Penjelasan Hadits Bukhari No. 1125 tentang Keringanan meninggalkan shalat malam saat sakit

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan bahwa ketika wahyu (Jibril) sempat tertahan dari Nabi ﷺ, seorang wanita Quraisy mengejek dengan tuduhan bahwa "setan" Nabi telah meninggalkannya. Allah lalu menurunkan awal Surah Ad-Dhuha sebagai penghiburan dan penegasan bahwa Allah tidak meninggalkan Nabi ﷺ dan tidak membencinya. Hadits ini menunjukkan bahwa ujian berupa keterlambatan pertolongan bukan tanda ditinggalkan Allah, dan bahwa Allah membela hamba-Nya yang sabar.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. Ad-Dhuha [93]: 1–3

وَالضُّحَىٰ ۝ وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَىٰ ۝ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَىٰ

Terjemahan ringkas: "Demi waktu dhuha (pagi yang cerah), dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak (pula) membencimu."

Hadits terkait

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih Al-Bukhari, Kitab Tahajud, Bab Meninggalkan Qiyam bagi Orang Sakit (no. 1125), dari sahabat Jundab bin Abdullah رضي الله عنه, melalui jalur Sufyan (yaitu Sufyan bin 'Uyainah) dari Al-Aswad bin Qais.

Kaitan dengan ulama

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa keterlambatan wahyu bukan berarti putusnya kenabian, dan bahwa Allah menurunkan penghiburan kepada Nabi-Nya.
  • Ibn Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa awal Surah Ad-Dhuha turun berkaitan dengan peristiwa terhentinya wahyu, sebagai jawaban atas ejekan orang-orang musyrik.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa teguran/ejekan orang kafir tidak boleh melemahkan keyakinan seorang mukmin, karena Allah mengetahui keadaan hamba-Nya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menggambarkan satu peristiwa penting dalam sejarah kenabian. Jibril sempat tidak datang kepada Nabi ﷺ dalam kurun waktu tertentu (para ulama menyebut sekitar beberapa hari). Kesempatan ini dimanfaatkan oleh sebagian orang Quraisy — dalam riwayat ini seorang wanita — untuk mengejek: "Setan Nabi Muhammad telah meninggalkannya," yakni tuduhan bahwa wahyu yang selama ini datang hanyalah bisikan setan, dan kini telah berhenti.

Ibn Katsir menjelaskan bahwa tuduhan semacam ini adalah bentuk penghinaan dan ujian psikologis bagi Nabi ﷺ. Namun Allah segera menurunkan Surah Ad-Dhuha sebagai bantahan sekaligus penghiburan. Allah bersumpah dengan waktu dhuha dan malam yang sunyi, lalu menegaskan: "Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak membencimu."

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyimpulkan beberapa faedah:

  1. Terkadang wahyu tertahan karena hikmah tertentu dari Allah, bukan karena Allah murka.
  2. Allah membela kehormatan Nabi-Nya dari tuduhan orang-orang kafir.
  3. Ejekan orang kafir tidak boleh menggoyahkan keyakinan seorang mukmin.

Imam an-Nawawi menambahkan bahwa seorang hamba hendaknya tidak mengukur kedekatannya dengan Allah hanya dari kelancaran keadaan. Bisa jadi Allah menahan sesuatu sebagai ujian, lalu memberi yang lebih baik.

Adapun judul bab "Meninggalkan Qiyam bagi Orang Sakit" menunjukkan bahwa Imam Al-Bukhari memasukkan hadits ini dalam konteks bahwa seorang yang sakit boleh meninggalkan shalat malam (tahajud), dan hal itu bukan tanda ditinggalkan Allah. Ini sejalan dengan kaidah fiqih bahwa kewajiban gugur atau berkurang sesuai kemampuan, sebagaimana firman Allah: "فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ" (QS. At-Taghabun [64]: 16) — "Bertakwalah kepada Allah sesuai kemampuanmu."

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa Nabi ﷺ sendiri kadang meninggalkan tahajud karena sakit atau udzur, dan itu tidak mengurangi kedudukannya di sisi Allah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika wahyu terhenti, Nabi ﷺ merasakan kesedihan yang mendalam. Beliau rindu kepada Jibril dan kepada wahyu yang selama ini menjadi cahaya hidupnya. Orang-orang musyrik pun bersorak dan mengejek. Namun Allah — Yang Maha Mengetahui isi hati hamba-Nya — tidak membiarkan Nabi-Nya larut dalam kesedihan. Allah menurunkan Surah Ad-Dhuha yang dimulai dengan sumpah keagungan, lalu penghiburan: "Tuhanmu tidak meninggalkanmu dan tidak membencimu."

Ibn Katsir menyebutkan bahwa setelah turunnya surah ini, Nabi ﷺ merasa tenang dan bahagia. Ejekan orang kafir sirna, dan keyakinan beliau semakin kokoh. Hikmahnya: ujian berupa keterlambatan pertolongan bukan tanda ditinggalkan, melainkan tanda bahwa Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih besar.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan mengukur kedekatan dengan Allah hanya dari kelancaran hidup. Keterlambatan pertolongan bisa jadi ujian, bukan hukuman.
  2. Jangan terpengaruh ejekan orang. Nabi ﷺ diejek, namun Allah membelanya. Begitu pula mukmin yang sabar akan dibela Allah.
  3. Orang sakit boleh meninggalkan shalat malam. Ini adalah keringanan dari Allah, bukan tanda ditinggalkan.
  4. Perbanyak membaca Surah Ad-Dhuha saat merasa sedih atau tertekan, karena surah ini adalah penghiburan dari Allah.
  5. Yakinlah bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang beriman, selama hamba itu berusaha taat dan sabar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?