Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 558 tentang Pahala berjalan ke masjid seperti pahala haji dan umrah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini berisi tiga kabar gembira yang sangat besar dari Nabi ﷺ bagi umatnya. Pertama, orang yang keluar rumah dalam keadaan suci menuju shalat wajib berjamaah di masjid, pahalanya seperti pahalanya orang yang berhaji dalam keadaan ihram. Kedua, orang yang keluar untuk shalat Dhuha dengan niat ikhlas, pahalanya seperti pahala orang yang berumrah. Ketiga, shalat yang disambung dengan shalat lain tanpa diselingi perkataan sia-sia, akan dicatat di 'Illiyyin (tempat yang tinggi di sisi Allah). Ini adalah dorongan luar biasa untuk memuliakan shalat dan menjaga kesinambungan ibadah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Shalat, Bab Keutamaan Berjalan Menuju Shalat, no. 558, dari sahabat Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu 'anhu.

Teks Hadits (Arab berharakat):

حَدَّثَنَا أَبُو تَوْبَةَ، حَدَّثَنَا الْهَيْثَمُ بْنُ حُمَيْدٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ الْحَارِثِ، عَنِ الْقَاسِمِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: "مَنْ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ مُتَطَهِّرًا إِلَى صَلَاةٍ مَكْتُوبَةٍ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْحَاجِّ الْمُحْرِمِ، وَمَنْ خَرَجَ إِلَى تَسْبِيحِ الضُّحَى لَا يُنْصِبُهُ إِلَّا إِيَّاهُ فَأَجْرُهُ كَأَجْرِ الْمُعْتَمِرِ، وَصَلَاةٌ عَلَى أَثَرِ صَلَاةٍ لَا لَغْوَ بَيْنَهُمَا كِتَابٌ فِي عِلِّيِّينَ"

Makna ringkas: Barangsiapa keluar rumah dalam keadaan suci menuju shalat wajib, pahalanya seperti pahala haji yang sedang ihram. Barangsiapa keluar untuk shalat Dhuha dengan niat semata-mata karena Allah, pahalanya seperti pahala umrah. Dan shalat yang mengikuti shalat tanpa ada perkataan sia-sia di antara keduanya, dicatat di 'Illiyyin.

Ayat Al-Qur'an yang terkait dengan penyebutan 'Illiyyin:

QS. Al-Muthaffifin [83]: 18-21

كَلَّا إِنَّ كِتَابَ الْأَبْرَارِ لَفِي عِلِّيِّينَ ۝ وَمَا أَدْرَاكَ مَا عِلِّيُّونَ ۝ كِتَابٌ مَرْقُومٌ ۝ يَشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُونَ

"Sekali-kali tidak, sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti itu berada dalam 'Illiyyin. Dan tahukah engkau apakah 'Illiyyin itu? (Yaitu) kitab yang bertulis, yang disaksikan oleh malaikat-malaikat yang didekatkan (kepada Allah)."

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan hadits ini dengan beberapa poin penting:

1. Keutamaan keluar rumah menuju shalat wajib

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa makna "pahalanya seperti pahala orang yang berhaji dalam keadaan ihram" adalah pahala yang sangat besar, karena orang yang berihram telah berniat untuk beribadah haji dan berada dalam keadaan suci lahir dan batin. Demikian pula orang yang keluar menuju shalat wajib, ia telah bersuci dan berniat untuk beribadah kepada Allah, sehingga ia mendapat kemuliaan yang sebanding.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan besarnya keutamaan berjalan menuju masjid untuk shalat berjamaah, terutama jika dilakukan dengan keadaan sudah bersuci dari rumah. Ini juga menunjukkan bahwa niat dan keadaan suci menambah pahala perjalanan ke masjid.

2. Keutamaan shalat Dhuha

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan bahwa shalat Dhuha adalah shalat sunnah yang sangat dianjurkan, dan hadits ini menunjukkan bahwa orang yang keluar khusus untuk menunaikannya dengan niat ikhlas mendapat pahala seperti umrah. Kata "لَا يُنْصِبُهُ إِلَّا إِيَّاهُ" artinya tidak ada tujuan lain yang mendorongnya keluar kecuali shalat Dhuha itu sendiri, menunjukkan keikhlasan niat.

3. Shalat yang mengikuti shalat tanpa diselingi laghw

Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa "shalat setelah shalat" yang dimaksud adalah shalat sunnah rawatib yang mengikuti shalat wajib, atau shalat sunnah yang dilakukan berurutan tanpa diselingi perkataan duniawi. "Laghw" adalah perkataan sia-sia atau perbuatan yang tidak bermanfaat. Jika seseorang menjaga kesinambungan ibadahnya tanpa diselingi hal yang sia-sia, maka amalnya dicatat di 'Illiyyin, yaitu tempat yang tinggi di sisi Allah.

Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menilai hadits ini hasan dalam Shahih Abi Dawud, dan beliau menjelaskan bahwa hadits ini mengandung motivasi besar untuk menjaga shalat berjamaah dan shalat-shalat sunnah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah rahimahullah sangat menjaga shalat berjamaah dan shalat-shalat sunnah. Beliau dikenal sebagai orang yang sangat tekun beribadah. Suatu malam, beliau sedang shalat dan membaca ayat tentang janji dan ancaman Allah, hingga beliau menangis tersedu-sedu sepanjang malam. Para ulama menyebutkan bahwa beliau terbiasa shalat malam dan menjaga shalat Subuh berjamaah di masjid selama bertahun-tahun tanpa pernah putus.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa para ulama salaf sangat menjaga shalat berjamaah dan kesinambungan ibadah, karena mereka memahami betul keutamaan yang disebutkan dalam hadits ini. Mereka tidak menganggap remeh langkah kaki menuju masjid, karena setiap langkahnya dicatat sebagai pahala.

Kesimpulan Praktis

  1. Bersungguh-sungguh menjaga shalat wajib berjamaah di masjid bagi laki-laki, karena pahalanya seperti pahala haji yang sedang ihram.
  2. Biasakan bersuci dari rumah sebelum berangkat ke masjid, agar perjalanan kita dimulai dalam keadaan suci dan bernilai ibadah.
  3. Jaga shalat Dhuha dengan niat ikhlas semata-mata karena Allah, karena pahalanya seperti pahala umrah.
  4. Sambung shalat wajib dengan shalat sunnah rawatib tanpa diselingi perkataan sia-sia, agar amalan kita dicatat di 'Illiyyin.
  5. Jaga lisan dari perkataan laghw (sia-sia) di antara ibadah, karena hal itu dapat mengurangi kemuliaan amalan kita.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?