Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 663 tentang Perintah merapikan dan menyamakan barisan shalat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa merapikan dan menyamakan barisan shalat adalah perkara yang sangat diperhatikan Nabi ﷺ. Beliau menuntun para sahabat hingga benar-benar paham, lalu menegur dengan keras ketika ada satu orang yang menonjolkan dadanya keluar dari barisan. Ancaman "Allah akan menyelisihkan wajah-wajah kalian" menunjukkan bahwa menyelisihi barisan adalah pelanggaran serius dalam shalat berjamaah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhu, dan dicatat oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 663), Kitab Shalat, Bab Penyamaan Barisan. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dengan lafaz yang semakna, sehingga kedudukannya shahih.

Teks hadits sebagaimana disebutkan:

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا حَمَّادٌ، عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ، قَالَ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ، يَقُولُ كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُسَوِّينَا فِي الصُّفُوفِ كَمَا يُقَوَّمُ الْقِدْحُ حَتَّى إِذَا ظَنَّ أَنْ قَدْ أَخَذْنَا ذَلِكَ عَنْهُ وَفَقِهْنَا أَقْبَلَ ذَاتَ يَوْمٍ بِوَجْهِهِ إِذَا رَجُلٌ مُنْتَبِذٌ بِصَدْرِهِ فَقَالَ " لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ "

Terjemahan: Al-Nu'man bin Basyir berkata: Nabi ﷺ biasa menyamakan kami dalam barisan shalat seperti anak panah yang diluruskan, hingga beliau mengira kami telah mempelajarinya dan memahaminya. Suatu hari beliau menghadap kepada kami, dan (ternyata) ada seorang lelaki yang menonjolkan dadanya (keluar dari barisan), maka beliau bersabda: "Sungguh kalian harus meratakan barisan-barisan kalian, atau Allah akan menyelisihkan antara wajah-wajah kalian."

Adapun ayat yang berkaitan dengan pentingnya keteraturan dan persatuan dalam ibadah:

QS. Ash-Shaff [61]: 4

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ

Terjemahan: "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, seakan-akan mereka seperti bangunan yang tersusun kokoh."

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah mencintai keteraturan barisan dalam konteks perjuangan, dan para ulama memahami bahwa shalat berjamaah juga menuntut keteraturan serupa.

Penjelasan Rinci

Makna umum hadits:

Hadits ini menggambarkan perhatian Nabi ﷺ yang sangat besar terhadap kerapian barisan shalat. Beliau tidak hanya memerintahkan sekali, tetapi terus-menerus membimbing para sahabat hingga mereka benar-benar memahami dan terbiasa. Ungkapan "seperti anak panah yang diluruskan" (يُقَوَّمُ الْقِدْحُ) menunjukkan bahwa beliau memeriksa barisan dengan teliti, sebagaimana seseorang memeriksa kelurusan anak panah sebelum digunakan.

Pemahaman ulama:

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan sunnahnya merapikan barisan, menempelkan bahu dengan bahu, dan mengisi celah-celah kosong. Beliau menyebutkan bahwa para ulama sepakat tentang disunnahkannya meratakan barisan, dan sebagian menyatakan hukumnya wajib.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa ancaman "Allah akan menyelisihkan wajah-wajah kalian" bermakna: Allah akan menimpakan perselisihan di antara hati kalian, atau mengubah wajah-wajah kalian menjadi berbeda-beda bentuknya sebagai hukuman. Beliau juga menyebutkan bahwa sebagian ulama memahami ancaman ini secara hakiki, yaitu wajah-wajah akan diubah bentuknya.

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Fathul Bari-nya menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan betapa besar perhatian Islam terhadap kesatuan dan keteraturan umat, yang dimulai dari shalat berjamaah. Barisan yang rapi melambangkan persatuan hati dan tujuan.

Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ sangat memperhatikan tiga hal dalam shalat berjamaah: meratakan barisan, mengisi celah kosong, dan mendekatkan diri ke barisan pertama. Beliau mengaitkan kerapian barisan dengan kesempurnaan shalat.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama seperti Ibn Khuzaimah dan Ibn Hibban memahami perintah meratakan barisan sebagai wajib, berdasarkan ancaman yang tegas dalam hadits. Sementara Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad dalam riwayat yang masyhur memahaminya sebagai sunnah muakkadah (sunnah yang sangat ditekankan), karena shalat tetap sah meskipun barisan tidak rapi. Namun, pendapat yang lebih kuat — sebagaimana ditegaskan Ibn Taymiyyah — adalah bahwa meratakan barisan hukumnya wajib ketika memungkinkan, karena perintah yang tegas dan ancaman yang keras.

Catatan tentang terjemahan:

Perlu dicatat bahwa terjemahan Indonesia yang disebutkan dalam pertanyaan tampaknya tidak sepenuhnya sesuai dengan teks Arab yang ada. Teks Arab yang shahih menyebutkan sabda Nabi ﷺ: "لَتُسَوُّنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ وُجُوهِكُمْ" yang berarti "Sungguh kalian harus meratakan barisan-barisan kalian, atau Allah akan menyelisihkan antara wajah-wajah kalian." Adapun tambahan tentang "Allah dan para malaikat-Nya memberkati orang-orang yang dekat dengan barisan pertama" adalah hadits lain yang semakna namun dengan lafaz berbeda.

Story Telling

Dikisahkan oleh Al-Nu'man bin Basyir radhiyallahu 'anhu — sebagaimana dalam hadits ini — bahwa Nabi ﷺ suatu hari menghadap para sahabat setelah mereka terbiasa merapikan barisan. Namun, beliau melihat seorang lelaki yang dadanya menonjol keluar dari barisan. Maka beliau pun menegur dengan keras, bukan karena marah pribadi, tetapi karena khawatir umatnya terkena akibat buruk dari ketidakrapian barisan.

Al-Hasan al-Bashri pernah menuturkan bahwa para sahabat sangat serius dalam merapikan barisan, sampai-sampai mereka saling menempelkan bahu dan kaki. Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu bahkan pernah menugaskan seseorang untuk memeriksa barisan dan menegur siapa yang tidak rapi. Ini menunjukkan bahwa perkara ini bukanlah perkara ringan, melainkan bagian dari kesempurnaan ibadah dan wujud ketaatan kepada Nabi ﷺ.

Kesimpulan Praktis

  1. Rapatkan barisan dalam shalat berjamaah: bahu dengan bahu, kaki dengan kaki, tanpa celah yang kosong.
  2. Isi barisan pertama terlebih dahulu, lalu yang berikutnya, karena barisan pertama memiliki keutamaan khusus.
  3. Jangan menonjolkan diri keluar dari barisan, karena hadits ini secara tegas melarangnya.
  4. Pahami bahwa kerapian barisan adalah bagian dari kesempurnaan shalat berjamaah, bukan sekadar formalitas.
  5. Bertaqwalah dalam hal ini, karena ancaman dalam hadits menunjukkan bahwa menyelisihi barisan bisa mendatangkan perselisihan hati dan wajah.
  6. Ajarkan kepada keluarga dan jamaah tentang pentingnya merapikan barisan, sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkannya kepada para sahabat hingga mereka paham.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?