Penjelasan Hadits Ahmad No. 196 tentang Takdir dan usaha manusia

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa segala sesuatu yang terjadi telah diketahui dan ditulis oleh Allah sejak azali, namun hal itu tidak menjadikan manusia boleh bermalas-malasan. Nabi ﷺ justru memerintahkan Umar untuk tetap beramal, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang telah Allah tetapkan baginya. Orang yang bahagia akan dimudahkan beramal menuju kebahagiaan, dan orang yang celaka akan dimudahkan menuju kecelakaan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:

QS. Al-Qamar [54]: 49

وَلَقَدْ خَلَقْنَا كُلَّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ

"Dan sungguh, Kami telah menciptakan segala sesuatu dengan ukuran (takdir)."

QS. At-Takwir [81]: 28-29

لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ ۝ وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

"Bagi siapa di antara kalian yang ingin menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (Musnad Umar bin al-Khattab, no. 196), dari jalur 'Ashim bin 'Ubaidillah, dari Salim, dari Ibnu Umar, dari Umar bin al-Khaththab رضي الله عنهما.

Makna serupa juga terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari hadits Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه, bahwa Nabi ﷺ bersabda tentang tidak ada seorang pun kecuali telah ditulis tempatnya di surga atau neraka. Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, mengapa kita tidak bersandar saja?" Beliau menjawab: "Tidak, beramallah, karena setiap orang dimudahkan sesuai dengan apa yang diciptakan untuknya."

Kaitan dengan ulama:

  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini merupakan dalil bahwa takdir tidak menghapus kewajiban berusaha.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa perintah beramal adalah kewajiban, dan takdir adalah rahasia Allah yang tidak boleh dijadikan alasan meninggalkan amal.
  • Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Syifa'ul 'Alil dan Al-Qadha wal Qadar membahas panjang lebar bahwa ilmu Allah yang azali tidak memaksa hamba, tetapi menjadi dasar bagi kehendak dan perbuatan hamba.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه bertanya kepada Nabi ﷺ tentang hakikat amal yang dilakukan manusia: apakah semua yang kita kerjakan sudah ditetapkan sejak azali, ataukah sesuatu yang baru dan belum ditetapkan? Nabi ﷺ menjawab bahwa semuanya sudah ditetapkan (فِيمَا قَدْ فُرِغَ مِنْهُ).

Kemudian Umar bertanya: "Kalau begitu, mengapa kita tidak bersandar saja (tidak beramal)?" Ini adalah pertanyaan yang sangat wajar dari seorang yang ingin memahami hakikat takdir. Namun Nabi ﷺ menjawab dengan tegas: "Beramallah, wahai putra al-Khattab, karena setiap orang akan dimudahkan."

Pemahaman para ulama:

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa takdir Allah tidak menjadi alasan untuk meninggalkan usaha. Justru Allah telah menetapkan sebab-sebab (asbab) dan hasil (natijah) secara bersamaan. Orang yang ditetapkan bahagia, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju kebahagiaan berupa amal saleh. Sebaliknya, orang yang ditetapkan celaka, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju kecelakaan.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyatakan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa manusia tetap memiliki ruang usaha (kasb), dan takdir tidak memaksa secara mutlak. Allah mengetahui segala sesuatu, tetapi hamba tetap diberi kemampuan memilih dan berusaha.

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Syifa'ul 'Alil fi Masa'ilil Qadha wal Qadar menjelaskan bahwa perintah "اعْمَلْ" (beramallah) menunjukkan bahwa amal adalah kewajiban, sedangkan takdir adalah ketetapan Allah yang tidak diketahui hamba sebelumnya. Hamba tidak boleh berargumen dengan takdir untuk meninggalkan ketaatan, karena ia tidak mengetahui apa yang ditetapkan untuknya hingga ia beramal.

Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Al-Qaul as-Sadid menjelaskan bahwa hadits ini mengandung kaidah penting: takdir tidak menghapus syariat. Allah menetapkan takdir sekaligus menetapkan sebab-sebab dan perintah beramal. Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan, Allah mudahkan baginya amal saleh.

Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa manusia tidak boleh bertanya "mengapa saya harus beramal jika sudah ditakdirkan?" Karena Allah telah menjadikan amal sebagai sebab untuk mencapai hasil yang telah ditetapkan.

Kesimpulan dari para ulama:

  1. Takdir adalah rahasia Allah yang sudah ditetapkan sejak azali.
  2. Manusia tidak mengetahui takdirnya, sehingga wajib berusaha dan beramal.
  3. Allah memudahkan setiap hamba sesuai dengan apa yang telah ditetapkan baginya.
  4. Tidak boleh berhujjah dengan takdir untuk meninggalkan amal.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Umar bin al-Khaththab رضي الله عنه pernah bertanya kepada Nabi ﷺ tentang takdir, sebagaimana dalam hadits ini. Umar adalah seorang yang sangat teliti dalam memahami agama. Ketika ia mendengar bahwa segala sesuatu sudah ditetapkan, ia bertanya apakah manusia boleh bersandar saja. Namun Nabi ﷺ mengajarkan bahwa justru karena takdir itu ada, manusia harus beramal.

Al-Hasan al-Bashri رحمه الله pernah ditanya tentang takdir, lalu beliau menjawab: "Allah tidak memaksa hamba untuk bermaksiat, tetapi Allah mengetahui apa yang akan mereka kerjakan." Beliau juga berkata: "Sesungguhnya Allah telah menetapkan takdir, tetapi Dia juga memerintahkan hamba untuk beramal dan menjauhi larangan-Nya."

Sufyan ats-Tsauri رحمه الله berkata: "Takdir bukanlah alasan untuk meninggalkan amal, karena Allah tidak memerintahkan sesuatu kecuali hamba mampu mengerjakannya."

Hikmahnya: Seorang hamba tidak boleh menjadikan takdir sebagai alasan untuk bermalas-malasan. Justru ia harus bersemangat dalam beramal, karena ia tidak tahu apa yang telah Allah tetapkan untuknya. Yang ia tahu adalah perintah Allah dan Rasul-Nya, dan itulah yang harus ia kerjakan.

Kesimpulan Praktis

  1. Beramallah dengan sungguh-sungguh, karena Allah telah memerintahkan kita untuk berusaha dan beramal saleh.
  2. Jangan jadikan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan ketaatan atau bermalas-malasan.
  3. Yakinlah bahwa Allah akan memudahkan setiap hamba menuju apa yang telah ditetapkan baginya.
  4. Fokuslah pada usaha dan doa, karena kita tidak mengetahui takdir, tetapi kita mengetahui perintah Allah.
  5. Jauhi perdebatan tentang takdir yang dapat menyesatkan, dan cukupkanlah dengan apa yang diajarkan Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?