Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan tentang kegelisahan sahabat mulia Thalhah bin 'Ubaidillah radhiyallahu 'anhu setelah wafatnya Rasulullah ﷺ. Beliau gelisah karena tidak sempat bertanya tentang satu kalimat yang dijanjikan Rasulullah ﷺ sebagai penenang jiwa saat sakaratul maut dan cahaya di hari kiamat. Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu kemudian menjawab bahwa kalimat itu adalah "Laa ilaaha illallah" — kalimat yang juga diucapkan oleh Nabi ﷺ kepada pamannya Abu Thalib saat menjelang wafat. Ini menunjukkan keutamaan kalimat tauhid yang agung, terutama saat menghadapi kematian.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
Allah ﷻ berfirman:
> الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ ۙ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
"Yaitu orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan baik (suci) sambil berkata (kepada mereka): 'Salamun 'alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.'"
(QS. An-Nahl [16]: 32)
Ayat ini menunjukkan keadaan orang beriman saat dicabut nyawanya — para malaikat menyambutnya dengan salam dan kabar gembira, karena mereka meninggal di atas keimanan dan tauhid.
Hadits terkait:
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 187) dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu, sebagaimana yang disebutkan dalam pertanyaan.
Juga hadits dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
> مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ
"Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah 'Laa ilaaha illallah', maka dia masuk surga."
(HR. Abu Dawud no. 3116, dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)
Kaitan dengan ulama:
- Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya Ad-Da`u wad-Dawa' dan Al-Wabilush Shayyib menjelaskan bahwa kalimat tauhid adalah kalimat yang paling agung, dan saat sakaratul maut, setan berusaha keras untuk menggoda manusia agar keluar dari kalimat ini. Maka barangsiapa yang diteguhkan oleh Allah untuk mengucapkannya di akhir hayatnya, sungguh ia telah meraih keberuntungan yang besar.
- Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa orang-orang yang istiqamah di atas tauhid akan mendapatkan ketenangan saat maut menjemput, sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nahl ayat 32 di atas.
Penjelasan Rinci
Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:
1. Keutamaan kalimat "Laa ilaaha illallah"
Kalimat tauhid ini adalah kalimat yang paling agung di sisi Allah. Ia adalah kunci surga, sebagaimana sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan dari Mu'adz bin Jabal. Para ulama menjelaskan bahwa kalimat ini memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi: ilmu, yakin, ikhlas, jujur, cinta, dan menerima konsekuensinya. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam kitabnya Al-Qawa'idul Arba' dan Kitabut Tauhid menekankan pentingnya memahami makna kalimat ini, bukan sekadar melafalkannya.
2. Perhatian para sahabat terhadap akhir hayat
Kegelisahan Thalhah bin 'Ubaidillah menunjukkan betapa besar perhatian para sahabat terhadap urusan akhir hayat. Mereka sangat bersemangat untuk mengetahui amalan yang bisa menyelamatkan mereka di saat-saat terakhir kehidupan. Ini berbeda dengan kebanyakan orang sekarang yang justru sibuk dengan urusan dunia dan melupakan persiapan menghadapi kematian.
3. Jawaban Umar bin al-Khattab
Umar radhiyallahu 'anhu menjawab bahwa kalimat itu adalah kalimat yang diucapkan Rasulullah ﷺ kepada pamannya Abu Thalib. Ini merujuk pada hadits shahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari Sa'id bin al-Musayyib dari ayahnya, bahwa ketika Abu Thalib menjelang wafat, Rasulullah ﷺ mendatanginya dan bersabda: "Wahai paman, ucapkanlah 'Laa ilaaha illallah', satu kalimat yang akan aku jadikan sebagai hujjah bagimu di sisi Allah." Namun Abu Thalib enggan karena takut dicela kaum Quraisy, dan akhirnya ia meninggal dalam keadaan musyrik.
4. Hikmah dari kisah Abu Thalib
Kisah Abu Thalib menjadi pelajaran bahwa kalimat tauhid harus diucapkan dengan keyakinan dan keikhlasan, bukan sekadar di bibir. Imam Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa Abu Thalib tidak diampuni karena ia menolak mengucapkan kalimat tauhid saat ditawarkan kepadanya, padahal ia mengetahui kebenaran agama Nabi ﷺ. Ini menunjukkan bahwa kesombongan dan takut pada celaan manusia bisa menghalangi seseorang dari hidayah.
5. Makna "rohnya menemukan ketenangan"
Ungkapan Nabi ﷺ bahwa jiwa akan menemukan "rawhan" (ketenangan dan kelegaan) saat keluar dari jasad menunjukkan bahwa orang yang mengucapkan kalimat tauhid dengan ikhlas akan merasakan kemudahan dan ketenangan saat sakaratul maut. Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa kalimat tauhid memiliki pengaruh besar dalam meringankan sakaratul maut, karena hati yang dipenuhi tauhid akan tenang menghadapi perjumpaan dengan Allah.
Story Telling
Dikisahkan bahwa ketika Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu ditikam oleh Abu Lu'lu'ah al-Majusi, beliau dalam keadaan terluka parah. Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu berkata: "Wahai Amirul Mukminin, engkau adalah sahabat Rasulullah ﷺ, engkau adalah orang yang Allah muliakan dengan Islam melalui tanganmu, dan engkau telah berjasa besar bagi umat ini. Maka berwasiatlah."
Umar menjawab dengan tenang: "Aku berwasiat kepada khalifah setelahku agar bertakwa kepada Allah dan memperhatikan hak-hak kaum Muhajirin dan Anshar..." Kemudian beliau menghadap kepada Allah dengan hati yang tenang, dan ketika ditanya tentang keadaannya, beliau berkata: "Alhamdulillah, aku telah berusaha menegakkan agama Allah semampuku."
Umar radhiyallahu 'anhu adalah orang yang sangat memahami keutamaan kalimat tauhid. Dalam hadits yang kita bahas ini, beliau dengan tegas menjawab pertanyaan Thalhah dan menunjukkan pengetahuannya tentang kalimat yang paling agung ini. Ini menunjukkan kedalaman ilmu para sahabat dan perhatian mereka terhadap hal-hal yang berkaitan dengan akhir hayat.
Kesimpulan Praktis
- Perbanyak mengucapkan kalimat "Laa ilaaha illallah" dengan memahami maknanya, bukan sekadar di lisan, agar kita dimudahkan mengucapkannya di akhir hayat.
- Jangan menunda belajar agama — Thalhah gelisah karena tidak sempat bertanya kepada Nabi ﷺ. Maka selagi masih ada kesempatan, perbanyaklah bertanya dan belajar kepada ulama.
- Persiapkan diri menghadapi kematian — kematian pasti datang, dan kita tidak tahu kapan. Maka perbanyak amal shalih dan perbaiki hubungan dengan Allah.
- Jadikan kalimat tauhid sebagai zikir harian — para ulama menganjurkan untuk memperbanyak zikir ini, terutama di waktu-waktu yang mustajab.
- Pelajari syarat-syarat kalimat tauhid — agar keimanan kita benar dan tidak sekadar ikut-ikutan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.