Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 761 tentang Tata cara takbir dan angkat tangan dalam shalat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah riwayat dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu yang menjelaskan tata cara shalat Nabi ﷺ, khususnya tentang gerakan mengangkat tangan (raf'ul yadain) pada tempat-tempat tertentu, serta doa istiftah dan doa setelah shalat. Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mengangkat tangan ketika takbiratul ihram, ketika hendak rukuk, ketika bangkit dari rukuk, dan ketika berdiri dari tasyahud awal menuju rakaat ketiga. Namun, beliau tidak mengangkat tangan ketika duduk. Hadits ini juga memuat doa istiftah yang agung dan doa penutup shalat yang penuh makna.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Shalat, Bab Doa Istiftah, nomor 761. Sanadnya bersambung dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu.

Terkait dengan kandungan hadits ini, terdapat dalil-dalil lain yang memperkuat, di antaranya:

1. Tentang Mengangkat Tangan (Raf'ul Yadain)

Hadits dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma:

<p>كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا قَامَ إِلَى الصَّلَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ حَتَّى تَكُونَا حَذْوَ مَنْكِبَيْهِ ثُمَّ كَبَّرَ وَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ وَإِذَا رَفَعَ مِنَ الرُّكُوعِ فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ</p>

Artinya: "Rasulullah ﷺ apabila berdiri untuk shalat, beliau mengangkat kedua tangannya hingga sejajar dengan kedua bahunya, kemudian bertakbir. Dan apabila hendak rukuk, beliau melakukan seperti itu. Dan apabila bangkit dari rukuk, beliau melakukan seperti itu pula." (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Tentang Doa Istiftah

Hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

<p>اللَّهُمَّ بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْ خَطَايَايَ كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْنِي مِنْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ</p>

Artinya: "Ya Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari kesalahan-kesalahanku sebagaimana baju putih dibersihkan dari kotoran. Ya Allah, cucilah aku dari kesalahan-kesalahanku dengan air, salju, dan air dingin." (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Tentang Doa Setelah Shalat

Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Mu'minun [23]: 118:

<p>وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ</p>

Artinya: "Dan katakanlah (Muhammad), 'Ya Tuhanku, berilah ampunan dan rahmat-Mu, dan Engkaulah Pemberi rahmat yang terbaik.'"

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa doa "Allahummaghfirli ma qaddamtu wa akhkhartu..." adalah doa yang diajarkan Nabi ﷺ dan termasuk doa yang agung karena mencakup permohonan ampunan atas seluruh dosa, baik yang telah lalu maupun yang akan datang, yang tersembunyi maupun yang terang-terangan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama:

1. Tentang Mengangkat Tangan (Raf'ul Yadain)

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa mengangkat tangan dalam shalat dilakukan di empat tempat:

  • Ketika takbiratul ihram
  • Ketika hendak rukuk
  • Ketika bangkit dari rukuk (i'tidal)
  • Ketika berdiri dari tasyahud awal menuju rakaat ketiga

Imam al-Bukhari rahimahullah membuat bab khusus dalam Shahih-nya berjudul "Bab Mengangkat Tangan Ketika Berdiri dari Dua Rakaat" dan membawakan hadits Ibnu Umar di atas. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan bahwa mengangkat tangan pada tempat-tempat ini adalah sunnah yang tetap dan tidak dihapus (tidak mansukh).

Adapun dalam hadits ini disebutkan bahwa Nabi ﷺ tidak mengangkat tangan ketika duduk. Ini menunjukkan bahwa mengangkat tangan hanya dilakukan pada posisi berdiri, bukan ketika duduk untuk tasyahud.

2. Tentang Doa Istiftah

Hadits ini juga menyebutkan bahwa Nabi ﷺ berdoa setelah takbiratul ihram. Dalam riwayat lain yang lebih lengkap disebutkan doa istiftah yang panjang, yang sebagiannya berbunyi:

"Wajjahtu wajhiya lilladzi fataras samawati wal ardha hanifan musliman wa ma ana minal musyrikin..."

Namun dalam riwayat Abu Dawud ini, disebutkan bahwa Nabi ﷺ berdoa dengan doa yang kurang lebih sama dengan riwayat Abdurrahman al-A'raj, hanya saja tidak menyebutkan kalimat "Wal khairu kulluhu fi yadaika wasy-syarru laisa ilaika" (segala kebaikan ada di tangan-Mu dan kejahatan tidak ada pada-Mu).

Imam asy-Syafi'i rahimahullah dan para ulama lainnya menjelaskan bahwa doa istiftah hukumnya sunnah, bukan wajib. Seseorang boleh memilih doa istiftah mana pun yang diajarkan Nabi ﷺ, karena semua riwayat tersebut shahih dan saling melengkapi.

3. Tentang Doa Setelah Shalat

Dalam hadits ini disebutkan bahwa Nabi ﷺ mengucapkan doa ketika selesai shalat:

"Allahummaghfirli ma qaddamtu wa akhkhartu wa ma asrartu wa a'lantu anta ilahi la ilaha illa anta"

Artinya: "Ya Allah, ampunilah aku atas dosa-dosaku yang telah lalu dan yang akan datang, yang tersembunyi dan yang terang; Engkau adalah Tuhanku; tidak ada Tuhan selain Engkau."

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa doa ini mencakup permohonan ampunan atas seluruh jenis dosa:

  • Ma qaddamtu (yang telah lalu): dosa-dosa yang telah dilakukan sebelumnya
  • Ma akhkhartu (yang akan datang): dosa-dosa yang mungkin dilakukan di masa depan - ini menunjukkan kerendahan hati seorang hamba yang tidak merasa aman dari dosa
  • Ma asrartu (yang tersembunyi): dosa yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi
  • Ma a'lantu (yang terang): dosa yang dilakukan secara terang-terangan

Ini adalah doa yang sangat agung karena mencakup seluruh jenis dosa, dan diakhiri dengan pengakuan tauhid "anta ilahi la ilaha illa anta" (Engkau adalah Tuhanku, tidak ada Tuhan selain Engkau).

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu sangat memperhatikan detail ibadah Nabi ﷺ. Beliau adalah salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan tentang tata cara shalat Nabi ﷺ, karena beliau selalu berusaha meniru dan menghafal setiap gerakan beliau.

Imam Abu Dawud meriwayatkan dalam Sunan-nya bahwa Ali bin Abi Thalib berkata: "Ketika Rasulullah ﷺ berdiri untuk shalat wajib, beliau mengucapkan takbir dan mengangkat tangannya sejajar dengan bahunya..."

Kisah ini menunjukkan betapa para sahabat sangat teliti dalam memperhatikan dan menghafal setiap detail ibadah Nabi ﷺ. Mereka tidak hanya memperhatikan apa yang beliau ucapkan, tetapi juga bagaimana cara beliau mengucapkannya, kapan beliau mengangkat tangan, dan di posisi apa beliau tidak mengangkat tangan. Ini adalah bentuk kecintaan dan kesungguhan mereka dalam meneladani Nabi ﷺ.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dikenal sangat teliti dalam masalah ini. Beliau berkata: "Aku tidak menulis hadits tentang raf'ul yadain kecuali dari orang-orang yang tsiqah (terpercaya)." Ini menunjukkan perhatian besar para ulama terhadap detail ibadah ini.

Kesimpulan Praktis

  1. Mengangkat tangan ketika takbiratul ihram, hendak rukuk, bangkit dari rukuk, dan berdiri dari tasyahud awal adalah sunnah Nabi ﷺ yang tetap dan tidak dihapus.
  2. Tidak mengangkat tangan ketika duduk (tasyahud) adalah tuntunan Nabi ﷺ.
  3. Doa istiftah setelah takbiratul ihram hukumnya sunnah, dan boleh memilih doa mana pun yang diajarkan Nabi ﷺ.
  4. Doa setelah shalat "Allahummaghfirli ma qaddamtu wa akhkhartu..." adalah doa yang agung dan dianjurkan untuk diamalkan karena mencakup permohonan ampunan atas seluruh dosa.
  5. Perhatikan detail ibadah sebagaimana para sahabat memperhatikan detail ibadah Nabi ﷺ, karena kesempurnaan ibadah terletak pada mengikuti tuntunan dengan benar.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.