Penjelasan Hadits Ahmad No. 252 tentang Kalimat tauhid menjadi cahaya saat kematian

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan kegelisahan Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu 'anhu, bukan karena Abu Bakr menjadi khalifah, tetapi karena beliau mendengar Nabi ﷺ menyebutkan sebuah kalimat yang sangat bermanfaat saat kematian, dan beliau belum mengetahui kalimat itu. Umar radhiyallahu 'anhu kemudian menjelaskan bahwa kalimat itu adalah syahadat "Laa ilaaha illallah". Hadits ini mengajarkan pentingnya mengucapkan kalimat tauhid saat menghadapi kematian, dan bahwa tauhid adalah cahaya serta ketenangan bagi seorang mukmin.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Ibrahim [14]: 27

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۖ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ ۚ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

Terjemahan: "Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim, dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (Musnad Umar bin al-Khaththab), dari jalur asy-Sya'bi. Hadits ini juga memiliki makna yang didukung oleh hadits-hadits lain tentang keutamaan kalimat tauhid, seperti hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa mengucapkan 'Laa ilaaha illallah' dengan ikhlas dari hatinya, maka ia akan masuk surga."

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kalimat tauhid adalah kalimat yang paling utama dan paling bermanfaat bagi seorang hamba, terutama saat menghadapi kematian.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa talqin (menuntun) kalimat tauhid kepada orang yang sedang sakaratul maut adalah sunnah yang sangat dianjurkan.
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa kalimat tauhid adalah cahaya yang menerangi kubur dan menghilangkan kegelapan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

1. Kegelisahan Thalhah radhiyallahu 'anhu bukan karena duniawi

Umar radhiyallahu 'anhu awalnya mengira Thalhah gelisah karena Abu Bakr radhiyallahu 'anhu diangkat menjadi khalifah. Namun Thalhah menjelaskan bahwa kegelisahannya adalah karena beliau mendengar Nabi ﷺ menyebutkan sebuah kalimat yang sangat bermanfaat saat kematian, dan beliau belum mengetahuinya. Ini menunjukkan bahwa perhatian utama para sahabat adalah urusan akhirat, bukan jabatan dunia.

2. Kalimat tauhid adalah cahaya dan ketenangan saat kematian

Nabi ﷺ bersabda bahwa kalimat tersebut akan menjadi "nur" (cahaya) dalam catatan amal, atau menjadi "rauh" (ketenangan/kelapangan) saat menghadapi kematian. Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa maksud "nur" adalah cahaya yang menerangi kubur dan menjadi syafaat di hari kiamat. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Kitab ar-Ruh menyebutkan bahwa ruh orang yang mengucapkan kalimat tauhid akan merasakan ketenangan dan kelapangan saat dicabut nyawanya.

3. Kalimat yang dimaksud adalah syahadat

Umar radhiyallahu 'anhu menjelaskan bahwa kalimat itu adalah "Laa ilaaha illallah", yaitu kalimat yang Nabi ﷺ perintahkan kepada pamannya, Abu Thalib, saat menjelang wafat. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa kalimat tauhid adalah kalimat yang paling utama untuk diucapkan saat sakaratul maut, karena ia adalah inti dari agama Islam.

4. Thalhah merasa lega setelah mengetahui kalimat tersebut

Setelah Umar menjelaskan, Thalhah berkata: "Seolah-olah beban besar telah diangkat dariku." Ini menunjukkan betapa besar keinginan para sahabat untuk mengetahui hal-hal yang bermanfaat bagi akhirat mereka. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa ini adalah bukti kecintaan para sahabat terhadap ilmu dan amal yang menyelamatkan mereka di akhirat.

5. Perbedaan pendapat tentang status hadits

Sebagian ulama hadits menilai hadits ini memiliki kelemahan dari sisi sanad, karena terdapat perawi yang tidak disebutkan namanya ("rajul"). Namun maknanya didukung oleh banyak hadits shahih lainnya tentang keutamaan kalimat tauhid. Syeikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah menyebutkan bahwa hadits ini memiliki syawahid (penguat) yang mengangkat derajatnya.

Story Telling

Dikisahkan bahwa suatu ketika Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu berjalan melewati Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu 'anhu. Umar melihat wajah Thalhah yang tampak murung dan gelisah. Umar pun bertanya dengan lembut, "Mungkin kamu merasa tidak senang karena sepupumu, Abu Bakr, diangkat menjadi khalifah?"

Thalhah segera menjawab dengan tegas, "Tidak, demi Allah! Aku tidak gelisah karena itu. Aku gelisah karena aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Aku mengetahui sebuah kalimat yang jika diucapkan seseorang saat meninggal, ia akan menjadi cahaya dalam catatan amalnya, atau ia akan menemukan ketenangan saat kematian.' Aku belum mengetahui kalimat itu, dan aku takut jika aku meninggal tanpa mengetahuinya."

Umar radhiyallahu 'anhu kemudian berkata dengan tenang, "Aku akan memberitahumu. Kalimat itu adalah kalimat yang Nabi ﷺ inginkan untuk pamannya, yaitu syahadat 'Laa ilaaha illallah'."

Mendengar penjelasan itu, Thalhah merasa lega dan berkata, "Seolah-olah beban besar telah diangkat dari pundakku. Kamu benar. Jika Nabi ﷺ mengetahui kalimat yang lebih baik dari itu, tentu beliau akan memerintahkan pamannya untuk mengucapkannya."

Kisah ini menunjukkan betapa para sahabat sangat memperhatikan urusan akhirat dan berusaha keras untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Mereka tidak silau oleh jabatan dunia, tetapi justru gelisah jika ada amal yang belum mereka ketahui.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak mengucapkan kalimat tauhid "Laa ilaaha illallah" dalam kehidupan sehari-hari, karena ia adalah cahaya dan ketenangan saat kematian.
  2. Talqin kepada orang yang sedang sakaratul maut dengan kalimat tauhid adalah sunnah yang sangat dianjurkan, sebagaimana dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dan Ibn Rajab al-Hanbali.
  3. Fokus pada urusan akhirat lebih utama daripada sibuk dengan jabatan dan kedudukan duniawi, sebagaimana dicontohkan oleh para sahabat.
  4. Berusaha mencari ilmu yang bermanfaat dan tidak malu bertanya kepada orang yang lebih tahu, sebagaimana Thalhah bertanya kepada Umar.
  5. Yakinlah bahwa tauhid adalah inti agama dan merupakan sebab utama keselamatan di akhirat, sebagaimana dijelaskan oleh Ibn Katsir dan Ibn Qayyim al-Jawziyyah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?