Penjelasan Hadits Ahmad No. 168 tentang Amal tergantung pada niatnya

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu hadits paling agung dalam Islam yang menjadi timbangan seluruh amal. Intinya, setiap amal perbuatan dinilai berdasarkan niat yang ada di dalam hati. Jika niatnya ikhlas karena Allah, maka amalnya diterima dan berpahala. Jika niatnya untuk dunia atau selain Allah, maka amalnya tidak bernilai di sisi Allah. Hadits ini mengajarkan kita untuk selalu meluruskan niat dalam setiap perbuatan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ

"Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus." (QS. Al-Bayyinah [98]: 5)

Hadits yang dimaksud:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (no. 168) dari sahabat Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu. Lafazh yang disebutkan di atas adalah riwayat Imam Ahmad. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahih mereka.

Kaitan dengan ulama:

Hadits ini menjadi landasan utama dalam pembahasan niat dan ikhlas. Imam asy-Syafi'i rahimahullah berkata, "Hadits ini mencakup setengah dari ilmu agama." (Diriwayatkan oleh al-Bayhaqi dalam al-Madkhal). Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah sangat menekankan pentingnya niat dalam setiap amal. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitabnya Majmu' al-Fatawa seringkali merujuk kepada hadits ini untuk menjelaskan bahwa amal tanpa niat yang benar adalah sia-sia.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Imam an-Nawawi rahimahullah dalam kitabnya al-Arba'in an-Nawawiyyah menjadikan hadits ini sebagai hadits pertama, menandakan betapa pentingnya hadits ini sebagai fondasi agama.

Makna "Innamal a'malu binniyyah" (Sesungguhnya amal itu tergantung pada niat):

Para ulama, seperti Imam Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam, menjelaskan bahwa kata "innama" dalam bahasa Arab berfungsi untuk membatasi (hashr). Artinya, sah atau tidaknya suatu amal, serta diterima atau tidaknya pahala, semata-mata tergantung pada niatnya. Sebuah amal yang secara lahiriah baik, seperti shalat atau sedekah, jika tidak diniatkan karena Allah, maka tidak akan bernilai ibadah. Sebaliknya, amal yang mubah (boleh) seperti makan dan minum, jika diniatkan untuk mencari kekuatan beribadah, maka bisa menjadi ibadah yang berpahala.

Makna "Wa likullimri'in ma nawa" (Dan setiap orang akan mendapatkan apa yang dia niatkan):

Ini adalah penegasan dari kalimat sebelumnya. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa balasan dari Allah sesuai dengan apa yang terbersit di dalam hati. Jika seseorang berniat kebaikan, ia akan mendapat kebaikan. Jika berniat keburukan, ia akan mendapat dosa. Jika berniat dunia, ia hanya akan mendapat dunia (jika Allah menghendaki), tanpa pahala akhirat.

Kisah Hijrah dalam Hadits:

Hadits ini turun berkenaan dengan kisah seorang sahabat yang berhijrah dari Makkah ke Madinah bukan karena Allah, melainkan karena ingin menikahi seorang wanita bernama Ummu Qais. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyebutkan kisah ini dalam Majmu' al-Fatawa untuk menunjukkan bahwa amal yang paling agung sekalipun (hijrah) bisa menjadi sia-sia jika niatnya rusak. Ini adalah pelajaran yang sangat keras namun penuh hikmah.

Penerapan dalam Kehidupan:

Imam al-Bukhari rahimahullah menempatkan hadits ini di awal kitab Shahihnya untuk mengingatkan para pembaca bahwa setiap ilmu dan amal harus dimulai dengan niat yang ikhlas. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa para ulama salaf sangat berhati-hati dalam menjaga niat mereka, bahkan mereka lebih takut pada rusaknya niat daripada rusaknya amal itu sendiri.

Story Telling

Diriwayatkan dari Fudail bin 'Iyadh rahimahullah, seorang ulama besar dari kalangan tabi'ut tabi'in, beliau berkata: "Meninggalkan amal karena manusia adalah riya', dan beramal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya."

Beliau juga pernah ditanya tentang makna firman Allah, "Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya." (QS. Al-Mulk [67]: 2). Maka Fudail bin 'Iyadh rahimahullah menjawab, "Yaitu amal yang paling ikhlas dan paling benar." Para sahabat bertanya, "Wahai Abu Ali, apa yang dimaksud dengan amal yang paling ikhlas dan paling benar?" Beliau menjawab, "Sesungguhnya amal itu jika ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima. Dan jika benar tetapi tidak ikhlas, maka tidak diterima. Hingga ia menjadi ikhlas dan benar. Ikhlas adalah karena Allah, dan benar adalah sesuai dengan Sunnah."

Kisah ini menunjukkan betapa pentingnya menggabungkan antara niat yang ikhlas (karena Allah) dan cara yang benar (sesuai tuntunan Nabi ﷺ), sebagaimana yang diajarkan oleh hadits ini.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbaiki Niat Sebelum Beramal: Sebelum melakukan amal apa pun, baik ibadah maupun aktivitas duniawi, biasakan untuk meluruskan niat hanya karena Allah Ta'ala.
  2. Muhasabah (Introspeksi) Niat: Evaluasi terus-menerus niat kita. Jangan sampai amal kebaikan kita ternodai oleh riya' (ingin dipuji) atau tujuan duniawi.
  3. Amal Mubah Menjadi Ibadah: Niatkan aktivitas sehari-hari seperti makan, tidur, dan bekerja sebagai sarana untuk beribadah kepada Allah, agar semua aktivitas kita bernilai pahala.
  4. Jadikan Akhirat sebagai Tujuan Utama: Ingatlah bahwa dunia hanyalah jembatan menuju akhirat. Jangan sampai kita menjadikan dunia sebagai tujuan utama dari amal-amal kita.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Untuk si kecil di rumah

Buku cerita anak bergambar tentang bersyukur dan bahaya sombong.

Rp 15.000 Lihat isi buku

Buku cerita anak · PDF

Qorun yang Sombong

Mimi Ummu Umar, penulis dan ilustrator

Kisah Qorun, sepupu Nabi Musa, yang diberi harta melimpah tapi lupa bersyukur. Diceritakan dengan bahasa anak dan ilustrasi penuh warna.

  • 12 halaman bergambar
  • Usia 3–8 tahun
  • Dengan ayat QS. Al-Qasas
  • PDF, bisa dicetak

Hasil penjualan ikut menjaga Hadits.id tetap gratis untuk semua.

Bayar QRIS, semua bank dan e-wallet. Langsung unduh.

Qorun yang Sombong

Rp 15.000

Scan untuk membayar

Menyiapkan QRIS…
  1. Simpan QRIS
  2. Buka apps bank / e-wallet
  3. Bayar dari galeri

Setelah dibayar, bukunya langsung bisa diunduh di sini dan link-nya dikirim ke .

بَارَكَ اللَّهُ فِيكُمْ

Bukunya sudah jadi milik Anda

Link unduhan juga dikirim ke . Simpan emailnya, link bisa dibuka lagi kapan saja.

Unduh PDF Baca langsung di browser

Email ini sudah punya bukunya

Link unduhan kami kirim ulang ke . Cek juga folder Promosi atau Spam.

Gimana penjelasannya?