Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan lafaz tasyahud yang benar dalam shalat, yaitu dimulai dengan "التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ..." dan bukan dengan "السَّلَامُ عَلَى اللَّهِ". Sebab, Allah sendiri adalah As-Salām (Mahasejahtera), sehingga tidak perlu disalami oleh makhluk. Tasyahud juga mengandung syahadat dan menjadi pintu untuk berdoa memilih permintaan terbaik kepada Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan makna "As-Salām":
QS. Al-Hasyr [59]: 23
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
"Dialah Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera (As-Salām), Yang Memberi keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala keagungan. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه, dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Shalat, Bab Tasyahud, no. 968. Hadits serupa juga diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas'ud dengan lafaz yang sedikit berbeda, dan menjadi salah satu lafaz tasyahud yang paling shahih serta dipilih oleh banyak ulama.
Kaitan dengan ulama daftar:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa lafaz tasyahud Ibnu Mas'ud ini adalah yang paling shahih dan paling banyak dipilih oleh ulama.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil utama larangan memulai tasyahud dengan "السَّلَامُ عَلَى اللَّهِ".
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menegaskan bahwa tasyahud Ibnu Mas'ud adalah yang diajarkan Nabi ﷺ secara langsung dan beliau ajarkan kepada para sahabat.
Penjelasan Rinci
1. Larangan berkata "السَّلَامُ عَلَى اللَّهِ"
Nabi ﷺ melarang ucapan ini karena mengandung kesan bahwa Allah menerima salam dari hamba, padahal Allah-lah As-Salām — sumber segala keselamatan dan kesejahteraan. Sebagaimana dijelaskan Ibn Katsir dalam tafsirnya terhadap QS. Al-Hasyr [59]: 23, makna As-Salām adalah Yang Mahaselamat dari segala kekurangan dan Yang memberi keselamatan kepada makhluk-Nya.
2. Lafaz tasyahud yang diajarkan
Nabi ﷺ mengajarkan lafaz:
- التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ — segala penghormatan (yang biasa diberikan kepada raja) hanya milik Allah.
- وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ — shalawat (ibadah) dan segala perkataan/amal yang baik hanya untuk Allah.
- السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ — salam, rahmat, dan berkah Allah untuk Nabi ﷺ.
- السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ — salam untuk kita dan hamba-hamba Allah yang saleh.
- Dua kalimat syahadat.
3. Keistimewaan doa untuk hamba saleh
Nabi ﷺ menjelaskan bahwa ucapan "السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ" akan sampai kepada setiap hamba saleh di langit dan bumi. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini menunjukkan keutamaan doa yang bersifat umum (mendoakan seluruh hamba saleh), karena doa seperti ini mencakup malaikat, para nabi, orang-orang beriman, dan seluruh hamba saleh.
4. Kebebasan memilih doa setelah tasyahud
Setelah tasyahud, Nabi ﷺ membolehkan seseorang memilih doa yang paling ia sukai. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ini menunjukkan luasnya pintu doa dalam shalat, dan dianjurkan memilih doa yang mencakup kebaikan dunia dan akhirat.
5. Perbedaan pendapat ulama tentang lafaz tasyahud
Di antara ulama daftar, Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad memilih lafaz tasyahud Ibnu Mas'ud ini sebagai yang paling utama. Imam Abu Hanifah dan Imam Malik juga menggunakan lafaz serupa dengan sedikit perbedaan riwayat. Namun kesepakatan mereka: lafaz ini shahih dan boleh dipakai. Yang paling kuat menurut dalil adalah lafaz Ibnu Mas'ud karena paling shahih sanadnya dan paling banyak dipilih ulama hadits.
Story Telling
Diceritakan oleh Abdullah bin Mas'ud رضي الله عنه — seorang sahabat yang mulia, ahli qira'at, dan salah satu yang paling dekat dengan Nabi ﷺ. Beliau menuturkan bahwa dahulu para sahabat sebelum diajarkan tasyahud yang benar, mereka mengucapkan salam kepada Allah dengan cara yang keliru, yaitu "السَّلَامُ عَلَى اللَّهِ" dan menyebut nama-nama orang tertentu. Maka Nabi ﷺ — dengan penuh kasih dan bimbingan — mengoreksi mereka dan mengajarkan lafaz yang benar.
Hikmah: Islam sangat memperhatikan adab dalam beribadah, termasuk dalam memilih lafaz. Kita tidak beribadah berdasarkan perasaan atau kebiasaan, tetapi berdasarkan apa yang diajarkan Nabi ﷺ. Koreksi Nabi ﷺ ini menunjukkan bahwa beliau adalah guru terbaik yang membimbing umatnya dengan lembut dan jelas.
Kesimpulan Praktis
- Gunakan lafaz tasyahud Ibnu Mas'ud dalam shalat: "التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ..."
- Jangan memulai tasyahud dengan "السَّلَامُ عَلَى اللَّهِ" karena Allah adalah As-Salām.
- Doakan seluruh hamba saleh dengan ucapan "السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ" — doa ini akan sampai kepada mereka.
- Manfaatkan momen setelah tasyahud untuk berdoa memilih permintaan terbaik, karena Nabi ﷺ membolehkannya.
- Belajar lafaz shalat dari dalil yang shahih, bukan dari kebiasaan semata.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.