Penjelasan Hadits Bukhari No. 1121 tentang Keutamaan shalat malam dan pujian bagi yang mengerjakannya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah pujian dari Nabi ﷺ kepada sahabatnya, Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhuma. Beliau dipuji sebagai "sebaik-baik lelaki" namun Nabi ﷺ memberi isyarat bahwa ada amalan yang lebih utama yang belum beliau lakukan, yaitu shalat malam (qiyamullail). Setelah mendengar sabda Nabi ﷺ tersebut, Abdullah bin Umar pun bersungguh-sungguh untuk menegakkan shalat malam, sehingga beliau tidak tidur di malam hari kecuali hanya sedikit. Hadits ini menunjukkan keutamaan shalat malam yang sangat besar, serta bagaimana para sahabat langsung beramal ketika mendapatkan bimbingan dari Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Tahajjud, Bab Keutamaan Qiyamullail, no. 1121. Berikut adalah teks haditsnya:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ، قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ، قَالَ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، وَحَدَّثَنِي مَحْمُودٌ، قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، قَالَ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ سَالِمٍ، عَنْ أَبِيهِ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ: كَانَ الرَّجُلُ فِي حَيَاةِ النَّبِيِّ ﷺ إِذَا رَأَى رُؤْيَا قَصَّهَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَتَمَنَّيْتُ أَنْ أَرَى رُؤْيَا فَأَقُصَّهَا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ وَكُنْتُ غُلاَمًا شَابًّا، وَكُنْتُ أَنَامُ فِي الْمَسْجِدِ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَرَأَيْتُ فِي النَّوْمِ كَأَنَّ مَلَكَيْنِ أَخَذَانِي فَذَهَبَا بِي إِلَى النَّارِ فَإِذَا هِيَ مَطْوِيَّةٌ كَطَىِّ الْبِئْرِ، وَإِذَا لَهَا قَرْنَانِ، وَإِذَا فِيهَا أُنَاسٌ قَدْ عَرَفْتُهُمْ فَجَعَلْتُ أَقُولُ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ النَّارِ ـ قَالَ ـ فَلَقِيَنَا مَلَكٌ آخَرُ فَقَالَ لِي لَمْ تُرَعْ. فَقَصَصْتُهَا عَلَى حَفْصَةَ فَقَصَّتْهَا حَفْصَةُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ: "نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ، لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ". فَكَانَ بَعْدُ لاَ يَنَامُ مِنَ اللَّيْلِ إِلاَّ قَلِيلاً.

Makna ringkas: Abdullah bin Umar bercerita bahwa dahulu orang-orang menceritakan mimpinya kepada Nabi ﷺ. Beliau pun berharap bisa bermimpi. Suatu malam beliau bermimpi melihat neraka, lalu menceritakannya kepada saudarinya, Hafsah radhiyallahu 'anha, yang kemudian menyampaikannya kepada Nabi ﷺ. Maka Nabi ﷺ bersabda: "Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah, seandainya ia shalat malam." Setelah itu, Abdullah bin Umar tidak tidur di malam hari kecuali sedikit.

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Fadhail Ash-Shahabah, Bab Fadhail Abdullah bin Umar, no. 2479, dengan lafaz yang semakna.

Adapun dalil tentang keutamaan shalat malam, Allah Ta'ala berfirman:

إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلًا

"Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan." (QS. Al-Muzzammil [73]: 6)

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan keutamaan shalat malam, karena pada waktu itu hati lebih khusyuk, lisan lebih jujur, dan bacaan lebih meresap ke dalam jiwa.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

1. Keutamaan Abdullah bin Umar dan pujian Nabi ﷺ

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa sabda Nabi ﷺ "نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ" (sebaik-baik lelaki adalah Abdullah) adalah pujian yang sangat besar dari Nabi ﷺ. Namun Nabi ﷺ tidak berhenti di situ, beliau menambahkan "لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ" (seandainya ia shalat malam). Ini menunjukkan bahwa meskipun Abdullah bin Umar sudah memiliki banyak keutamaan, masih ada amalan yang lebih utama yang belum beliau lakukan secara rutin, yaitu qiyamullail.

2. Semangat para sahabat dalam beramal

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa setelah Abdullah bin Umar mendengar sabda Nabi ﷺ tersebut, beliau langsung mengamalkannya dengan sungguh-sungguh. Beliau tidak menunda-nunda, tidak berdalih, dan tidak merasa cukup dengan pujian yang telah diberikan. Inilah akhlak para sahabat: ketika mendengar bimbingan dari Nabi ﷺ, mereka langsung beramal.

3. Mimpi yang baik dan kisah Abdullah bin Umar

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dalam Jami' Al-'Ulum wal Hikam menyebutkan bahwa mimpi Abdullah bin Umar tentang neraka adalah mimpi yang benar (ru'ya shadiquh). Mimpi ini menjadi sebab turunnya bimbingan Nabi ﷺ kepadanya untuk memperbanyak shalat malam. Ini menunjukkan bahwa mimpi yang baik bisa menjadi salah satu sebab hidayah bagi seseorang.

4. Shalat malam adalah kebiasaan orang-orang shalih

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa shalat malam adalah amalan yang sangat dianjurkan, karena ia adalah kebiasaan orang-orang shalih sebelum kita. Allah Ta'ala berfirman:

كَانُوا قَلِيلًا مِنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ

"Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam." (QS. Adz-Dzariyat [51]: 17)

5. Adab menceritakan mimpi

Imam Al-Bukhari rahimahullah menempatkan hadits ini dalam Kitab Tahajjud, yang menunjukkan bahwa mimpi yang baik bisa menjadi motivasi untuk beramal. Para ulama menjelaskan bahwa menceritakan mimpi yang baik kepada orang yang shalih adalah perkara yang dianjurkan, sebagaimana para sahabat menceritakan mimpi mereka kepada Nabi ﷺ.

Story Telling

Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma adalah putra dari Umar bin Al-Khaththab. Beliau dikenal sebagai sahabat yang sangat bersemangat dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ. Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa beliau sangat berhati-hati dalam beramal, bahkan beliau pernah mencium Hajar Aswad dengan sangat khusyuk.

Setelah mendengar sabda Nabi ﷺ "seandainya ia shalat malam", Abdullah bin Umar tidak tidur di malam hari kecuali hanya sedikit. Beliau menghabiskan malam-malamnya dengan shalat, bermunajat kepada Allah, dan membaca Al-Qur'an. Inilah buah dari bimbingan Nabi ﷺ yang langsung diamalkan dengan penuh kesungguhan.

Imam Adz-Dzahabi rahimahullah dalam Siyar A'lam An-Nubala menyebutkan bahwa Abdullah bin Umar adalah salah satu dari empat sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, dan beliau dikenal dengan ibadahnya yang sangat tekun. Beliau hidup selama lebih dari 80 tahun dan tetap istiqamah dalam ibadah hingga akhir hayatnya.

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat malam adalah amalan yang sangat mulia dan merupakan kebiasaan orang-orang shalih dari kalangan sahabat dan tabi'in.
  2. Jangan merasa cukup dengan amalan yang sudah ada — teruslah mencari amalan-amalan yang lebih utama dan diridhai Allah.
  3. Segera beramal ketika mendapat bimbingan — jangan menunda-nunda kebaikan, sebagaimana Abdullah bin Umar langsung mengamalkan nasihat Nabi ﷺ.
  4. Mimpi yang baik bisa menjadi motivasi — namun yang terpenting adalah amal nyata, bukan hanya sekedar mimpi.
  5. Mulailah dengan shalat malam yang ringan — meskipun hanya dua rakaat, yang penting istiqamah, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling istiqamah meskipun sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?