Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan tentang adab seorang muslim terhadap non-muslim (ahli dzimmah), yaitu kita dilarang memulai salam terlebih dahulu kepada mereka. Ini karena lafazh salam "Assalamu'alaikum" adalah doa keselamatan yang merupakan kekhususan dan penghormatan bagi kaum muslimin. Jika kita bertemu mereka di jalan, kita tidak perlu melebar atau memberi jalan yang lapang kepada mereka, karena hal itu bisa menunjukkan kehinaan dan kelemahan kaum muslimin. Namun, ini bukan berarti kita boleh berlaku kasar atau zalim kepada mereka, melainkan sekadar menunjukkan kewibawaan dan kejelasan identitas dalam pergaulan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud:
Teks hadits yang Anda sebutkan adalah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dan diriwayatkan pula oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2167) dan Imam At-Tirmidzi (no. 1600). Lafazh hadits dalam riwayat Muslim:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: لَا تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلَا النَّصَارَى بِالسَّلَامِ، فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِي طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُمْ إِلَى أَضْيَقِهِ
Artinya: "Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: 'Janganlah kalian memulai salam kepada orang Yahudi dan Nasrani. Apabila kalian bertemu salah seorang dari mereka di jalan, maka desaklah mereka ke jalan yang paling sempit.'" (HR. Muslim)
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Allah Ta'ala berfirman tentang larangan menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dan menunjukkan kelemahan kepada mereka:
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
"Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman." (QS. Ali 'Imran [3]: 139)
Juga firman Allah:
وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ
"Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang yang beriman." (QS. Al-Munafiqun [63]: 8)
Penjelasan Ulama:
Imam An-Nawawi dalam kitab Syarah Shahih Muslim (14/145) menjelaskan bahwa hadits ini berisi larangan memulai salam kepada ahli dzimmah, dan jika mereka memberi salam terlebih dahulu, maka jawablah dengan "wa'alaikum" (dan atas kalian juga). Beliau juga menjelaskan makna "اضطروهم إلى أضيق الطريق" yaitu jika bertemu di jalan, maka jangan memberi jalan yang lapang kepada mereka, karena hal itu menunjukkan kehinaan bagi kaum muslimin. Namun ini bukan berarti kita boleh mendorong atau menyakiti mereka, tetapi sekadar tidak memberi prioritas jalan kepada mereka.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin (4/125) menjelaskan bahwa hikmah larangan ini adalah agar tidak terjadi persaudaraan dan keakraban yang berlebihan dengan orang-orang kafir, karena hal itu bisa melemahkan identitas keislaman. Beliau juga menegaskan bahwa jika mereka yang memulai salam, maka kita jawab dengan "wa'alaikum" saja, tidak menambah lebih dari itu.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah sepakat bahwa hadits ini menunjukkan beberapa hukum penting:
1. Larangan Memulai Salam kepada Non-Muslim
Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Ahkam Ahlidz Dzimmah (2/705) menjelaskan bahwa larangan ini bersifat tegas (tahrim), bukan sekadar makruh. Karena salam adalah doa keselamatan dan rahmat, sedangkan orang kafir tidak layak menerima doa tersebut. Ini adalah pendapat jumhur ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in.
2. Cara Menjawab Salam Mereka
Jika mereka mengucapkan salam terlebih dahulu, maka kita jawab dengan "wa'alaikum" (dan atas kalian juga). Ini berdasarkan hadits lain dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa sekelompok Yahudi mengucapkan "Assamu'alaikum" (kematian atas kalian) kepada Nabi ﷺ, maka beliau menjawab "wa'alaikum" (dan atas kalian juga). (HR. Bukhari dan Muslim)
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (11/42) menjelaskan bahwa jawaban ini adalah yang paling tepat, tidak boleh ditambah dengan "warahmatullah" karena itu adalah kekhususan bagi kaum muslimin.
3. Makna "Desaklah ke Jalan yang Sempit"
Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (no. 1600) setelah meriwayatkan hadits ini menjelaskan bahwa maknanya adalah: janganlah kalian memberi jalan yang lapang kepada mereka, karena hal itu menunjukkan kehinaan bagi kaum muslimin. Namun ini bukan berarti kita boleh mendorong atau menyakiti mereka secara fisik.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu' Fatawa (6/395) menjelaskan bahwa maksud hadits ini adalah agar kaum muslimin tidak merendahkan diri di hadapan mereka, tetapi tetap menjaga kehormatan dan kewibawaan. Ini bukan berarti kita boleh berlaku zalim atau kasar kepada mereka, karena Islam melarang kezaliman terhadap siapapun.
4. Hikmah Larangan Ini
Imam Ibn Rajab Al-Hanbali dalam Jami'ul Ulum wal Hikam (2/314) menjelaskan bahwa hikmah larangan ini adalah untuk menjaga kejelasan identitas (al-wala' wal bara'), yaitu cinta karena Allah dan benci karena Allah. Seorang muslim tidak boleh terlalu akrab dengan orang kafir sehingga kehilangan identitas keislamannya. Namun, ini tidak menghalangi kita untuk berbuat baik dan adil kepada mereka selama mereka tidak memerangi kita.
Story Telling
Diriwayatkan dari Suhail bin Abu Shalih, beliau berkata: "Saya keluar bersama ayah saya (Abu Shalih) ke negeri Syam. Kami melewati tempat-tempat ibadah yang di dalamnya terdapat orang-orang Nasrani. Orang-orang (yang bersama kami) mulai memberi salam kepada mereka. Maka ayah saya berkata: 'Janganlah kalian memulai salam kepada mereka, karena Abu Hurairah telah menceritakan kepada kami dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda: Janganlah kalian memulai salam kepada mereka...'" (HR. Abu Dawud no. 5205)
Kisah ini menunjukkan bagaimana para tabi'in sangat berhati-hati dalam mengamalkan sunnah Nabi ﷺ. Abu Shalih, ayah dari Suhail, adalah seorang tabi'in yang dikenal bertemu dengan Abu Hurairah dan meriwayatkan hadits darinya. Beliau tidak segan menegur orang-orang yang melanggar adab ini, meskipun dalam konteks perjalanan biasa. Ini mengajarkan kita bahwa menjaga adab-adab syar'i adalah bagian dari ketakwaan, dan kita harus berani menegur dengan cara yang baik ketika melihat pelanggaran.
Kesimpulan Praktis
- Jangan memulai salam kepada non-muslim dengan lafazh "Assalamu'alaikum", karena itu adalah doa khusus bagi kaum muslimin.
- Jika mereka memberi salam terlebih dahulu, jawablah dengan "wa'alaikum" saja, tidak lebih dari itu.
- Jaga kewibawaan ketika berinteraksi dengan non-muslim, jangan merendahkan diri atau menunjukkan kelemahan.
- Tetap berlaku adil dan baik kepada mereka dalam muamalah, karena larangan ini bukan berarti kita boleh zalim atau kasar.
- Pahami konteksnya: hadits ini adalah bimbingan agar identitas keislaman kita tetap jelas, bukan ajaran untuk membenci atau memusuhi mereka tanpa alasan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.