Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah dzikir pagi dan petang yang diajarkan Nabi ﷺ. Isinya sangat agung: mengakui bahwa segala sesuatu—hidup, mati, pagi, dan sore—berada di bawah kekuasaan Allah semata. Dengan membaca dzikir ini, seorang hamba menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah di awal dan akhir hari, serta mengingatkan dirinya akan hari kebangkitan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud:
Teks hadits yang Anda sertakan adalah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Imam An-Nasa'i dalam kitab sunan mereka. Imam At-Tirmidzi menilai hadits ini hasan gharib dari jalur ini.
Dalil Al-Qur'an yang Terkait:
Makna hadits ini sangat sejalan dengan firman Allah ﷻ:
QS. Al-Mu'minun [23]: 115
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
"Maka apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakanmu dengan sia-sia, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?"
Ayat ini menegaskan bahwa kehidupan ini tidak sia-sia, dan seluruhnya akan kembali kepada Allah untuk dihisab—persis seperti makna kalimat "wa ilaikan nusyur" (dan kepada-Mu kami akan dibangkitkan).
Kaitan dengan Ulama:
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa dzikir pagi dan petang adalah ibadah yang dicontohkan Nabi ﷺ, dan di dalamnya terkandung pengakuan tauhid rububiyah (bahwa Allah adalah Pengatur segala urusan) dan tauhid uluhiyah (bahwa hanya kepada Allah kita beribadah dan memohon).
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
- Pengakuan bahwa Allah Mengatur Pergantian Waktu: Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah rahimahullah dalam kitabnya Al-Wabilush Shayyib menjelaskan bahwa pergantian pagi dan sore adalah bukti kekuasaan Allah. Dengan mengucapkan "bika ashbahna" (dengan-Mu kami memasuki pagi), seorang hamba mengakui bahwa Allah-lah yang menjalankan alam semesta, bukan sebab-sebab alamiah semata.
- Hidup dan Mati di Tangan Allah: Kalimat "bika nahya wa bika namut" (dengan-Mu kami hidup dan dengan-Mu kami mati) adalah pengakuan bahwa nyawa sepenuhnya milik Allah. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam Tafsir As-Sa'di sering mengingatkan bahwa mengakui kematian di tangan Allah akan melahirkan kesiapan diri untuk beramal saleh.
- Mengingat Hari Kebangkitan: Kalimat terakhir "wa ilaikan nusyur" (dan kepada-Mu kami akan dibangkitkan) adalah pengingat harian akan hari akhir. Imam Al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan doa ini agar seorang mukmin tidak lupa bahwa setelah kematian ada kebangkitan dan perhitungan.
- Perbedaan Redaksi Pagi dan Sore: Dalam riwayat Abu Dawud ini, di pagi hari beliau menyebut "bika ashbahna wa bika amsayna" (dengan-Mu kami pagi dan sore), sedangkan di sore hari beliau menyebut "bika amsayna" saja. Ini menunjukkan bahwa di pagi hari kita memulai hari, dan di sore hari kita mengakhirinya. Keduanya sama-sama berada dalam genggaman Allah.
- Keutamaan Dzikir Pagi dan Petang: Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Adzkar menyebutkan bahwa dzikir pagi dan petang adalah sunnah yang sangat dianjurkan karena menjadi benteng dari gangguan setan dan kejelekan makhluk.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu—perawi hadits ini—adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits. Suatu ketika, beliau ditanya mengapa ia begitu tekun mengikuti Nabi ﷺ. Beliau menjawab bahwa ia adalah orang miskin yang tidak punya keluarga dan harta, sehingga ia selalu bersama Nabi ﷺ untuk mengisi perutnya dan menghafal hadits-hadits beliau.
Suatu hari, orang-orang munafik menuduh Abu Hurairah banyak berdusta karena terlalu banyak meriwayatkan hadits. Namun, Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Abu Hurairah pernah berkata, "Sesungguhnya saudara-saudaraku dari kalangan Muhajirin sibuk berdagang di pasar, dan saudara-saudaraku dari kalangan Anshar sibuk mengurus kebun mereka. Sedangkan aku adalah orang miskin yang selalu menyertai Rasulullah ﷺ, sehingga aku mendengar apa yang tidak mereka dengar."
Hikmah dari kisah ini: Kedekatan seorang hamba dengan Nabi ﷺ—baik secara fisik di masa hidup beliau maupun secara spiritual dengan mengikuti sunnahnya—akan membuka pintu ilmu dan amal. Dzikir pagi dan petang adalah salah satu bentuk "menyertai" Nabi ﷺ dalam bimbingannya, karena kita mengucapkan persis apa yang beliau ajarkan.
Kesimpulan Praktis
- Biasakan membaca dzikir ini setiap pagi setelah shalat Subuh atau saat memasuki waktu pagi, dengan lafaz: "Allahumma bika ashbahna wa bika amsayna wa bika nahya wa bika namutu wa ilaikan nusyur."
- Biasakan membaca dzikir ini setiap sore setelah shalat Ashar atau saat memasuki waktu sore, dengan lafaz: "Allahumma bika amsayna wa bika nahya wa bika namutu wa ilaikan nusyur."
- Hayati maknanya: Saat mengucapkan, sadari bahwa Allah sedang mengatur hari kita, dan bahwa kita akan kembali kepada-Nya.
- Gabungkan dengan dzikir pagi-petang lainnya yang shahih dari Nabi ﷺ seperti Ayat Kursi, surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas, serta doa-doa lainnya yang diajarkan beliau.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.