Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Ahmad No. 373 tentang Tawakal kepada Allah dan rezeki seperti burung

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah hadits yang sangat agung tentang keutamaan tawakkal kepada Allah ﷻ. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa jika kita benar-benar bertawakkal kepada Allah dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, niscaya Allah akan mencukupi dan memberikan rezeki kepada kita sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung. Burung keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar, lalu kembali dalam keadaan kenyang karena Allah yang mengurus rezekinya. Ini bukan berarti kita dilarang berusaha, karena burung itu sendiri pergi (berusaha) mencari rezeki, tetapi hatinya bergantung penuh kepada Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Al-Hakim dari sahabat Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu. Lafazh yang masyhur dalam riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Majah adalah dari sahabat Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu.

Teks Arab Hadits (sesuai riwayat Musnad Ahmad):

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ، أَنْبَأَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ هُبَيْرَةَ، قَالَ سَمِعْتُ أَبَا تَمِيمٍ الْجَيْشَانِيَّ، يَقُولُ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ أَلَا تَرَوْنَ أَنَّهَا تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا

Terjemahan: "Jika kalian benar-benar bertawakkal kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberikan rezeki kepada burung. Tidakkah kalian melihat bahwa mereka pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang."

Dalil Al-Qur'an yang terkait:

Allah ﷻ berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ ۚ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

"Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu." (QS. Ath-Thalaq [65]: 3)

Kaitan dengan ulama:

  • Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa tawakkal adalah setengah dari agama, dan inilah makna yang ditunjukkan dalam hadits ini.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Tafsir As-Sa'di menjelaskan bahwa tawakkal bukan berarti meninggalkan usaha, tetapi usaha dengan hati yang bersandar kepada Allah.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung pelajaran yang sangat dalam tentang hakikat tawakkal. Mari kita pahami bersama:

1. Makna "Tawakkal yang Sebenar-benarnya" (حَقَّ تَوَكُّلِهِ)

Para ulama menjelaskan bahwa tawakkal yang sebenar-benarnya adalah bersandarnya hati kepada Allah dalam segala urusan, disertai keyakinan penuh bahwa Allah yang mengatur, mencukupi, dan memberikan hasil. Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa tawakkal adalah pekerjaan hati, bukan pekerjaan anggota badan. Artinya, seseorang boleh dan bahkan harus berusaha dengan anggota badannya, tetapi hatinya tetap bergantung kepada Allah, bukan kepada hasil usahanya.

2. Perumpamaan Burung yang Mencari Rezeki

Perhatikanlah burung dalam hadits ini. Burung itu tidak tinggal diam di sarangnya menunggu makanan jatuh dari langit. Ia pergi (غَدَوْ) di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali (رَاحَ) di sore hari dalam keadaan kenyang. Ini menunjukkan bahwa burung itu berusaha, terbang mencari rezeki. Namun, yang memberi rezeki adalah Allah. Burung tidak membawa bekal, tidak menyimpan stok, dan tidak khawatir tentang hari esok. Ia keluar dengan hati yang tawakkal kepada Allah.

Imam Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa hadits ini menggabungkan antara usaha dan tawakkal. Burung berangkat (usaha) dan Allah yang memberi rezeki (hasil). Maka orang yang bertawakkal bukanlah orang yang malas, tetapi orang yang berusaha dengan sungguh-sungguh sambil hatinya bersandar kepada Allah.

3. Pelajaran tentang Rezeki

Syaikh As-Sa'di menjelaskan bahwa rezeki itu datangnya dari Allah semata. Jika seseorang bertawakkal dengan benar, Allah akan memudahkan jalan rezeki baginya dari arah yang tidak disangka-sangka, sebagaimana Allah memberi rezeki kepada burung yang tidak punya simpanan apa pun.

4. Bukan Berarti Meninggalkan Usaha

Penting untuk dipahami bahwa hadits ini tidak memerintahkan kita untuk meninggalkan usaha dan pekerjaan. Karena burung saja berusaha dengan terbang mencari makan. Yang dilarang adalah hati yang bergantung kepada makhluk atau kepada hasil usaha semata, bukan bergantung kepada Allah.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya tentang seseorang yang duduk di rumah atau di masjid dan berkata, "Aku tidak akan bekerja, sampai rezekiku datang." Maka Imam Ahmad menjawab, "Orang ini tidak paham. Karena Rasulullah ﷺ sendiri memerintahkan untuk berusaha, dan burung dalam hadits itu pergi mencari rezeki."

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal suatu hari didatangi oleh seseorang yang mengaku bertawakkal dan tidak mau berusaha. Maka Imam Ahmad berkata kepadanya, "Engkau telah menyalahi sunnah. Karena Nabi ﷺ sendiri berdagang, dan para sahabat bekerja. Burung dalam hadits Nabi ﷺ itu pergi di pagi hari dan kembali di sore hari. Itulah tawakkal yang benar: berusaha dengan badan, tetapi hati bersandar kepada Allah."

Kisah ini menunjukkan bahwa pemahaman yang benar tentang tawakkal tidak pernah bertentangan dengan usaha. Bahkan, para ulama salaf adalah orang-orang yang paling giat bekerja, namun hati mereka tidak pernah bergantung kepada hasil kerja mereka, melainkan kepada Allah semata.

Kesimpulan Praktis

  1. Tawakkal adalah pekerjaan hati, bukan alasan untuk bermalas-malasan.
  2. Tetap berusaha dan bekerja sebagaimana burung yang pergi mencari rezeki, tetapi hati tidak bergantung kepada hasil usaha.
  3. Yakinlah bahwa rezeki datangnya dari Allah, bukan dari usaha kita semata. Usaha hanyalah sebab, Allah yang menentukan hasil.
  4. Jauhkan hati dari rasa khawatir berlebihan tentang rezeki, karena Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk-Nya.
  5. Perbanyak doa dan istighfar, karena keduanya adalah sebab datangnya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.