Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 930 tentang Larangan berbicara dalam shalat selain zikir dan Al-Qur'an

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah pelajaran besar dari Nabi ﷺ tentang adab di dalam shalat. Intinya, shalat bukanlah tempat untuk berbicara dengan sesama manusia. Di dalam shalat, kita hanya boleh bertasbih, bertakbir, dan membaca Al-Qur'an. Hadits ini juga mengajarkan kelembutan Nabi ﷺ dalam mengajari orang yang belum tahu, serta berisi beberapa hukum penting seperti larangan mendatangi dukun, larangan tathayyur (merasa sial dengan sesuatu), dan kisah tentang seorang budak perempuan yang diuji keimanannya lalu dimerdekakan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Shalat, Bab "Menyemuti Orang yang Bersin dalam Shalat", nomor 930. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya.

Dalil utama dari hadits ini adalah larangan berbicara saat shalat. Allah ﷻ berfirman:

وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

"Wa qūmū lillāhi qānitīn"

Artinya: "Dan berdirilah untuk Allah (dalam shalat) dengan khusyuk." (QS. Al-Baqarah [2]: 238)

Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in, seperti Al-Hasan al-Bashri dan Muhammad bin Sirin, memahami ayat ini sebagai perintah untuk khusyuk dan tidak berbicara dalam shalat. Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa qunut di sini bermakna khusyuk dan diam, berdasarkan hadits Mu'awiyah bin al-Hakam ini.

Penjelasan Rinci

Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat kaya akan faedah. Mari kita bedah satu per satu:

1. Larangan berbicara dalam shalat

Mu'awiyah bin al-Hakam as-Sulami radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa saat shalat bersama Nabi ﷺ, ada seorang laki-laki yang bersin. Mu'awiyah yang belum tahu hukumnya, spontan mendoakannya dengan ucapan "Yarhamukallah" (semoga Allah merahmatimu). Orang-orang memandangnya dengan tatapan heran, lalu mereka memberi isyarat dengan menepuk paha agar dia diam.

Setelah shalat selesai, Nabi ﷺ tidak memukul, tidak memarahi, dan tidak mencela Mu'awiyah. Ini menunjukkan akhlak mulia Nabi ﷺ dalam mengajari orang yang belum paham. Beliau bersabda:

"إِنَّ هَذِهِ الصَّلَاةَ لَا يَحِلُّ فِيهَا شَيْءٌ مِنْ كَلَامِ النَّاسِ، إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ"

"Sesungguhnya shalat ini tidak boleh berisi sedikit pun dari perkataan manusia. Shalat itu hanyalah tasbih, takbir, dan bacaan Al-Qur'an."

Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil tegas bahwa berbicara dengan sengaja dalam shalat membatalkan shalat, baik pembicaraan itu untuk urusan dunia maupun untuk kemaslahatan shalat. Ini adalah pendapat jumhur ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in.

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam I'lam al-Muwaqqi'in menyebutkan bahwa hikmah larangan ini adalah agar hati seorang hamba benar-benar menghadap kepada Allah ﷻ, tidak terbagi dengan urusan manusia.

2. Kelembutan Nabi ﷺ dalam mengajar

Nabi ﷺ tidak langsung menghukum atau membentak Mu'awiyah. Beliau menunggu sampai shalat selesai, lalu menjelaskan dengan lembut. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menyebutkan bahwa dari sini dipetik pelajaran: seorang guru atau orang tua hendaknya tidak tergesa-gesa memarahi orang yang belum tahu, tetapi menjelaskan dengan hikmah dan kelembutan.

3. Larangan mendatangi dukun dan tukang ramal

Mu'awiyah bertanya tentang kebiasaan orang-orang jahiliyah yang mendatangi dukun. Nabi ﷺ menjawab tegas: "Janganlah kalian mendatangi mereka." Ini adalah larangan yang jelas. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa mendatangi dukun, tukang ramal, atau paranormal untuk bertanya tentang masa depan adalah perbuatan yang diharamkan, bahkan bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam jika membenarkan perkataan mereka.

4. Larangan tathayyur (merasa sial)

Mu'awiyah juga bertanya tentang orang-orang yang merasa sial karena melihat burung atau hal lain (tathayyur). Nabi ﷺ menjawab: "Itu adalah sesuatu yang mereka rasakan di hati mereka, jangan sampai hal itu menghalangi mereka." Maksudnya, perasaan was-was itu datang dari setan, dan seorang mukmin tidak boleh menyerah pada perasaan tersebut. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa tathayyur adalah kesyirikan kecil karena hati bergantung pada selain Allah.

5. Tentang garis (khat) yang dilakukan para nabi

Mu'awiyah bertanya tentang orang-orang yang membuat garis di tanah untuk mengetahui sesuatu. Nabi ﷺ menjawab: "Ada seorang nabi yang membuat garis. Barangsiapa yang garisnya cocok dengan garis nabi itu, maka itulah yang benar." Para ulama berbeda pendapat tentang makna ini. Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ini bukanlah pembenaran terhadap praktik peramalan, tetapi sekadar informasi bahwa ada nabi yang diberi ilmu khusus tentang garis tersebut, dan tidak ada seorang pun setelahnya yang bisa mengetahuinya secara pasti. Maka praktik ini tetap terlarang.

6. Kisah budak perempuan yang diuji keimanannya

Di akhir hadits, Mu'awiyah bercerita bahwa dia pernah memukul budak perempuannya karena lalai menjaga kambing. Nabi ﷺ merasa berat dengan perbuatan itu, lalu meminta budak tersebut dihadapkan kepadanya. Nabi ﷺ bertanya: "Di mana Allah?" Budak itu menjawab: "Di langit." Nabi bertanya lagi: "Siapa aku?" Budak itu menjawab: "Engkau adalah Rasulullah." Maka Nabi ﷺ bersabda: "Merdekakanlah dia, karena dia adalah seorang mukminah."

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya bertanya tentang akidah untuk menguji keimanan seseorang, dan bahwa mengakui Allah berada di atas langit adalah bagian dari keyakinan Ahlus Sunnah.

Story Telling

Ada satu pelajaran yang sangat indah dari hadits ini. Perhatikan bagaimana Nabi ﷺ memperlakukan Mu'awiyah bin al-Hakam yang masih "hijau" dalam Islam. Beliau tidak berkata, "Kamu bodoh! Shalat kok ngomong!" Tidak sama sekali. Beliau menahan diri, menunggu sampai selesai shalat, lalu menjelaskan dengan penuh kasih sayang.

Imam Al-Awza'i — seorang ulama besar dari kalangan tabi'ut tabi'in — pernah berkata: "Ilmu itu akan hilang jika disampaikan dengan kasar. Barangsiapa yang ingin ilmunya bermanfaat, hendaknya ia bersikap lembut kepada orang yang diajarnya."

Inilah akhlak para ulama salaf. Mereka mengikuti jejak Nabi ﷺ yang tidak pernah membalas kebodohan dengan kemarahan, tetapi dengan hikmah dan kelembutan. Seandainya Mu'awiyah dimarahi habis-habisan, mungkin dia akan lari dari majelis ilmu. Tetapi karena Nabi ﷺ lembut, Mu'awiyah justru betah bertanya banyak hal, dan akhirnya menjadi sahabat yang paham agamanya.

Kesimpulan Praktis

Dari hadits ini, kita bisa mengambil beberapa pelajaran untuk diamalkan:

  1. Jaga lisan saat shalat. Shalat adalah ibadah yang penuh dengan dzikir dan doa. Tidak boleh diisi dengan pembicaraan duniawi. Jika kita lupa dan berbicara, maka shalat kita batal dan harus diulang.
  2. Belajar dengan adab. Jika kita belum tahu hukum suatu perkara, jangan malu untuk bertanya. Dan jika kita mengajari orang lain, gunakan cara yang lembut sebagaimana Nabi ﷺ mengajari Mu'awiyah.
  3. Jauhi dukun dan peramal. Jangan pernah mendatangi mereka untuk bertanya tentang nasib atau masa depan. Itu adalah pintu kesyirikan.
  4. Jangan merasa sial dengan sesuatu. Perasaan sial atau was-was datang dari setan. Seorang mukmin hanya bergantung kepada Allah ﷻ.
  5. Hargai keimanan seseorang. Kisah budak perempuan yang diuji Nabi ﷺ menunjukkan bahwa keimanan tidak diukur dari status sosial, tetapi dari keyakinan hati.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.