Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 1127 tentang Anjuran shalat malam dan larangan banyak membantah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa shalat malam (qiyamul lail) adalah amalan yang sangat dianjurkan oleh Nabi ﷺ, bahkan kepada keluarganya sendiri. Jawaban Ali bin Abi Thalib yang beralaskan takdir (jiwa di tangan Allah) tidak sepenuhnya salah, tetapi Nabi ﷺ mengingatkan agar kita tidak menjadikan takdir sebagai alasan untuk malas beribadah. Beliau ﷺ juga menegur kecenderungan manusia yang suka membantah, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an.

Rujukan Ulama & Dalil

1. Ayat Al-Qur’an (potongan yang dikutip Nabi ﷺ):

QS. Al-Kahfi [18]: 54

Teks Arab (bagian akhir ayat):

وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا

Terjemahan: “Dan manusia itu (memang) makhluk yang paling suka membantah.”

(Potongan ini diucapkan Nabi ﷺ sambil memukul pahanya, sebagai teguran atas jawaban Ali yang berdalih takdir.)

2. Hadits:

Shahih al-Bukhari (no. 1127), Kitab Tahajud, Bab Dorongan Nabi ﷺ untuk Shalat Malam dan Sunnah Tanpa Kewajiban, dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

3. Kaitan dengan ulama dalam daftar:

  • Sanad hadits sampai kepada al-Zuhri (Muhammad bin Shihab) yang meriwayatkan dari Ali bin Husain.
  • Imam al-Bukhari memuatnya dalam kitab shahihnya.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari (3/26) menjelaskan makna hadits ini dan adab terhadap takdir.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (8/144) juga membahasnya.
  • Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha’if al-Ma‘arif (hal. 43) mengutip hadits ini untuk keutamaan qiyamul lail.

Penjelasan Rinci

Makna dan konteks hadits:

Nabi ﷺ datang pada suatu malam kepada putrinya Fatimah dan menantunya Ali, lalu bertanya: “Tidakkah kalian berdua shalat (malam)?” Beliau menginginkan mereka berdua bangun untuk qiyamul lail, karena shalat malam adalah kebiasaan beliau dan amalan yang sangat dicintai Allah.

Ali menjawab: “Wahai Rasulullah, jiwa kami berada di tangan Allah. Jika Dia menghendaki kami bangun, pasti Dia bangunkan kami.” Jawaban ini menunjukkan keyakinan Ali yang kuat terhadap takdir, seolah mengatakan: “Kami tidak bisa memaksakan diri, karena Allah-lah yang mengatur kapan kami bangun.”

Nabi ﷺ tidak membantah jawaban tersebut, tetapi beliau pergi sambil memukul pahanya dan membaca ayat Al-Qur’an yang menegur sifat manusia yang suka membantah. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun jawaban Ali secara tauhid benar, namun semangat untuk beribadah tetap harus ada. Kita tidak boleh menggunakan takdir sebagai dalih untuk meninggalkan ketaatan, karena Allah memerintahkan kita untuk berusaha dan memohon pertolongan-Nya.

Pandangan ulama:

Ibnu Hajar al-Asqalani (Fath al-Bari, 3/26) mengatakan: “Dalam hadits ini terdapat pelajaran bahwa seorang hamba tidak boleh bermalas-malasan dalam beribadah dengan alasan takdir, karena takdir itu sudah diketahui Allah, tetapi usaha tetap diwajibkan. Jawaban Ali itu sendiri benar dari segi keyakinan, namun Nabi ﷺ tidak menyukai alasan yang melemahkan semangat.”

Imam an-Nawawi (Syarh Muslim, 8/144) menjelaskan: “Sifat manusia yang banyak membantah memang sudah tabiatnya, dan syariat melarang perdebatan yang tidak bermanfaat, terutama dalam hal ibadah. Hadits ini mendorong kita untuk segera melaksanakan perintah tanpa banyak bertanya atau berdalih.”

Ibnu Rajab (Latha’if al-Ma‘arif, hal. 43) menegaskan: “Qiyamul lail adalah kebiasaan orang saleh, mendekatkan diri kepada Allah, menghapus dosa, dan mencegah dari perbuatan maksiat. Oleh karena itu Nabi ﷺ langsung mendatangi rumah putrinya untuk mengingatkan mereka.”

Kesimpulan dari ulama:

  • Takdir tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan kewajiban dan sunnah.
  • Seorang mukmin harus bersungguh-sungguh beribadah, lalu bertawakal kepada Allah.
  • Sifat membantah harus dijauhi, terutama dalam hal perintah agama.

Story Telling

Diriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri (seorang tabi’in besar) bahwa beliau pernah berkata: “Sungguh, aku mendapati suatu kaum yang jika malam tiba, mereka berdiri untuk shalat, dan jika ayat tentang neraka dibacakan, mereka menangis tersedu-sedu. Mereka tidak pernah menjadikan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan ibadah.” (Diriwayatkan dalam Hilyah al-Auliya’, 2/134)

Kisah ini mengingatkan kita bahwa para salaf sangat bersemangat dalam qiyamul lail. Mereka tidak berdalih dengan kelelahan atau “Allah belum menakdirkan”, karena mereka yakin bahwa usaha adalah bagian dari takdir itu sendiri. Semangat Ali dan Fatimah sebenarnya juga besar, tetapi Nabi ﷺ ingin menanamkan bahwa dorongan untuk beribadah harus selalu ada, tanpa redup oleh alasan apa pun.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan menjadikan takdir sebagai alasan kemalasan – beribadahlah dengan sungguh-sungguh, karena Allah memerintahkan usaha.
  2. Menjauhi sifat banyak membantah – terutama saat diperintah untuk kebaikan, segeralah taat tanpa banyak bertanya.
  3. Menghidupkan shalat malam (qiyamul lail) – walaupun hanya dua rakaat, karena itu adalah kebiasaan Nabi ﷺ dan para sahabat.
  4. Mengingatkan keluarga – sebagaimana Nabi ﷺ mengingatkan Fatimah dan Ali, kita pun dianjurkan saling menasihati dalam kebaikan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.