Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan tata cara shalat Istisqa' (memohon hujan) yang dicontohkan Nabi ﷺ: beliau keluar ke tanah lapang, memalingkan punggung dari jamaah dan menghadap kiblat untuk berdoa, membalik jubah sebagai simbol harapan perubahan keadaan, lalu shalat dua rakaat dengan bacaan yang dikeraskan. Semua ini menunjukkan adab tawadhu, pengharapan penuh kepada Allah, dan kesungguhan dalam berdoa.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab Istisqa', Bab "Bagaimana Nabi ﷺ Memalingkan Punggungnya kepada Orang-orang". Sanadnya: Adam bin Abi Iyas → Ibnu Abi Dzi'b → Az-Zuhri → 'Abbad bin Tamim → dari pamannya (yaitu 'Abdullah bin Zaid bin 'Ashim Al-Anshari, sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari).
Adapun dalil Al-Qur'an yang menjadi landasan shalat Istisqa' secara umum:
QS. Nuh [71]: 10-11
قَالَ يَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ۞ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
Terjemahan: "Dia (Nuh) berkata: 'Wahai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.'"
Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan hubungan erat antara istighfar dengan turunnya hujan — sebagaimana juga dipahami Qatadah dan Mujahid bahwa dosa-dosa menjadi sebab tertahannya hujan.
Penjelasan Rinci
1. Memalingkan punggung kepada manusia dan menghadap kiblat
Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perbuatan ini mengandung makna: ketika berdoa dengan sungguh-sungguh, Nabi ﷺ menghadap kiblat dan memalingkan punggung dari manusia, sebagai bentuk konsentrasi penuh kepada Allah dan tidak berpaling kepada makhluk. Ini juga menunjukkan bahwa doa Istisqa' memiliki keutamaan tersendiri yang dilakukan dengan khusyuk.
2. Membalikkan jubah (tahwil ar-rida')
Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa membalik jubah adalah simbolis: membalik keadaan yang sedang sulit (kekeringan) menjadi keadaan yang baik (hujan), sebagaimana jubah yang dibalik. Ibnu Hajar menambahkan bahwa ini juga bentuk tafa'ul (mengharap keberkahan) dan kerendahan diri di hadapan Allah.
3. Shalat dua rakaat dengan bacaan dikeraskan
Ibnu Qayyim dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa shalat Istisqa' dilakukan dua rakaat seperti shalat 'Id, dengan takbir dan bacaan yang dikeraskan (jahr). Ini menunjukkan bahwa Istisqa' adalah ibadah tersendiri, bukan sekadar doa biasa.
4. Perbedaan pendapat ulama daftar
Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa shalat Istisqa' disyariatkan dengan dua rakaat dan jahr dalam bacaan, berdasarkan hadits ini. Imam Abu Hanifah juga mengakui shalat Istisqa', namun dalam sebagian riwayat beliau menyebutkan boleh juga hanya dengan doa tanpa shalat jika keadaan mendesak. Namun pendapat yang paling kuat menurut dalil adalah yang menyebutkan shalat dua rakaat, karena hadits ini shahih dan jelas.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa 'Abdullah bin Zaid Al-Anshari — pamak dari 'Abbad bin Tamim — adalah sahabat yang melihat langsung peristiwa ini. Ketika kaum Muslimin dilanda kekeringan parah di Madinah, Nabi ﷺ keluar dengan penuh tawadhu, memakai pakaian sederhana, dan berjalan bersama jamaah ke tanah lapang. Beliau memalingkan punggung dari manusia, menghadap kiblat, lalu berdoa dengan penuh harap. Setelah itu beliau membalik jubahnya — seakan-akan memohon kepada Allah agar membalik keadaan mereka dari kering menjadi subur. Kemudian beliau shalat dua rakaat bersama mereka. Tidak lama setelah itu, hujan pun turun. (Disebutkan secara global dalam Shahih Al-Bukhari dan Fathul Bari)
Hikmahnya: kesungguhan dalam berdoa, kerendahan diri, dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ secara persis adalah kunci terkabulnya doa.
Kesimpulan Praktis
- Shalat Istisqa' disyariatkan ketika hujan tertahan, dilakukan dua rakaat dengan bacaan dikeraskan.
- Disunnahkan menghadap kiblat saat berdoa, memalingkan punggung dari jamaah, dan membalik jubah sebagai simbol harapan perubahan.
- Perbanyak istighfar, karena dosa adalah sebab tertahannya hujan (QS. Nuh [71]: 10-11).
- Ikuti tata cara Nabi ﷺ secara persis, jangan menambah atau mengurangi tanpa dalil.
- Bertaubat dan kembali kepada Allah adalah inti dari Istisqa'.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.