Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah tambahan (ziyādah) dari riwayat Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan Imam Abu Dawud. Intinya berisi dua pesan penting: pertama, larangan berselisih/berbeda-beda dalam shaf shalat karena akan menyebabkan hati berselisih; kedua, larangan melakukan keributan seperti di pasar. Ini adalah nasihat agar kaum muslimin menjaga keteraturan dan ketenangan dalam shalat, karena shalat adalah momen menghadap Allah dengan khusyuk.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits riwayat Abu Dawud no. 675 dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
وَلَا تَخْتَلِفُوا فَتَخْتَلِفَ قُلُوبُكُمْ وَإِيَّاكُمْ وَهَيْشَاتِ الْأَسْوَاقِ
"Janganlah kalian berselisih (dalam shaf), maka hati kalian akan berselisih. Dan jauhilah keributan-keributan seperti di pasar."
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya dari jalur lain dengan lafaz:
سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ اخْتِلَافَ الْقُلُوبِ مِنِ اخْتِلَافِ الصُّفُوفِ
"Luruskanlah shaf-shaf kalian, sesungguhnya berselisihnya hati itu disebabkan berselisihnya shaf-shaf." (HR. Muslim dari Anas bin Malik)
Kaitan dengan ulama:
- Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa perintah meluruskan shaf dan larangan berselisih di dalamnya adalah perintah yang tegas, karena keteraturan fisik dalam ibadah memiliki pengaruh terhadap keteraturan hati.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan hikmah syariat dalam menjaga persatuan dan keteraturan lahiriah yang berdampak pada batin.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini memiliki dua bagian penting:
Pertama: Larangan berselisih dalam shaf
Yang dimaksud "berselisih" di sini adalah tidak lurus dan tidak rapatnya shaf, ada yang maju, ada yang mundur, ada yang renggang. Nabi ﷺ mengaitkan antara kondisi fisik dengan kondisi hati. Ini menunjukkan bahwa ibadah dalam Islam tidak hanya soal gerakan lahir, tetapi juga berkaitan erat dengan kondisi batin.
Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa syariat Islam memperhatikan hubungan antara lahir dan batin. Keteraturan lahiriah dalam ibadah akan menumbuhkan keteraturan batin, sebagaimana kekacauan lahiriah juga akan berdampak pada kekacauan batin.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hikmah larangan ini adalah karena shalat adalah ibadah yang dibangun di atas ketertiban dan kekhusyukan. Jika shaf tidak teratur, maka akan mengganggu kekhusyukan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Kedua: Larangan keributan seperti di pasar
Yang dimaksud "هَيْشَاتُ الْأَسْوَاقِ" adalah kegaduhan, kebisingan, dan hiruk-pikuk yang terjadi di pasar. Ini adalah larangan agar kaum muslimin tidak menjadikan masjid dan shalat sebagai tempat keramaian dan kegaduhan.
Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa Nabi ﷺ bersabda:
إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلَاةُ فَلَا تَأْتُوهَا تَسْعَوْنَ وَأْتُوهَا تَمْشُونَ وَعَلَيْكُمُ السَّكِينَةُ
"Apabila shalat telah didirikan, janganlah kalian mendatanginya dengan berlari-lari, tetapi datanglah dengan berjalan tenang dan mantap." (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)
Ini menunjukkan bahwa ketenangan dan ketentraman adalah bagian dari syiar shalat. Masjid bukan tempat untuk kegaduhan, melainkan tempat untuk bermunajat kepada Allah.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa para sahabat sangat memperhatikan masalah shaf ini. Suatu ketika, Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu — yang pernah menjadi pelayan Nabi ﷺ selama sepuluh tahun — ketika datang ke masjid dan mendapati shaf yang tidak lurus, beliau berkata:
"Kalian telah melakukan sesuatu yang aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ melakukannya. Demi Allah, aku melihat Rasulullah ﷺ bersabda: 'Luruskanlah shaf-shaf kalian, sungguh aku melihat kalian dari belakang punggungku.'"
Kemudian Anas mengambil posisi, lalu merapatkan bahu-bahunya ke bahu sahabat di sampingnya, dan merapatkan kakinya ke kaki mereka, seraya berkata: "Sungguh aku melihat salah seorang dari kalian menjadikan shafnya bengkok, maka Allah akan menjadikan hatinya bengkok pula." (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani)
Ini menunjukkan betapa seriusnya para sahabat dalam menjaga keteraturan shaf, karena mereka memahami bahwa ini adalah perintah langsung dari Nabi ﷺ yang memiliki hikmah besar.
Kesimpulan Praktis
- Luruskan dan rapatkan shaf ketika shalat berjamaah, karena ini perintah Nabi ﷺ yang tegas.
- Jaga ketenangan dalam shalat, jangan membuat kegaduhan atau keributan yang mengganggu kekhusyukan.
- Pahami bahwa keteraturan lahiriah dalam ibadah berpengaruh pada keteraturan batin dan kekhusyukan hati.
- Jadikan masjid sebagai tempat yang tenang dan penuh ketentraman, bukan seperti pasar yang ramai dan bising.
- Nasihati dengan lembut saudara muslim yang belum merapikan shaf, karena ini bagian dari saling menasihati dalam kebaikan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.