Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah perintah langsung dari Nabi ﷺ tentang adab dan tata cara shalat berjamaah, khususnya dalam merapikan dan menyempurnakan barisan. Intinya, kita diperintahkan untuk berdiri rapat, meluruskan barisan sejajar bahu, mengisi celah yang kosong, dan bersikap lembut ketika ada saudara yang ingin masuk ke dalam barisan. Ini semua bukan sekadar formalitas, tetapi bagian dari kesempurnaan shalat berjamaah yang memiliki ganjaran besar di sisi Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud:
Teks hadits yang Anda berikan adalah riwayat dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhu. Dalam riwayat Qutaibah, disebutkan dari Abu Syajarah (yang menurut Abu Dawud adalah Katsir bin Murrah) tanpa menyebut Ibnu Umar. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan lainnya.
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Meskipun tidak ada ayat yang secara spesifik membahas perintah merapatkan barisan shalat, perintah ini terkait dengan perintah umum untuk menjaga shalat berjamaah. Allah Ta'ala berfirman:
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ
"Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk." (QS. Al-Baqarah [2]: 43)
Ayat ini menunjukkan perintah untuk shalat berjamaah, dan merapikan barisan adalah bagian dari kesempurnaan shalat berjamaah tersebut.
Kaitan dengan Ulama:
- Imam Abu Dawud (penulis kitab Sunan) memberikan penjelasan langsung tentang makna "لِينُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ" (bersikap lembutlah kepada saudara-saudaramu), yaitu ketika seseorang datang hendak masuk ke dalam barisan, maka setiap orang hendaknya melonggarkan bahunya hingga orang tersebut dapat masuk.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa perintah merapatkan barisan ini menunjukkan wajibnya hal tersebut, dan ini adalah pendapat yang kuat. Beliau juga menjelaskan bahwa yang dimaksud "menyambung barisan" adalah menyempurnakan dan mengisi kekosongan dalam barisan.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa perintah penting yang perlu kita pahami:
- "أَقِيمُوا الصُّفُوفَ" (Rapatkanlah barisan): Ini adalah perintah untuk meluruskan dan merapatkan barisan shalat. Para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah barisan harus lurus, tidak bengkok, dan antara satu jamaah dengan jamaah lainnya tidak ada jarak yang lebar. Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ biasa mengusap bahu-bahu para sahabat dan bersabda: "Luruskanlah barisan kalian, janganlah kalian berselisih sehingga hati kalian pun berselisih." Ini menunjukkan bahwa kelurusan barisan fisik berpengaruh pada persatuan hati.
- "وَحَاذُوا بَيْنَ الْمَنَاكِبِ" (Berdirilah bahu-membahu): Ini adalah penjelasan lebih lanjut tentang cara merapatkan barisan, yaitu dengan menyamakan posisi bahu. Syaikh al-Utsaimin menjelaskan bahwa hendaknya bahu setiap orang sejajar dengan bahu orang di sebelahnya, tidak maju atau mundur. Ini menunjukkan bahwa yang dirapatkan bukan hanya kaki, tetapi seluruh anggota badan agar membentuk satu garis yang lurus.
- "وَسُدُّوا الْخَلَلَ" (Tutuplah celah-celah): Ini adalah perintah untuk mengisi kekosongan yang ada di antara jamaah. Jika ada celah kosong di barisan, maka hendaknya diisi. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa celah ini bisa menjadi tempat masuknya setan untuk mengganggu shalat dan memecah belah barisan.
- "وَلِينُوا بِأَيْدِي إِخْوَانِكُمْ" (Bersikap lembutlah kepada saudara-saudara kalian): Ini adalah adab yang sangat indah. Ketika ada seorang muslim yang datang terlambat dan ingin masuk ke dalam barisan, maka orang-orang yang sudah berdiri hendaknya melonggarkan tempatnya dengan lembut, tidak dengan kasar atau menarik dengan paksa. Imam Abu Dawud menjelaskan bahwa setiap orang hendaknya melonggarkan bahunya agar orang tersebut bisa masuk dengan mudah. Ini menunjukkan bahwa shalat berjamaah juga merupakan ajang untuk melatih kelembutan dan kasih sayang antar sesama muslim.
- "وَلاَ تَذَرُوا فُرُجَاتٍ لِلشَّيْطَانِ" (Jangan tinggalkan celah untuk setan): Ini adalah peringatan keras. Celah yang kosong dalam barisan akan dimanfaatkan oleh setan untuk masuk dan mengganggu kekhusyukan shalat. Imam Ibnul Qayyim dalam Zaad al-Ma'ad menjelaskan bahwa setan sangat senang melihat barisan shalat yang renggang karena itu adalah sarana untuk merusak ibadah kaum muslimin.
- "وَمَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللَّهُ" (Barangsiapa menyambung barisan, Allah akan menyambungnya, dan barangsiapa memutus barisan, Allah akan memutusnya): Ini adalah balasan yang setimpal. Syaikh Abdurrahman as-Sa'di menjelaskan bahwa makna "menyambung" di sini adalah menyempurnakan dan mengisi kekosongan barisan. Maka Allah akan menyambung urusannya, memberkahi hidupnya, dan menjaga persatuannya. Sebaliknya, orang yang memutus barisan dengan tidak mau merapat atau sengaja meninggalkan celah, maka Allah akan memutus rahmat, keberkahan, dan persatuan darinya.
Story Telling
Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Nabi ﷺ bersabda: 'Rapatkanlah barisan kalian, dekatkanlah antara satu dengan yang lain, dan luruskanlah leher-leher kalian. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya aku melihat setan masuk melalui celah-celah barisan seolah-olah mereka adalah anak kambing hitam.'" (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).
Kisah ini menunjukkan betapa seriusnya masalah merapatkan barisan ini. Sampai-sampai Nabi ﷺ bersumpah dengan nama Allah bahwa beliau benar-benar melihat setan yang mencoba masuk melalui celah-celah barisan shalat. Ini adalah peringatan yang sangat tegas bagi kita agar tidak meremehkan masalah ini.
Kesimpulan Praktis
- Niatkan untuk merapatkan barisan karena ini adalah perintah Nabi ﷺ dan bagian dari kesempurnaan shalat berjamaah.
- Rapatkan bahu dan kaki dengan jamaah di sebelah kita, sehingga tidak ada celah yang lebar.
- Isi setiap kekosongan yang ada di barisan, baik di depan maupun di samping kita.
- Bersikap lembut ketika ada saudara kita yang ingin masuk ke dalam barisan. Longgarkan tempat dengan penuh kelembutan, bukan dengan kekerasan.
- Jaga kekhusyukan dengan menyadari bahwa setan akan berusaha mengganggu shalat kita melalui celah-celah yang kita biarkan kosong.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.