Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menerangkan keutamaan berwudhu sebagaimana wudhu Nabi ﷺ lalu mengerjakan shalat lima waktu secara berurutan; setiap shalat menjadi penghapus dosa kecil antara shalat tersebut dengan shalat sebelumnya. Di akhir hadits, Utsman bin Affan رضي الله عنه menyebutkan bahwa "amal-amal yang kekal" (al-baqiyat ash-shalihah) adalah kalimat tauqid, tasbih, tahmid, takbir, dan hauqalah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang menjadi rujukan makna hadits ini:
Firman Allah ﷻ:
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
QS. Hud [11]: 114
"…Sesungguhnya amal-amal kebaikan itu menghapuskan dosa-dosa (yang kecil)."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (Musnad Utsman bin Affan, no. 513), dari jalur Abu Abdurrahman al-Muqri' ← Haiwah ← Abu Aqil ← al-Harits maula Utsman. Maknanya sejalan dengan hadits-hadits shahih tentang keutamaan wudhu dan shalat lima waktu sebagai penghapus dosa, sebagaimana disebutkan Imam Muslim dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dan Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya tentang wudhu Nabi ﷺ.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dihapus oleh shalat lima waktu adalah dosa-dosa kecil (ash-shagha'ir), bukan dosa besar.
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan hal yang sama: penghapusan dosa di sini berlaku untuk dosa kecil, sedangkan dosa besar memerlukan taubat khusus.
- Ibn Katsir dalam tafsirnya atas QS. Hud [11]: 114 menjelaskan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan seseorang yang melakukan dosa lalu bertaubat, dan menjadi dalil umum bahwa kebaikan menghapus keburukan.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menyebutkan bahwa "al-baqiyat ash-shalihah" (amal-amal yang kekal) adalah kalimat-kalimat dzikir yang disebutkan dalam hadits ini.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
Pertama: Anjuran mengikuti sunnah Nabi ﷺ dalam berwudhu.
Utsman bin Affan رضي الله عنه memperagakan wudhu di hadapan para sahabat agar mereka meniru cara wudhu Nabi ﷺ. Ini menunjukkan semangat salaf dalam mengajarkan sunnah secara praktik, bukan hanya teori. Imam an-Nawawi dalam Al-Minhaj menyebutkan bahwa para sahabat sering memperagakan wudhu Nabi ﷺ untuk mengajarkan tata caranya kepada tabi'in.
Kedua: Keutamaan shalat lima waktu sebagai penghapus dosa kecil.
Nabi ﷺ menyebutkan bahwa setiap shalat menghapus dosa antara shalat tersebut dengan shalat sebelumnya. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah dosa-dosa kecil (ash-shagha'ir), karena dosa besar tidak terhapus kecuali dengan taubat. Imam an-Nawawi menambahkan bahwa syaratnya adalah shalat dikerjakan dengan ikhlas, sesuai sunnah, dan disertai wudhu yang benar.
Ketiga: Al-baqiyat ash-shalihah (amal-amal yang kekal).
Ketika para sahabat bertanya tentang "amal-amal yang kekal", Utsman رضي الله عنه menyebutkan kalimat:
- لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ (Laa ilaaha illallah)
- سُبْحَانَ اللَّهِ (Subhanallah)
- الْحَمْدُ لِلَّهِ (Alhamdulillah)
- اللَّهُ أَكْبَرُ (Allahu akbar)
- لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ (Laa haula wa laa quwwata illaa billah)
Ibn Katsir dalam tafsirnya atas QS. Al-Kahfi [18]: 46 ("al-baqiyat ash-shalihah") menyebutkan bahwa para ulama menafsirkannya dengan kalimat-kalimat dzikir ini, berdasarkan hadits-hadits shahih. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Al-Wabil ash-Shayyib menjelaskan bahwa kalimat-kalimat ini adalah amal yang pahalanya terus mengalir dan tidak terputus.
Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:
Sebagian ulama seperti Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menegaskan bahwa "al-baqiyat ash-shalihah" mencakup seluruh amal shalih, bukan hanya dzikir. Namun Ibn Katsir dan Ibn Qayyim menguatkan bahwa dzikir-dzikir ini adalah bentuk utamanya, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain. Pendapat yang paling kuat adalah bahwa kalimat-kalimat dzikir ini termasuk al-baqiyat ash-shalihah yang paling utama, sebagaimana disebutkan dalam hadits ini.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Utsman bin Affan رضي الله عنه, khalifah yang terkenal dengan kedermawanan dan kelembutannya, suatu hari duduk bersama para sahabat. Ketika mu'adhdhin datang menandakan masuknya waktu shalat, beliau meminta air untuk berwudhu. Beliau berwudhu dengan sangat teliti, lalu berkata kepada yang hadir: "Aku melihat Rasulullah ﷺ berwudhu seperti wudhuku ini."
Kemudian beliau menyebutkan keutamaan shalat lima waktu yang menghapus dosa antara satu shalat dengan shalat lainnya. Para sahabat yang mendengarkan bertanya: "Ini adalah amal-amal baik, tetapi apa amal-amal yang kekal, wahai Utsman?" Beliau menjawab dengan penuh hikmah: "Itulah kalimat Laa ilaaha illallah, Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu akbar, dan Laa haula wa laa quwwata illaa billah."
Kisah ini menunjukkan bagaimana para sahabat saling mengingatkan dan bertanya tentang kebaikan, serta bagaimana Utsman رضي الله عنه mengajarkan sunnah dengan lembut dan penuh adab. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa para salaf sangat bersemangat mengajarkan sunnah melalui praktik langsung dan tanya jawab.
Kesimpulan Praktis
- Berwudhulah sesuai sunnah Nabi ﷺ — dengan tertib, sempurna, dan tidak berlebihan.
- Jagalah shalat lima waktu — karena ia menghapus dosa-dosa kecil antara shalat tersebut dengan shalat sebelumnya.
- Perbanyaklah dzikir dengan kalimat al-baqiyat ash-shalihah: Laa ilaaha illallah, Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu akbar, dan Laa haula wa laa quwwata illaa billah.
- Ketahuilah bahwa dosa besar memerlukan taubat khusus, bukan sekadar shalat lima waktu, sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar dan Imam an-Nawawi.
- Ajarkanlah sunnah dengan lembut dan praktik langsung, sebagaimana dicontohkan Utsman bin Affan رضي الله عنه.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.