Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Bukhari No. 101 tentang Hari khusus bagi wanita untuk belajar agama

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan perhatian besar Nabi ﷺ terhadap pendidikan wanita. Beliau mengkhususkan waktu khusus untuk mengajar mereka karena mereka merasa kesulitan bertanya di tengah banyaknya sahabat laki-laki. Ini menjadi dalil bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, dan seorang pemimpin atau guru hendaknya memberikan perhatian yang sama kepada semua golongan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat:

Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-‘Ilm (Kitab Ilmu), Bab: Hal Yuj’alu li an-Nisa’i Yaumun ‘ala Hidah (Bab Apakah Dikhususkan Hari untuk Wanita dalam Ilmu), no. 101.

Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):

حَدَّثَنَا آدَمُ، قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ الأَصْبَهَانِيِّ، قَالَ سَمِعْتُ أَبَا صَالِحٍ ذَكْوَانَ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَتِ النِّسَاءُ لِلنَّبِيِّ ﷺ: غَلَبَنَا عَلَيْكَ الرِّجَالُ، فَاجْعَلْ لَنَا يَوْمًا مِنْ نَفْسِكَ. فَوَعَدَهُنَّ يَوْمًا لَقِيَهُنَّ فِيهِ، فَوَعَظَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ، فَكَانَ فِيمَا قَالَ لَهُنَّ: «مَا مِنْكُنَّ امْرَأَةٌ تُقَدِّمُ ثَلاَثَةً مِنْ وَلَدِهَا إِلاَّ كَانَ لَهَا حِجَابًا مِنَ النَّارِ». فَقَالَتِ امْرَأَةٌ: وَاثْنَيْنِ؟ فَقَالَ: «وَاثْنَيْنِ».

Terjemahan:

Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Para wanita berkata kepada Nabi ﷺ, "Kaum laki-laki telah mendahului kami (dalam mendapatkan ilmu darimu), maka tetapkanlah untuk kami satu hari (khusus) dari dirimu." Maka beliau pun menjanjikan kepada mereka satu hari yang beliau temui mereka pada hari itu. Beliau memberi mereka nasihat dan perintah. Di antara yang beliau sampaikan kepada mereka adalah, "Tidaklah seorang wanita di antara kalian yang didahului (meninggal) tiga orang anaknya, melainkan anak-anak itu akan menjadi penghalang baginya dari api neraka." Seorang wanita bertanya, "Bagaimana jika dua?" Beliau menjawab, "Dan (begitu pula) dua."

Penjelasan Ulama:

  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H) dalam Fath al-Bari (1/195-196) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disyariatkannya mengkhususkan waktu tertentu untuk mengajar wanita agar mereka lebih leluasa bertanya. Beliau juga menukil perkataan Imam al-Bukhari sendiri bahwa bab ini (Bab: Hal Yuj’alu li an-Nisa’i Yaumun ‘ala Hidah) adalah bantahan bagi orang yang mengingkari adanya pengajaran khusus bagi wanita.
  • Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim (16/173) menegaskan bahwa hadits ini adalah dalil tentang keutamaan sabar atas kematian anak, dan bahwa anak-anak yang meninggal sebelum baligh akan menjadi syafaat bagi orang tuanya di akhirat.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin (1/187) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan perhatian Nabi ﷺ yang sangat besar terhadap pendidikan wanita, karena beliau mengabulkan permintaan mereka dan mengkhususkan waktu untuk mereka.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa faedah penting yang dijelaskan oleh para ulama:

  1. Hak Wanita dalam Menuntut Ilmu: Para wanita sahabat merasa bahwa mereka kurang mendapat kesempatan untuk bertanya dan belajar karena para lelaki lebih sering bersama Nabi ﷺ. Mereka tidak diam, tetapi mereka meminta hak mereka. Ini menunjukkan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban yang sama bagi laki-laki dan perempuan. Imam al-Bukhari sengaja membuat bab khusus untuk ini, sebagai bantahan terhadap mereka yang meremehkan pendidikan wanita.
  2. Kepemimpinan yang Adil dan Bijaksana: Nabi ﷺ tidak menolak permintaan mereka. Beliau justru mengabulkannya dan menjanjikan satu hari khusus. Ini adalah contoh kepemimpinan yang adil dan responsif terhadap kebutuhan umatnya. Ibnu Hajar mengatakan bahwa ini adalah bentuk siyasah syar'iyyah (kebijakan yang sesuai syariat) dalam mengatur waktu dan perhatian.
  3. Keutamaan Sabar atas Kematian Anak: Sabda Nabi ﷺ tentang tiga atau dua anak yang meninggal menjadi penghalang dari api neraka adalah kabar gembira yang sangat besar bagi para ibu. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah anak-anak yang meninggal sebelum baligh. Ini menunjukkan besarnya rahmat Allah dan keutamaan kesabaran. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya ‘Uddah ash-Shabirin menjelaskan bahwa pahala ini diberikan karena kesabaran orang tua atas musibah yang sangat berat, yaitu kehilangan buah hati.
  4. Pertanyaan yang Mendatangkan Ilmu: Pertanyaan seorang wanita, "Bagaimana jika dua?" menunjukkan bahwa para sahabat wanita tidak malu untuk bertanya demi mendapatkan ilmu yang lebih jelas. Hal ini justru mendatangkan tambahan ilmu dan kabar gembira bagi yang lain. Syaikh al-‘Utsaimin menekankan bahwa bertanya dalam rangka belajar adalah akhlak yang terpuji.

Story Telling

Kisah: Ketika Wanita Sahabat Tidak Malu Bertanya

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya, dari Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata: "Sebaik-baik wanita adalah wanita Anshar. Rasa malu tidak menghalangi mereka untuk mendalami agama." (HR. Muslim no. 332)

Semangat para wanita sahabat dalam menuntut ilmu sangatlah tinggi. Mereka tidak merasa cukup hanya mendengar dari suami atau kerabat laki-laki. Mereka ingin langsung mendengar dari sumbernya, yaitu Rasulullah ﷺ. Ketika mereka merasa kurang mendapat perhatian, mereka dengan berani dan sopan menyampaikan keinginan mereka. Sikap ini menunjukkan bahwa rasa malu (haya') yang merupakan bagian dari iman, tidak boleh menjadi penghalang untuk menuntut ilmu yang wajib. Rasa malu yang terpuji adalah yang mencegah dari maksiat, bukan yang menghalangi dari kebaikan.

Hikmah: Kisah ini mengajarkan kita untuk proaktif dalam mencari ilmu, tidak merasa cukup dengan yang sedikit, dan tidak malu bertanya kepada ahlinya. Bagi para pemimpin dan guru, kisah ini mengajarkan untuk adil dalam memberikan perhatian dan kesempatan kepada semua kalangan.

Kesimpulan Praktis

  1. Wajib bagi setiap Muslim dan Muslimah untuk menuntut ilmu agama sesuai kemampuan.
  2. Seorang suami atau pemimpin hendaknya menyediakan waktu dan kesempatan bagi wanita untuk belajar, baik di rumah maupun di majelis ilmu.
  3. Jangan malu bertanya tentang hal-hal yang tidak diketahui dalam urusan agama, karena bertanya adalah kunci ilmu.
  4. Bersabarlah atas musibah, terutama kematian anak. Yakinlah bahwa di balik kesabaran terdapat ganjaran yang besar dari Allah, bahkan bisa menjadi penghalang dari api neraka.
  5. Hargailah peran ulama dan guru yang telah meluangkan waktu untuk mengajarkan ilmu, sebagaimana para sahabat menghargai waktu Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.