu Hurairah mengakui kelebihan Abdullah bin Amr karena ia menulis, sementara Abu Hurairah mengandalkan hafalan.
Penjelasan Rinci
Makna Hadits:
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, dengan jumlah sekitar 5.374 hadits. Namun, ia mengakui bahwa Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhuma bisa jadi lebih banyak lagi riwayatnya karena ia rajin menulis. Abu Hurairah sendiri tidak menulis karena ia memiliki hafalan yang luar biasa kuat, sebagaimana doa Nabi ﷺ untuknya.
Pandangan Ulama tentang Menulis Ilmu:
- Imam Asy-Syafi'i (w. 204 H) dalam Ar-Risalah menyebutkan bahwa menulis ilmu adalah cara untuk menjaga ilmu agar tidak hilang. Beliau sendiri memiliki banyak kitab.
- Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) sangat menganjurkan menulis hadits. Beliau berkata, "Tulislah ilmu, karena ilmu tidak akan terjaga kecuali dengan tulisan."
- Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah (w. 751 H) dalam Al-Fawa'id menjelaskan bahwa menulis adalah salah satu bentuk menjaga ilmu, sebagaimana para sahabat menulis wahyu dan hadits.
- Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul Bari (1/208) menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan menulis ilmu, dan bahwa larangan menulis hadits di awal Islam bersifat sementara karena khawatir tercampur dengan Al-Qur'an. Setelah Al-Qur'an sempurna, larangan itu dicabut.
Perbedaan Pendapat:
Ada sebagian ulama yang sempat ragu tentang menulis hadits karena ada larangan awal, seperti riwayat dari Abu Sa'id Al-Khudri bahwa Nabi ﷺ bersabda, "Janganlah kalian menulis dariku, dan siapa yang menulis dariku selain Al-Qur'an, hendaklah ia menghapusnya" (HR. Muslim). Namun, mayoritas ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in, seperti Abdullah bin Amr, Anas bin Malik, dan Al-Hasan Al-Bashri, membolehkan menulis hadits setelah kondisi aman. Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa larangan itu untuk masa awal, kemudian diizinkan setelahnya.
Kesimpulan Ilmiah:
Hadits ini menjadi dalil bahwa menulis ilmu adalah amalan yang mulia dan dianjurkan, terutama bagi yang khawatir lupa. Namun, menghafal juga tetap utama jika memiliki kemampuan seperti Abu Hurairah. Keduanya adalah jalan yang baik dalam menuntut ilmu.
Story Telling
Kisah Abdullah bin Amr dan Shahifahnya:
Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhuma adalah sahabat yang rajin menulis. Ia memiliki lembaran-lembaran catatan yang dikenal dengan Ash-Shahifah Ash-Shadiqah. Dalam sebuah riwayat, ia berkata, "Aku biasa menulis apa pun yang aku dengar dari Rasulullah ﷺ karena aku ingin menghafalnya. Namun, orang-orang Quraisy melarangku, mereka berkata, 'Apakah engkau menulis segala sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah ﷺ, padahal beliau adalah manusia yang bisa marah dan ridha?' Maka aku pun berhenti. Lalu aku ceritakan hal itu kepada Rasulullah ﷺ, dan beliau bersabda, 'Tulislah, demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah keluar dariku kecuali kebenaran'" (HR. Abu Dawud, no. 3646, dan dishahihkan oleh Al-Albani).
Hikmah:
Kisah ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ sendiri mengizinkan dan mendorong penulisan hadits. Abdullah bin Amr adalah contoh sahabat yang menggunakan media tulis untuk menjaga ilmu, dan hasilnya, ia memiliki banyak riwayat yang bermanfaat bagi umat.
Kesimpulan Praktis
- Menulis ilmu adalah amalan yang dianjurkan, sebagaimana dilakukan oleh Abdullah bin Amr dan para ulama setelahnya.
- Bagi yang memiliki hafalan kuat, boleh memilih tidak menulis, seperti Abu Hurairah, asalkan ilmunya tetap terjaga.
- Gunakan media tulis atau digital untuk mencatat ilmu, agar tidak mudah lupa dan bisa diwariskan kepada orang lain.
- Jangan meremehkan orang yang menulis atau menghafal, karena keduanya adalah jalan yang mulia dalam menuntut ilmu.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.