Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 559 tentang Keutamaan shalat berjamaah dan pahala langkah menuju masjid

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan keutamaan besar shalat berjamaah di masjid, yang pahalanya dilipatgandakan hingga dua puluh lima derajat dibandingkan shalat sendirian. Keutamaan ini mencakup seluruh perjalanan seorang mukmin dari rumah menuju masjid, di mana setiap langkahnya mengangkat derajat dan menghapus dosa. Bahkan setelah shalat, selama ia menunggu di masjid, ia tetap dicatat dalam keadaan shalat dan didoakan oleh para malaikat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Shalat, Bab Keutamaan Berjalan Menuju Shalat, nomor 559, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dengan redaksi yang serupa, menjadikannya hadits yang muttafaq 'alaih dari segi makna.

Teks Hadits (potongan yang relevan):

<p>صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَصَلَاتِهِ فِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً</p>

"Shalat seorang pria secara berjamaah melebihi shalatnya di rumah dan di pasarnya sebanyak dua puluh lima derajat."

Kaitan dengan Ulama:

Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa keutamaan dua puluh lima derajat ini adalah ganjaran pokok, dan bisa berlipat lebih banyak lagi tergantung kondisi dan keikhlasan seseorang. Beliau menukil pendapat Imam al-Bukhari yang menyatakan bahwa pahala shalat berjamaah bisa mencapai dua puluh tujuh derajat berdasarkan riwayat lain, dan perbedaan ini hanyalah variasi dalam penyebutan ganjaran, bukan pertentangan.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan hadits ini dengan sangat mendalam, karena di dalamnya terkandung beberapa faedah besar:

1. Keutamaan Shalat Berjamaah

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menegaskan bahwa shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian dengan keutamaan yang sangat besar. Beliau menyebutkan bahwa jumhur ulama (mayoritas ulama) dari kalangan sahabat, tabi'in, dan imam-imam madzhab berpendapat bahwa shalat berjamaah hukumnya sunnah mu'akkadah (sangat dianjurkan), bahkan sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat hukumnya wajib bagi laki-laki yang mampu.

2. Makna "Dua Puluh Lima Derajat"

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa "derajat" di sini bermakna tingkatan pahala yang berlipat ganda. Setiap derajat tidak bisa dibayangkan besarnya, karena ini adalah karunia Allah yang Maha Luas. Beliau juga menegaskan bahwa ganjaran ini khusus bagi mereka yang keluar rumah dengan niat ikhlas karena Allah, bukan karena tujuan lain.

3. Keutamaan Berjalan Menuju Masjid

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjatu Qulub al-Abrar menjelaskan bahwa setiap langkah kaki menuju masjid memiliki dua keutamaan sekaligus: diangkat satu derajat dan dihapus satu dosa. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah yang Maha Agung, di mana amalan yang tampak sederhana seperti berjalan kaki bisa menjadi sarana penghapus dosa jika disertai niat yang tulus.

4. Doa Malaikat untuk Orang yang Menunggu Shalat

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa para malaikat terus mendoakan ampunan dan rahmat bagi seorang mukmin selama ia berada di masjid dalam keadaan suci dan menunggu shalat berikutnya. Ini menunjukkan betapa mulianya kedudukan orang yang hatinya terikat dengan masjid.

5. Syarat "Selama Tidak Menyakiti atau Berhadats"

Syaikh Shalih al-Fauzan dalam Syarh Bulugh al-Maram menjelaskan bahwa doa malaikat ini berhenti jika seseorang menyakiti orang lain dengan perkataan atau perbuatan, atau jika ia berhadats (batal wudhu). Ini mengajarkan adab penting: menjaga lisan dan perbuatan dari menyakiti sesama, serta menjaga kesucian diri.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang sahabat buta bernama Abdullah bin Ummi Maktum radhiyallahu 'anhu pernah meminta keringanan kepada Rasulullah ﷺ untuk tidak menghadiri shalat berjamaah karena jarak rumahnya yang jauh dan kondisinya yang buta. Beliau ﷺ bertanya: "Apakah engkau mendengar seruan adzan?" Ia menjawab, "Ya." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Maka penuhilah (panggilan itu)." (HR. Muslim)

Kisah ini menunjukkan bahwa keutamaan berjalan menuju masjid bukanlah hal yang remeh. Bahkan seorang sahabat yang buta pun tidak diberikan keringanan untuk meninggalkan jamaah, karena di balik perjalanan itu tersimpan ganjaran yang sangat besar. Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebutkan bahwa kisah ini menunjukkan perhatian syariat terhadap menjaga shalat berjamaah dan tidak meremehkannya.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga shalat berjamaah di masjid bagi laki-laki yang mampu, karena pahalanya berlipat dua puluh lima derajat.
  2. Niatkan setiap langkah menuju masjid sebagai ibadah, agar setiap langkah mengangkat derajat dan menghapus dosa.
  3. Perbaiki kualitas wudhu karena disebutkan dalam hadits bahwa wudhu yang baik menjadi syarat ganjaran ini.
  4. Manfaatkan waktu menunggu shalat di masjid dengan dzikir, membaca Al-Qur'an, atau diam menunggu, karena malaikat mendoakan kita selama itu.
  5. Jaga lisan dan perbuatan dari menyakiti orang lain, serta jaga wudhu, agar doa malaikat terus mengalir kepada kita.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?