Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 5139 tentang Prioritas berbakti kepada ibu tiga kali lipat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan dua hal penting: pertama, prioritas utama dalam berbakti adalah kepada ibu (tiga kali disebutkan) baru kemudian ayah, lalu kerabat terdekat. Kedua, peringatan keras bagi orang yang memerdekakan budak lalu menolak memberikan kelebihan hartanya ketika diminta oleh mantan budaknya—harta itu akan menjadi ular besar yang membalasnya di hari kiamat. Ini menunjukkan betapa Islam menjaga hak-hak orang yang pernah berjasa kepada kita.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan, dengan sanad dari Bahz bin Hakim dari ayahnya dari kakeknya):

> قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَبَرُّ قَالَ " أُمَّكَ ثُمَّ أُمَّكَ ثُمَّ أُمَّكَ ثُمَّ أَبَاكَ ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ "

Makna: "Aku berkata: Wahai Rasulullah, kepada siapa aku harus berbuat baik? Beliau menjawab: 'Ibumu, kemudian ibumu, kemudian ibumu, kemudian ayahmu, kemudian kerabatmu yang terdekat.'"

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya (no. 5971) dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dengan lafaz:

> قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ أَبُوكَ

Makna: "Seorang laki-laki bertanya: Wahai Rasulullah, siapakah yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Beliau menjawab: 'Ibumu.' Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Beliau menjawab: 'Ibumu.' Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Beliau menjawab: 'Ibumu.' Dia bertanya lagi: Kemudian siapa? Beliau menjawab: 'Ayahmu.'"

Adapun bagian kedua tentang ular besar (شُجَاعًا أَقْرَعَ), Imam Abu Dawud menjelaskan bahwa al-aqra' adalah ular yang rambut kepalanya telah hilang karena racunnya—ini menunjukkan betapa buas dan berbahayanya ular tersebut.

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Isra' [17]: 23

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Makna: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah kecuali kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan 'ah' dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang mulia."

Kaitan dengan ulama:

  • Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa Allah selalu menyandingkan perintah berbuat baik kepada orang tua setelah perintah beribadah kepada-Nya, menunjukkan tingginya kedudukan orang tua.
  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (bab Birrul Walidain) menegaskan bahwa pengulangan kata "ibumu" tiga kali menunjukkan bahwa hak ibu tiga kali lipat lebih besar daripada hak ayah, karena ibu menanggung susah payah hamil, melahirkan, dan menyusui.
  • Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (syarah Shahih al-Bukhari) menyebutkan hikmah pengulangan ini: ibu memiliki tiga keutamaan—mengandung, melahirkan, dan menyusui—sementara ayah hanya berperan sebagai sebab keberadaan anak.

Penjelasan Rinci

Pertama: Prioritas Berbakti kepada Ibu

Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in memahami hadits ini sebagai dalil bahwa ibu lebih didahulukan dalam pelayanan, ketaatan, dan kebaikan dibanding ayah. Imam Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam I'lam al-Muwaqqi'in menjelaskan bahwa ibu memiliki tiga fase penderitaan yang tidak dialami ayah: mengandung dengan susah payah, melahirkan dengan rasa sakit, dan menyusui selama dua tahun. Oleh karena itu, Rasulullah ﷺ menyebut ibu tiga kali sebelum menyebut ayah.

Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa perintah berbuat baik kepada orang tua bersifat umum mencakup semua bentuk kebaikan: perkataan lembut, pelayanan, bantuan harta, mendoakan, dan tidak menyakiti mereka dengan perkataan maupun perbuatan.

Kedua: Peringatan tentang Menolak Memberi Kepada Mantan Budak

Bagian kedua hadits ini berkaitan dengan hubungan antara tuan dan budak yang telah dimerdekakan (mawla). Dalam Islam, memerdekakan budak adalah amal yang sangat mulia. Namun, jika seseorang telah memerdekakan budaknya, maka ikatan persaudaraan dan hak-hak tertentu tetap terjalin. Jika mantan budak meminta bantuan dari kelebihan harta tuannya, maka menolaknya tanpa alasan yang dibenarkan adalah perbuatan tercela.

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa ancaman ular besar ini menunjukkan betapa besarnya dosa orang yang menolak memberikan hak orang lain yang telah berjasa kepadanya. Ini juga menjadi pelajaran bahwa setiap orang yang memiliki kelebihan harta dan diminta oleh orang yang berhak, hendaknya tidak kikir, karena harta yang ditahan akan menjadi saksi dan musuh di hari kiamat.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa hadits ini termasuk dalam bab ancaman bagi orang yang menahan hak orang lain. Beliau mengaitkannya dengan hadits tentang orang yang menahan kelebihan air atau kelebihan harta dari orang yang membutuhkan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Abu Hanifah (Nu'man bin Tsabit) sangat berbakti kepada ibunya. Beliau melayani ibunya dengan penuh kesabaran dan kelembutan. Suatu ketika, ibunya bertanya tentang sesuatu yang bertentangan dengan dalil, dan Imam Abu Hanifah tidak serta-merta membantah, tetapi menjawab dengan lembut: "Wahai ibuku, ini bukan pendapatku, tetapi ini dari Allah dan Rasul-Nya." Ibunya pun menerima dan tidak memaksakan keinginannya. Ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua tidak berarti menaati mereka dalam kemaksiatan, tetapi tetap dengan adab yang mulia.

Hikmah dari kisah ini: berbakti kepada orang tua adalah kewajiban, namun ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya tetap di atas segalanya. Kita tetap harus menjaga perasaan orang tua dengan cara yang lembut ketika ada perbedaan.

Kesimpulan Praktis

  1. Dahulukan ibu dalam berbakti, pelayanan, dan kebaikan—tiga kali lipat dibanding ayah, karena pengorbanannya yang lebih besar.
  2. Berbuat baik kepada ayah setelah ibu, kemudian kepada kerabat terdekat secara berurutan.
  3. Jangan menolak permintaan orang yang berhak atas kelebihan harta kita, terutama kepada orang yang pernah berjasa kepada kita, karena ancamannya sangat berat di hari kiamat.
  4. Bersikap dermawan dan tidak kikir, karena harta yang kita tahan dari orang yang berhak akan menjadi penyesalan di akhirat.
  5. Selalu mendoakan kedua orang tua, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi