Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan teguran lembut Nabi ﷺ kepada Ali bin Abi Thalib dan Fatimah radhiyallahu 'anhuma ketika keduanya tertidur dan tidak bangun untuk shalat malam (tahajud). Jawaban Ali yang menyebut takdir Allah dijawab oleh Nabi ﷺ dengan membacakan firman Allah bahwa manusia itu makhluk yang paling banyak berdebat. Pelajaran utamanya: jangan jadikan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan ketaatan, karena perintah syariat tetap berlaku dan kita wajib berusaha.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
وَلَقَدْ صَرَّفْنَا فِي هَٰذَا الْقُرْآنِ لِلنَّاسِ مِنْ كُلِّ مَثَلٍ ۚ وَكَانَ الْإِنْسَانُ أَكْثَرَ شَيْءٍ جَدَلًا
"Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang bagi manusia dalam Al-Qur'an ini segala macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah." (QS. Al-Kahf [18]: 54)
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 571) dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 1127) dan Imam Muslim (no. 775) dengan redaksi yang serupa.
Kaitan dengan ulama:
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan ayat ini sebagai celaan terhadap manusia yang suka membantah kebenaran. Syaikh Abdurrahman As-Sa'di juga menjelaskan bahwa manusia memiliki tabiat suka berdebat, namun orang beriman harus menahan diri dari perdebatan yang tidak bermanfaat.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan hadits ini dari beberapa sudut:
1. Konteks kisah:
Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa Ali dan Fatimah radhiyallahu 'anhuma tertidur pada malam harinya dan tidak sempat bangun untuk shalat malam. Nabi ﷺ yang mengetahui hal ini datang kepada mereka pada waktu sahur (sepertiga malam terakhir) dan mengetuk pintu sambil bertanya, "Apakah kalian tidak shalat?"
2. Jawaban Ali dan teguran Nabi:
Jawaban Ali, "Jiwa-jiwa kami di tangan Allah, jika Dia menghendaki Dia akan membangunkan kami," sebenarnya adalah jawaban yang benar secara aqidah. Namun Nabi ﷺ tidak menerima jawaban ini sebagai alasan untuk meninggalkan shalat malam. Beliau memukul pahanya dan membacakan ayat tentang manusia yang suka membantah.
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa Nabi ﷺ menganggap jawaban Ali sebagai bentuk perdebatan yang tidak pada tempatnya. Karena meskipun benar bahwa segala sesuatu terjadi dengan takdir Allah, namun manusia tetap diperintahkan untuk berusaha dan tidak bermalas-malasan.
3. Pelajaran tentang takdir dan usaha:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa berdalih dengan takdir untuk meninggalkan perintah adalah kesalahan besar. Takdir Allah tidak menghalangi kewajiban berusaha. Sebagaimana orang yang lapar tidak boleh berkata, "Jika Allah menghendaki aku kenyang, Dia akan memberiku makan," tanpa berusaha mencari rezeki.
Imam Ibnul Qayyim dalam Madarijus Salikin menegaskan bahwa manusia tidak boleh menggunakan takdir sebagai alasan untuk bermaksiat atau meninggalkan ketaatan. Ini adalah tipu daya setan yang sangat halus.
4. Makna "manusia paling banyak membantah":
Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan alami untuk membantah, terutama ketika dinasihati. Namun orang yang beriman harus menerima nasihat dengan lapang dada dan tidak mencari-cari alasan untuk menolak kebenaran.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa setelah kejadian ini, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu tidak pernah lagi meninggalkan shalat malam. Beliau memahami bahwa teguran Nabi ﷺ adalah pelajaran berharga tentang pentingnya bersungguh-sungguh dalam ibadah.
Imam Az-Zuhri, salah seorang tabi'in besar yang meriwayatkan hadits ini, sering menyebutkan kisah ini kepada murid-muridnya sebagai pelajaran tentang adab menerima nasihat. Beliau berkata: "Orang yang beriman tidak mencari alasan untuk meninggalkan ketaatan, tetapi mencari jalan untuk melaksanakannya."
Kesimpulan Praktis
- Jangan menjadikan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan kewajiban atau amalan sunnah yang dianjurkan.
- Bersungguh-sungguhlah dalam ibadah, terutama shalat malam yang memiliki keutamaan besar.
- Terimalah nasihat dengan lapang dada, jangan suka berdebat ketika dinasihati.
- Berusahalah semaksimal mungkin, kemudian bertawakallah kepada Allah atas hasilnya.
- Jadikan kisah ini sebagai motivasi untuk menjaga shalat malam dan amalan-amalan sunnah lainnya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.