Penjelasan Hadits Ahmad No. 506 tentang Keutamaan membangun masjid demi Allah mendapat balasan surga

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan keutamaan yang sangat besar bagi siapa saja yang membangun masjid karena Allah ﷻ, yaitu Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga. Kisah ini terjadi ketika Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu ingin memperluas Masjid Nabawi karena kebutuhan kaum muslimin semakin banyak, namun sebagian orang merasa keberatan karena ingin mempertahankan bentuk aslinya. Utsman kemudian menyampaikan hadits ini sebagai dalil dan motivasi atas tindakannya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat:

  • Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 506), dari Mahmud bin Labid, bahwa Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu berkata: "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ مِثْلَهُ — "Barangsiapa membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangunkan untuknya rumah yang semisal di surga."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (no. 450) dan Imam Muslim (no. 533) dari jalur Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu dengan lafaz yang semakna.

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

QS. At-Taubah [9]: 18

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

"Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, serta (tetap) melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada apa pun) selain kepada Allah. Maka mudah-mudahan mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk."

Penjelasan Ulama:

  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan membangun masjid dan bahwa balasan "rumah di surga" disebutkan dengan lafaz "mitslahu" (semisal) sebagai bentuk pengagungan terhadap amalan tersebut, bukan berarti bentuknya persis sama, karena surga tidak bisa diserupakan dengan dunia.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "mitslahu" adalah Allah akan membalasnya dengan rumah di surga sebagai balasan yang setimpal dan mulia, dan ini adalah keutamaan besar yang menunjukkan luasnya rahmat Allah.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

1. Keutamaan Membangun Masjid

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa membangun masjid termasuk amalan yang pahalanya terus mengalir (amal jariyah) selama masjid tersebut digunakan untuk ibadah. Ini sejalan dengan hadits lain tentang tiga amalan yang pahalanya tidak terputus: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan orang tuanya.

2. Ikhlas dalam Membangun Masjid

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa syarat mendapatkan keutamaan ini adalah membangun masjid "lillah" — murni karena Allah, bukan karena riya', gengsi, atau tujuan duniawi. Jika ada unsur riya', maka pahalanya bisa berkurang atau bahkan hilang.

3. Kisah Utsman dan Pelajaran Tentang Niat Baik

Kisah Utsman bin Affan ini menarik. Beliau ingin memperluas Masjid Nabawi karena jumlah kaum muslimin semakin banyak. Sebagian orang keberatan karena ingin mempertahankan bentuk aslinya. Utsman tidak marah, tidak memaksa, tetapi beliau menyampaikan dalil dari Rasulullah ﷺ. Ini menunjukkan adab seorang pemimpin: menjelaskan dengan hikmah dan dalil, bukan dengan kekuasaan.

4. Perbedaan Pendapat Ulama Tentang "Mitslahu" (Semisal)

  • Sebagian ulama seperti Imam al-Bukhari dan Ibnu Hajar memahami bahwa balasan "rumah semisal" ini adalah bentuk kemuliaan dari Allah, bukan berarti rumah di surga berbentuk persis seperti masjid di dunia. Karena surga tidak bisa diserupakan dengan dunia.
  • Imam Ibnul Qayyim dalam kitabnya menjelaskan bahwa balasan Allah selalu sesuai dengan jenis amalan. Jika seseorang membangun masjid, maka Allah membangunkan untuknya rumah di surga. Ini menunjukkan keadilan dan kemurahan Allah.

5. Apakah Masjid Harus Dibangun Mewah?

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa yang terpenting dalam membangun masjid adalah fungsional dan nyaman untuk ibadah, tidak harus berlebihan dalam kemewahan. Yang lebih utama adalah membangun masjid di tempat yang benar-benar dibutuhkan, bukan sekadar gengsi atau berlomba-lomba.

6. Hikmah dari Kisah Utsman

Imam Ibnu Katsir dalam Al-Bidayah wan Nihayah menceritakan bahwa Utsman membeli perluasan Masjid Nabawi dari sebagian sahabat yang memiliki tanah di sekitarnya dengan harga yang baik, agar tidak ada yang merasa dirugikan. Ini menunjukkan adab dalam urusan harta dan kemaslahatan umum.

Story Telling

Ada kisah yang sangat indah tentang seorang sahabat yang membangun masjid dengan ikhlas. Diriwayatkan bahwa ada seorang lelaki dari kalangan Anshar yang membangun masjid kecil di rumahnya atau di kampungnya. Rasulullah ﷺ bersabda tentangnya: "Sesungguhnya di surga ada rumah yang lebih baik dari ini." (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari Mahmud bin Labid juga).

Kisah ini menunjukkan bahwa Allah tidak melihat besar kecilnya bangunan, tetapi melihat keikhlasan hati. Masjid kecil yang dibangun karena Allah bisa lebih dicintai Allah daripada masjid megah yang dibangun karena riya'.

Juga dalam kisah Utsman bin Affan, ketika beliau memperluas Masjid Nabawi, beliau tidak menggunakan paksaan. Beliau membeli tanah-tanah di sekitarnya dengan harga yang baik. Ini mengajarkan bahwa membangun masjid harus memperhatikan hak-hak orang lain dan tidak boleh merugikan siapa pun.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak amal jariyah, dan membangun masjid adalah salah satu amal jariyah yang paling utama.
  2. Niatkan ikhlas karena Allah dalam setiap amal, termasuk membangun atau membantu pembangunan masjid.
  3. Jika ingin membangun masjid, utamakan yang benar-benar dibutuhkan, jangan berlebihan dalam kemewahan, dan perhatikan hak-hak orang lain.
  4. Jika tidak mampu membangun, bisa ikut serta dengan donasi, atau membantu dengan tenaga, atau bahkan dengan membersihkan masjid. Semua itu termasuk dalam memakmurkan masjid.
  5. Teladani sikap Utsman: ketika ingin melakukan kebaikan, jelaskan dengan dalil dan hikmah, jangan memaksakan kehendak.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?