Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 730 tentang Tata cara shalat Nabi mengangkat tangan saat takbir

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan secara rinci sifat shalat Nabi ﷺ, mulai dari takbiratul ihram, mengangkat tangan sejajar bahu, rukuk, sujud, duduk, hingga tasyahud akhir. Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan disaksikan oleh sepuluh sahabat, termasuk Abu Qatadah, yang semuanya membenarkan keterangan Abu Humaid al-Sa'idi. Para ulama seperti Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Ibn Hajar menjadikan hadits ini sebagai dalil utama dalam menetapkan sifat shalat Nabi ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini terdapat dalam Sunan Abu Dawud no. 730, Kitab ash-Shalah, Bab Iftitah ash-Shalah, dari Abu Humaid as-Sa'idi radhiyallahu 'anhu.

Adapun dalil Al-Qur'an yang menjadi dasar perintah menegakkan shalat:

QS. Al-Baqarah [2]: 238

وَحَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

Terjemahan: "Peliharalah semua shalat(mu) dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk."

QS. Al-Muzzammil [73]: 20

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا

Terjemahan: "Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik."

Kaitan dengan ulama:

  • Imam Ahmad bin Hanbal adalah salah satu perawi langsung hadits ini (beliau adalah guru Abu Dawud dalam sanad ini), dan beliau menjadikan hadits Abu Humaid sebagai rujukan dalam masalah sifat shalat.
  • Imam Abu Dawud meriwayatkan hadits ini dalam kitab Sunannya dan mendiamkannya, yang menurut kaidah beliau menunjukkan hadits ini shahih atau hasan.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Imam an-Nawawi dalam al-Majmu' menjadikan hadits Abu Humaid ini sebagai salah satu hadits pokok dalam bab sifat shalat Nabi ﷺ.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zaad al-Ma'ad menyebutkan hadits ini ketika membahas sifat shalat Nabi ﷺ secara lengkap.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki kedudukan istimewa karena merupakan salah satu hadits paling lengkap dalam menggambarkan tata cara shalat Nabi ﷺ dari takbir hingga salam. Berikut poin-poin penting yang dijelaskan:

1. Mengangkat tangan sejajar bahu (raf'ul yadain)

Nabi ﷺ mengangkat kedua tangan hingga sejajar dengan bahu pada:

  • Takbiratul ihram
  • Sebelum rukuk
  • Setelah bangkit dari rukuk (i'tidal)
  • Ketika berdiri dari rakaat kedua (setelah tasyahud awal)

Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad berpendapat bahwa raf'ul yadain pada empat tempat ini adalah sunnah yang dianjurkan, berdasarkan hadits Abu Humaid ini. Imam Abu Hanifah berpendapat cukup pada takbiratul ihram saja, namun jumhur ulama dari kalangan ahli hadits seperti al-Bukhari, Ibn Khuzaimah, dan Ibn Hibban menguatkan pendapat raf'ul yadain pada empat tempat tersebut karena banyaknya riwayat yang mendukung.

2. Thuma'ninah (tenang dan tegak)

Kalimat "حَتَّى يَقِرَّ كُلُّ عَظْمٍ فِي مَوْضِعِهِ مُعْتَدِلاً" menunjukkan bahwa Nabi ﷺ benar-benar tenang hingga setiap tulang kembali pada posisinya. Ini menjadi dalil wajibnya thuma'ninah dalam shalat, sebagaimana ditegaskan oleh Ibn Qayyim dan Ibn Hajar.

3. Sifat rukuk

Nabi ﷺ meletakkan telapak tangan di lutut, menjaga punggung tetap lurus (tidak menundukkan atau mengangkat kepala). Imam an-Nawawi dalam Syarh Muslim menjelaskan bahwa posisi kepala saat rukuk harus sejajar dengan punggung.

4. Sifat sujud

Nabi ﷺ menjauhkan lengan dari sisi tubuh (mujafafah) dan membuka jari-jari kaki menghadap kiblat. Ibn Rajab al-Hanbali menyebutkan bahwa menjauhkan lengan dari sisi adalah sunnah yang dianjurkan, kecuali jika berdesakan dengan jamaah lain.

5. Duduk iftirasy dan tawarruk

  • Duduk iftirasy (duduk di atas kaki kiri dengan kaki kanan tegak) dilakukan pada duduk antara dua sujud dan tasyahud awal.
  • Duduk tawarruk (mengeluarkan kaki kiri dan duduk di atas pinggul kiri) dilakukan pada tasyahud akhir yang diikuti salam.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perbedaan cara duduk ini adalah sunnah yang ditetapkan, dan Ibn Qayyim menegaskan bahwa Nabi ﷺ selalu konsisten dalam hal ini.

6. Persaksian para sahabat

Yang menarik, sepuluh sahabat termasuk Abu Qatadah membenarkan keterangan Abu Humaid dengan ucapan: "صَدَقْتَ هَكَذَا كَانَ يُصَلِّي ﷺ" (Kamu benar, beginilah beliau ﷺ shalat). Ini menunjukkan kesepakatan para sahabat terhadap sifat shalat yang beliau jelaskan, sehingga hadits ini memiliki kekuatan hujjah yang sangat kuat.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Abu Humaid as-Sa'idi radhiyallahu 'anhu pernah berkumpul dengan sepuluh orang sahabat Nabi ﷺ, di antaranya Abu Qatadah al-Anshari. Dalam majelis itu, Abu Humaid berkata dengan penuh percaya diri: "Aku adalah orang yang paling mengetahui di antara kalian tentang shalat Rasulullah ﷺ."

Para sahabat yang mendengar pun menegurnya dengan lembut: "Kenapa kamu mengatakan itu? Demi Allah, kamu bukanlah orang yang paling banyak mengikuti beliau, dan bukan pula yang paling lama bersahabat dengan beliau."

Abu Humaid menjawab dengan tenang: "Benar, akan tetapi aku benar-benar memperhatikan shalat beliau dengan sangat teliti."

Para sahabat pun berkata: "Kalau begitu, jelaskanlah kepada kami."

Maka Abu Humaid pun mempraktikkan dan menjelaskan satu per satu gerakan shalat Nabi ﷺ dengan sangat rinci. Setelah selesai, sepuluh sahabat yang mendengarkan—termasuk Abu Qatadah—serentak membenarkan: "Kamu benar, beginilah cara beliau ﷺ shalat."

Kisah ini menunjukkan betapa para sahabat sangat menjaga ketelitian dalam menukil sunnah Nabi ﷺ, dan betapa mereka saling mengingatkan dengan adab yang baik. Ibn Rajab al-Hanbali menyebutkan bahwa semangat para sahabat dalam mempelajari sifat shalat Nabi ﷺ adalah teladan bagi kita semua.

Kesimpulan Praktis

  1. Angkat tangan sejajar bahu pada takbiratul ihram, sebelum rukuk, setelah i'tidal, dan saat berdiri dari tasyahud awal.
  2. Thuma'ninah wajib dalam setiap gerakan shalat—pastikan setiap tulang kembali pada posisinya sebelum berpindah gerakan.
  3. Rukuk dengan punggung lurus, kepala sejajar punggung, dan tangan memegang lutut.
  4. Sujud dengan menjauhkan lengan dari sisi dan jari-jari kaki menghadap kiblat.
  5. Duduk iftirasy pada duduk antara dua sujud dan tasyahud awal; duduk tawarruk pada tasyahud akhir.
  6. Belajar sifat shalat Nabi ﷺ dari hadits-hadits shahih dan penjelasan ulama, bukan dari kebiasaan semata.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?