Penjelasan Hadits Ahmad No. 298 tentang Anjuran mencari Lailatul Qadr pada malam ganjil sepuluh terakhir Ramadan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini memerintahkan siapa yang ingin mendapatkan Lailatul Qadr agar mencarinya pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadan. Malam ganjil yang dimaksud adalah malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29. Ini menunjukkan kesungguhan dalam ibadah di akhir Ramadan, bukan memastikan satu malam tertentu secara pasti.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, dalam Musnad Ahmad (no. 298). Perawi jalur ini: Husain bin Ali, dari Zaidah, dari Ashim, dari ayahnya (Abu an-Najud), dari Ibnu Abbas, dari Umar. Maknanya dikuatkan oleh hadits-hadits shahih lain, di antaranya dari Aisyah radhiyallahu 'anha dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Nabi ﷺ bersabda mencari Lailatul Qadr pada sepuluh malam terakhir, dan dari Ibnu Umar dalam Shahihain tentang malam ganjil.

Ayat yang menjadi landasan keutamaan malam ini:

﴿إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ﴾

QS. Al-Qadr [97]: 1 — "Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan."

﴿لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ﴾

QS. Al-Qadr [97]: 3 — "Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan."

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Lailatul Qadr adalah malam yang agung karena Al-Qur'an diturunkan padanya, dan amal di dalamnya lebih baik dari amal seribu bulan. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "mencari" adalah bersungguh-sungguh menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan malam ganjil adalah yang paling ditekankan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa poin penting:

Pertama, kata "مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُلْتَمِسًا" (siapa yang mencari) menunjukkan bahwa Lailatul Qadr perlu dicari dengan usaha, bukan didapat dengan bermalas-malasan. Ini mendorong semangat ibadah, bukan sekadar menunggu.

Kedua, "فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ" (pada sepuluh malam terakhir) menunjukkan waktu pencarian yang utama. Para ulama di daftar kami sepakat bahwa sepuluh malam terakhir Ramadan adalah waktu paling ditekankan untuk i'tikaf dan menghidupkan malam. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengkhususkan sepuluh malam terakhir dengan ibadah yang tidak beliau lakukan di waktu lain.

Ketiga, "وِتْرًا" (ganjil). Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa malam ganjil adalah malam ke-21, 23, 25, 27, dan 29. Namun beliau juga menyebut bahwa sebagian ulama memahami "ganjil" bisa merujuk pada malam yang ganjil menurut hitungan tertentu, dan ada riwayat yang mengisyaratkan malam ke-27 lebih ditekankan. Yang paling kuat menurut dalil adalah tetap mencari di seluruh malam ganjil, tidak memastikan satu malam saja, karena Nabi ﷺ sendiri tidak memastikan dan bahkan dalam riwayat lain beliau lupa atau dijadikan lupa tentang penentuan malamnya.

Keempat, hadits ini tidak berarti malam genap tidak perlu dihidupkan. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir adalah sunnah, dan penekanan pada malam ganjil adalah anjuran tambahan.

Adapun sanad hadits ini melalui Ashim bin Abi an-Najud dari ayahnya dari Ibnu Abbas dari Umar. Para ulama hadits seperti Yahya bin Ma'in dan Ali bin al-Madini menilai Ashim sebagai perawi yang tsiqah (terpercaya) dalam qira'at dan riwayat, meskipun ada catatan dalam sebagian riwayat. Makna hadits ini dikuatkan oleh riwayat-riwayat shahih lain, sehingga maknanya tetap kuat dan dapat diamalkan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu sangat bersungguh-sungguh dalam sepuluh malam terakhir Ramadan. Dalam riwayat yang dikenal, beliau beri'tikaf di masjid dan tidak keluar kecuali untuk keperluan mendesak. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma, yang meriwayatkan hadits ini dari Umar, adalah salah satu sahabat yang paling semangat dalam menuntut ilmu dan meriwayatkan sunnah. Hikmahnya: kesungguhan salaf dalam mencari Lailatul Qadr bukan karena ingin "menang" mendapatkan malam itu, tetapi karena rindu kepada ampunan dan rahmat Allah. (Sumber global: riwayat-riwayat dalam kitab-kitab shahih dan musnad.)

Kesimpulan Praktis

  • Hidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan dengan shalat malam, tilawah, dzikir, doa, dan sedekah.
  • Beri perhatian khusus pada malam ganjil: 21, 23, 25, 27, dan 29.
  • Jangan memastikan satu malam saja; carilah di seluruh malam ganjil sebagaimana petunjuk hadits.
  • Perbanyak doa yang diajarkan Nabi ﷺ, terutama doa: "اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي" (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku) — diriwayatkan dari Aisyah dalam Sunan at-Tirmidzi dan lainnya.
  • Jaga adab dan kesungguhan tanpa berlebihan (ghuluw), karena ibadah yang benar adalah yang sesuai sunnah dan dilakukan dengan lembut serta istiqamah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?