Penjelasan Hadits Ahmad No. 1349 tentang Takdir dan usaha manusia sejalan

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa setiap jiwa telah ditetapkan oleh Allah apakah ia akan bahagia atau celaka, namun penetapan ini bukan alasan untuk meninggalkan usaha. Justru Nabi ﷺ memerintahkan untuk tetap beramal, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang telah Allah tetapkan baginya. Ayat yang dibaca Nabi ﷺ (QS. Al-Lail [92]: 5–10) menunjukkan bahwa orang yang gemar memberi, bertakwa, dan membenarkan kebaikan akan dimudahkan jalan kebaikan; sebaliknya orang yang kikir dan merasa cukup serta mendustakan kebaikan akan dimudahkan jalan keburukan.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an — QS. Al-Lail [92]: 5–10

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ ٥ وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ ٦ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ ٧ وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَىٰ ٨ وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَىٰ ٩ فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَىٰ ١٠

Terjemahan ringkas: "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkannya menuju jalan yang mudah (kebaikan). Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka Kami akan memudahkannya menuju jalan yang sulit (keburukan)."

Hadits terkait

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya (no. 1349), dari jalur Abu Abdur-Rahman As-Sulami dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Maknanya sejalan dengan hadits shahih yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Ali bin Abi Thalib tentang penetapan takdir dan kewajiban beramal. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits ini termasuk dalil bahwa takdir tidak menghapus kewajiban berusaha, karena Allah memudahkan hamba sesuai apa yang telah Dia ketahui dan tetapkan.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits

Nabi ﷺ memberitakan bahwa tidak ada satu jiwa pun yang hidup kecuali Allah telah menetapkan baginya kesudahan: bahagia (sa'adah) atau celaka (syaqawah). Ketika seorang lelaki bertanya, "Kalau begitu untuk apa kita berusaha?", Nabi ﷺ tidak melarang pertanyaan itu, tetapi menjawab dengan tegas: "Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan untuk apa yang ia diciptakan untuknya." Lalu beliau membacakan QS. Al-Lail [92]: 5–10 sebagai penjelas.

Pemahaman para ulama dalam daftar

  • Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan hadits ini dalam Musnad-nya, dan beliau dikenal sangat berpegang pada hadits dalam masalah takdir dan amal. Beliau menegaskan bahwa takdir tidak menjadi alasan meninggalkan amal, karena perintah syariat tetap berlaku.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang takdir dan "setiap orang dimudahkan" menunjukkan bahwa Allah menciptakan hamba beserta sebab-sebab yang mengantarkan pada kesudahannya, dan hamba tetap wajib menempuh sebab tersebut.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "dimudahkan" adalah Allah menjadikan amal tersebut mudah dan ringan bagi hamba, sesuai dengan apa yang telah Dia ketahui dan tetapkan. Ini bukan paksaan yang menghapus pilihan, tetapi taufik dan kemudahan dari Allah.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitab-kitabnya seperti Syifa' al-'Alil dan Madarij as-Salikin menegaskan bahwa takdir dan usaha berjalan seiring: Allah menetapkan sebab dan akibat, dan hamba diperintahkan mengambil sebab. Beliau menolak pemahaman fatalistik yang menjadikan takdir alasan bermalas-malasan.
  • Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman menjelaskan ayat Al-Lail ini bahwa Allah memudahkan hamba sesuai amal dan keadaannya: siapa yang memberi, bertakwa, dan membenarkan kebaikan, Allah mudahkan baginya jalan kebaikan; siapa yang kikir, merasa cukup, dan mendustakan, Allah mudahkan baginya jalan keburukan. Ini adalah keadilan Allah yang berjalan bersama pilihan hamba.
  • Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam syarah-syarahnya menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan dua hal sekaligus: penetapan takdir dari Allah, dan kewajiban hamba beramal. Beliau menegaskan bahwa "dimudahkan" bukan berarti dipaksa, tetapi Allah menciptakan pada hamba kemampuan dan kecenderungan menuju apa yang telah ditetapkan.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar

Para ulama Ahlus Sunnah dalam daftar ini sepakat bahwa takdir Allah bersifat rahasia dan tidak menghapus kewajiban amal. Perbedaan yang ada hanya pada rincian teknis tentang hubungan antara takdir dan pilihan hamba, namun semuanya sepakat bahwa:

  1. Allah mengetahui dan menetapkan segala sesuatu sejak azali.
  2. Hamba tetap memiliki usaha dan pilihan dalam batas yang Allah berikan.
  3. Perintah syariat tetap wajib dijalankan.

Yang paling kuat adalah pendapat yang menggabungkan takdir dan amal sebagaimana ditunjukkan hadits ini sendiri, yaitu perintah "اعْمَلُوا" (beramallah) setelah penyebutan takdir.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu menggandeng tangan Abu Abdur-Rahman As-Sulami dan berjalan bersama hingga duduk di tepi sungai Eufrat. Di sana beliau menyampaikan hadits ini. Hikmahnya: Ali radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang sangat dekat dengan Nabi ﷺ dan dikenal kezuhudannya, mengajarkan bahwa takdir bukan alasan untuk berhenti beramal, tetapi justru menjadi pendorong untuk terus berusaha dan bertawakal. Beliau mengajarkannya dalam suasana tenang di tepi sungai, menunjukkan bahwa ilmu tentang takdir disampaikan dengan lembut dan penuh adab, bukan untuk memperdebatkan hal yang ghaib, tetapi untuk menggerakkan amal.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan jadikan takdir sebagai alasan malas beramal. Nabi ﷺ justru memerintahkan "اعْمَلُوا" (beramallah) setelah menyebutkan takdir.
  2. Fokus pada amal yang bisa kita lakukan: memberi (sedekah), bertakwa, dan membenarkan kebaikan (Al-Husna).
  3. Jauhi sifat kikir, merasa cukup dari Allah, dan mendustakan kebaikan, karena itu jalan menuju kesulitan.
  4. Bertawakallah kepada Allah sambil terus berusaha, karena Allah memudahkan hamba sesuai apa yang Dia tetapkan dan ketahui.
  5. Belajarlah ilmu takdir dari ulama yang terpercaya agar tidak salah memahami dan tidak terjatuh pada fatalisme atau ghuluw.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?