Penjelasan Hadits Ahmad No. 555 tentang Utsman membela diri dengan pengorbanan harta untuk umat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu dalil keutamaan Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu. Isinya adalah pembelaan Utsman terhadap para pengepungnya dengan mengingatkan tiga jasa besarnya: membeli perluasan Masjid Nabawi, membeli sumur Raumah, dan menyiapkan pasukan Al-Usrah (Tabuk). Hadits ini menunjukkan bahwa para sahabat yang mulia, termasuk Utsman, memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah, dan kita dilarang mencela mereka.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dari sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu. Para ulama ahli hadits seperti Imam Al-Bukhari dan Imam An-Nasa'i juga meriwayatkan sebagian dari hadits ini dengan lafaz yang serupa.

Berikut teks hadits yang relevan (bagian yang menyebutkan tiga keutamaan Utsman):

Teks Arab (potongan hadits):

> قَالَ نَشَدْتُكُمَا اللَّهَ أَتَعْلَمَانِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ ضَاقَ الْمَسْجِدُ بِأَهْلِهِ فَقَالَ مَنْ يَشْتَرِي هَذِهِ الْبُقْعَةَ مِنْ خَالِصِ مَالِهِ فَيَكُونَ فِيهَا كَالْمُسْلِمِينَ وَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا فِي الْجَنَّةِ فَاشْتَرَيْتُهَا مِنْ خَالِصِ مَالِي فَجَعَلْتُهَا بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ

Terjemahan: "Utsman berkata: 'Aku bersumpah kepada kalian berdua demi Allah, apakah kalian tahu bahwa ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, masjid menjadi sempit bagi penduduknya, lalu beliau bersabda: "Siapa yang membeli tanah ini dari hartanya yang murni, lalu ia di dalamnya seperti kaum muslimin, dan baginya sesuatu yang lebih baik darinya di surga?" Maka aku membelinya dari hartaku yang murni, lalu aku menjadikannya untuk kaum muslimin.'"

Ayat Al-Qur'an yang relevan dengan keutamaan para sahabat:

QS. At-Taubah [9]: 100

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Terjemahan: "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung."

Hadits lain yang terkait:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

> مَنْ أَنْفَقَ نَفَقَةً فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Terjemahan: "Barangsiapa yang menafkahkan hartanya di jalan Allah..." (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dalam konteks keutamaan sedekah)

Kaitan dengan ulama:

Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat QS. At-Taubah: 100 ini mencakup semua sahabat Muhajirin dan Anshar, termasuk Utsman bin Affan, dan Allah meridhai mereka karena keimanan dan amal saleh mereka. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya juga menegaskan bahwa ayat ini adalah dalil keutamaan para sahabat dan larangan mencela mereka.

Penjelasan Rinci

Hadits ini terjadi pada hari-hari terakhir kehidupan Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu, ketika beliau dikepung oleh para pemberontak di rumahnya. Dalam kondisi yang sangat sulit itu, Utsman tidak membalas kebencian mereka dengan kebencian, tetapi dengan mengingatkan mereka akan jasa-jasanya kepada Islam dan kaum muslimin.

Tiga keutamaan yang disebutkan Utsman:

  1. Membeli perluasan Masjid Nabawi. Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, masjid terlalu sempit untuk menampung kaum muslimin. Beliau menawarkan siapa yang mau membeli tanah di sebelah masjid dengan hartanya sendiri, maka ia akan mendapat kebaikan di surga. Utsman langsung membelinya dan mewakafkannya untuk kaum muslimin. Ini menunjukkan kedermawanan Utsman yang luar biasa.
  2. Membeli sumur Raumah. Di Madinah saat itu hanya ada satu sumur yang airnya baik, yaitu sumur Raumah, dan pemiliknya menjual airnya dengan harga mahal. Rasulullah ﷺ menawarkan siapa yang membeli sumur itu dan mewakafkannya, maka baginya surga. Utsman membelinya dengan harga yang sangat mahal dan mewakafkannya untuk seluruh kaum muslimin.
  3. Menyiapkan pasukan Al-Usrah (Tabuk). Pada Perang Tabuk yang dikenal dengan kesulitan yang sangat berat (karena musim panas, paceklik, dan perjalanan jauh), Rasulullah ﷺ meminta kaum muslimin berinfak. Utsman menyumbangkan harta yang sangat besar. Dalam riwayat lain disebutkan beliau membawa seribu unta dan seribu dinar. Sampai-sampai Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak akan membahayakan Utsman apa pun yang ia lakukan setelah hari ini."

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil yang sangat kuat tentang keutamaan Utsman bin Affan. Imam Al-Bukhari meriwayatkan sebagian dari hadits ini dalam Shahih-nya. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan Utsman yang sangat besar, dan bahwa beliau adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa para sahabat secara keseluruhan adalah orang-orang yang adil dan mulia, dan Utsman termasuk yang paling utama di antara mereka setelah Abu Bakar dan Umar. Mencela Utsman berarti mencela sahabat Rasulullah ﷺ, dan ini adalah perbuatan yang terlarang.

Imam Al-Barbahari dalam kitabnya As-Sunnah juga menegaskan bahwa mencela para sahabat adalah kesesatan, karena mereka adalah orang-orang yang telah dipilih Allah untuk menemani Nabi-Nya.

Story Telling

Ada kisah yang sangat menyentuh tentang Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu. Ketika beliau dikepung, beliau tidak memerintahkan pasukan untuk melawan, karena beliau tidak ingin terjadi pertumpahan darah di antara umat Islam. Beliau lebih memilih bersabar dan berdialog dengan penuh hikmah.

Dalam hadits ini, Utsman memanggil dua orang yang memimpin pengepungan dan bertanya kepada mereka dengan bersumpah demi Allah, apakah mereka mengetahui jasa-jasanya. Mereka menjawab: "Demi Allah, ya." Utsman tidak marah atau menghina mereka, tetapi hanya mengingatkan dengan cara yang sangat santun.

Ini adalah pelajaran besar bagi kita: ketika kita dizalimi, kita tetap harus menjaga adab dan tidak membalas dengan keburukan. Utsman mengajarkan kita untuk bersabar dan berdialog dengan baik, meskipun dalam keadaan yang sangat sulit.

Kesimpulan Praktis

  1. Cintai para sahabat dan jangan pernah mencela mereka, karena mereka adalah generasi terbaik umat ini.
  2. Teladani kedermawanan Utsman dalam berinfak untuk kemaslahatan umat, seperti membangun masjid, menyediakan air bersih, dan mendukung perjuangan dakwah.
  3. Jaga adab dalam berselisih — Utsman mengajarkan kita untuk tetap tenang dan berdialog dengan baik meskipun dizalimi.
  4. Yakinlah bahwa Allah membalas setiap kebaikan — Utsman berinfak karena mengharap surga, dan Allah pasti menepati janji-Nya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?