Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan tentang sikap agung Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu terhadap Sayyidina Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu. Ketika ada orang-orang yang mengeluhkan para petugas pemungut zakat (su'ah) milik Utsman, Ali tidak serta-merta mencela atau membuka aib Utsman. Sebaliknya, ia justru mengirim surat berisi petunjuk Rasulullah ﷺ tentang tata cara pengambilan zakat, sebagai nasihat yang baik dan solusi. Ini adalah teladan indah tentang adab nasihat antar sesama muslim, terutama kepada pemimpin, yaitu dengan cara yang baik, tidak menghina, dan tidak membuka aib di depan umum.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya, dari Musnad Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Sanadnya: Abdurrazzaq, dari Ibnu 'Uyainah (Sufyan bin 'Uyainah), dari Muhammad bin Suqah, dari Mundzir ats-Tsauri, dari Muhammad bin Ali (Muhammad bin al-Hanafiyyah, putra Ali).
Kisah ini juga memiliki penguat dari riwayat lain, di antaranya disebutkan dalam Shahih al-Bukhari secara mu'allaq (nomor 1448) dan secara lengkap dalam Sunan Abu Dawud (nomor 1568) dan Sunan an-Nasa'i (nomor 2447), dengan redaksi yang serupa tentang surat Rasulullah ﷺ mengenai zakat.
Adapun dalil tentang adab nasihat kepada pemimpin dan sesama muslim, Allah ﷻ berfirman:
وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
"Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar)." (QS. Al-Isra' [17]: 53)
Makna ayat ini: Allah memerintahkan agar kaum mukminin berkata dengan perkataan yang baik, lembut, dan penuh hikmah, bukan perkataan yang kasar atau menyakitkan. Ini sesuai dengan konteks hadits di atas, di mana Ali radhiyallahu 'anhu memilih menyampaikan nasihat melalui surat berisi petunjuk Nabi ﷺ, bukan dengan celaan.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Keutamaan Sayyidina Ali dan Sayyidina Utsman radhiyallahu 'anhuma
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa kisah ini menunjukkan tingginya akhlak Ali bin Abi Thalib. Ia tidak memanfaatkan kesempatan untuk menjatuhkan Utsman di hadapan orang-orang yang datang mengadu. Justru ia mengingatkan mereka dengan cara yang halus, yaitu dengan mengirimkan tulisan Rasulullah ﷺ tentang zakat sebagai pedoman.
2. Adab nasihat kepada pemimpin
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' Fatawa menjelaskan bahwa cara nasihat kepada pemimpin yang sesuai sunnah adalah dengan cara sembunyi-sembunyi dan lembut, bukan dengan mencela di depan umum. Beliau menukil perkataan Fudhail bin 'Iyadh: "Nasihat kepada pemimpin adalah dengan cara yang baik, bukan dengan cara mengumbar aib di mimbar-mimbar." Ini persis yang dilakukan Ali: ia mengirim utusan membawa surat, bukan mengumumkan keburukan Utsman.
3. Zakat harus sesuai tuntunan Nabi ﷺ
Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa surat Rasulullah ﷺ tentang zakat yang dimaksud adalah ketentuan-ketentuan zakat, seperti nishab, kadar yang wajib dikeluarkan, dan jenis harta yang dizakati. Ali ingin memastikan para petugas zakat Utsman berpegang pada ketentuan Nabi ﷺ, bukan pada ijtihad yang menyimpang.
4. Sikap perawi: "Jika Ali ingin menyebut keburukan Utsman, ia pasti melakukannya saat itu"
Ucapan perawi (Muhammad bin Ali) ini menunjukkan bahwa Ali radhiyallahu 'anhu tidak memiliki niat buruk terhadap Utsman. Padahal saat itu adalah masa-masa terjadi gejolak dan fitnah. Namun Ali tetap menjaga lisan dan hatinya. Ini dikuatkan oleh riwayat bahwa Ali pernah berkata tentang Utsman: "Demi Allah, beliau (Utsman) adalah orang yang terbunuh secara zhalim, dan Allah akan mengumpulkan kami semua pada hari kiamat." (Disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah).
5. Pelajaran tentang persatuan umat
Imam al-Barbahari dalam Syarh as-Sunnah menekankan bahwa Ahlus Sunnah tidak boleh mencela para sahabat Nabi ﷺ, karena mereka semua adalah orang-orang pilihan. Kisah Ali dan Utsman ini adalah bukti bahwa perbedaan pendapat di antara sahabat tidak pernah menghalangi mereka untuk saling menasihati dengan cara yang baik dan menjaga ukhuwah.
Story Telling
Ada kisah yang masyhur dari Salaf tentang adab nasihat kepada penguasa. Diriwayatkan bahwa Imam Sufyan ats-Tsauri pernah ditanya: "Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang memerintahkan kepada yang ma'ruf dan mencegah yang mungkar di hadapan penguasa?" Beliau menjawab: "Itu bukan sunnah. Yang sunnah adalah engkau menasihatinya secara sembunyi-sembunyi, karena jika engkau menasihatinya di depan umum, engkau telah menghinanya, dan penguasa akan marah. Maka nasihatilah ia secara sembunyi-sembunyi, dan jika ia menerima maka itu baik, dan jika tidak maka engkau telah menunaikan kewajibanmu."
Ini persis seperti yang dilakukan Ali bin Abi Thalib. Ia tidak mengumpulkan orang-orang yang mengadu lalu berkata: "Utsman salah!" Ia justru mengirim surat berisi dalil dari Nabi ﷺ. Ini adalah cara yang paling bijak: menyampaikan kebenaran tanpa merendahkan orang lain.
Kesimpulan Praktis
- Jaga lisan dari mencela pemimpin atau sesama muslim, meskipun ada kekeliruan. Nasihatilah dengan cara yang baik dan sembunyi-sembunyi.
- Dahulukan dalil daripada emosi. Ali mengirim surat berisi petunjuk Nabi ﷺ, bukan sekadar opini pribadi. Ini mengajarkan kita untuk selalu merujuk kepada Al-Qur'an dan Sunnah dalam menyelesaikan masalah.
- Jangan memanfaatkan kesalahan orang lain untuk menjatuhkannya. Ali punya kesempatan untuk membuka aib Utsman, tetapi ia memilih diam dan hanya menyampaikan kebaikan.
- Zakat dan ibadah lainnya harus sesuai tuntunan Nabi ﷺ, bukan sekadar ikut-ikutan atau kebiasaan.
- Teladani akhlak para sahabat dalam menjaga persatuan umat, meskipun ada perbedaan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.