Bab Keutamaan Qiyamullail
Shahih
haddatsana abdu allahi ibnu muhammadin, qala haddatsana hisyamun, qala akhbarana mamarun,. wahaddatsani mahmudun, qala haddatsana abdu arrazzaqi, qala akhbarana mamarun, ani azzuhriyyi, an salimin, an abihi rdh allah nh qala kana arrajulu fi hayahi annabiyyi idza raa ruya qasshaha ala rasuli allahi fatamannaytu an ara ruya faaqusshaha ala rasuli allahi wakuntu ghulaman syabban, wakuntu anamu fi almasjidi ala ahdi rasuli allahi faraaytu fi annawmi kaanna malakayni akhadzani fadzahaba bi ila annari faidza hiya mathwiyyahun kathai albiri, waidza laha qarnani, waidza fiha unasun qad araftuhum fajaaltu aqulu audzu biallahi mina annari qala falaqiyana malakun akharu faqala li lam tura. faqashashtuha ala hafshaha faqasshatha hafshahu ala rasuli allahi faqala " nima arrajulu abdu allahi, law kana yushalli mina allayli ". fakana badu la yanamu mina allayli ila qalilan.
Dari Salim bin Abdullah, ia berkata: "Di zaman Nabi ﷺ, siapa saja yang melihat mimpi, ia menceritakannya kepada Rasulullah. Aku berharap bisa melihat mimpi untuk diceritakan kepada Rasulullah. Aku adalah seorang pemuda dan biasa tidur di masjid pada zaman Rasulullah. Aku melihat dalam mimpi seolah-olah dua malaikat menangkapku dan membawaku ke neraka yang dibangun melingkar seperti sumur dan memiliki dua tiang di dalamnya, dan orang-orang di dalamnya aku kenal. Aku mulai berkata, "Aku berlindung kepada Allah dari neraka." Kemudian aku bertemu dengan malaikat lain yang memberitahuku untuk tidak takut. Aku menceritakan mimpi itu kepada Hafsah, yang menceritakannya kepada Rasulullah. Rasulullah berkata, "Abdullah adalah orang yang baik. Seandainya ia shalat malam." Setelah itu Abdullah (yaitu ayah Salim) tidak tidur di malam hari kecuali sedikit.