Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menerangkan dua amalan ringan yang bila dijaga seorang Muslim akan menjadi sebab masuk surga: berdzikir (tasbih, tahmid, takbir) masing-masing sepuluh kali setelah shalat fardhu, dan berdzikir (takbir 34, tahmid 33, tasbih 33) sebelum tidur. Amalannya ringan, namun sedikit yang menjaganya karena setan berusaha melalaikan manusia, baik saat shalat maupun saat hendak tidur.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhuma, dan dicatat oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab al-Adab, Bab Tasbih ketika tidur (no. 5065). Hadits ini juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan an-Nasa'i, dan dinilai shahih oleh para ulama hadits seperti al-Albani dalam Shahih Abi Dawud.
Adapun dalil Al-Qur'an yang menjadi landasan umum berdzikir setelah shalat dan sebelum tidur:
QS. Al-Ahzab [33]: 41
وَيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
"Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak."
QS. Al-Jumu'ah [62]: 10
وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
"Dan berdzikirlah kepada Allah banyak-banyak agar kalian beruntung."
QS. Al-Baqarah [2]: 152
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku."
Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa dzikir-dzikir yang ditentukan bilangannya setelah shalat dan sebelum tidur termasuk amalan yang paling utama untuk dijaga, karena bilangannya sudah ditetapkan oleh Nabi ﷺ.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
Pertama, Nabi ﷺ menyebut dua amalan ini sebagai "khashlatain" (dua sifat/perkara) yang ringan dikerjakan namun besar pahalanya. Beliau menyebutkan bahwa siapa yang menjaganya akan masuk surga. Ini menunjukkan keutamaan besar, bukan berarti amal ini semata-mata cukup untuk masuk surga tanpa amal lain, tetapi ia menjadi salah satu sebab masuknya seseorang ke surga dengan izin Allah. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa hadits semacam ini menunjukkan keutamaan amal tertentu sebagai sabab (sebab) masuk surga, bukan pengganti seluruh syariat.
Kedua, dzikir setelah shalat: tasbih 10, tahmid 10, takbir 10. Total di lisan 30, namun di timbangan pahala menjadi 150. Ini menunjukkan bahwa Allah melipatgandakan pahala kebaikan. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam al-Wabil ash-Shayyib menjelaskan bahwa dzikir memiliki keutamaan yang berlipat karena ia adalah amal hati dan lisan sekaligus, dan Allah melipatgandakan pahala sesuai keikhlasan.
Catatan: dalam riwayat lain (seperti dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah), dzikir setelah shalat disebutkan 33 kali tasbih, 33 tahmid, 33 takbir, dan penyempurna seratus adalah "Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariika lah...". Imam an-Nawawi dalam Syarh Muslim menyebutkan bahwa kedua riwayat ini bisa diamalkan pada waktu yang berbeda, dan sebagian ulama menggabungkan keduanya. Yang penting, tidak ada pertentangan hakiki; keduanya adalah bentuk dzikir yang diajarkan Nabi ﷺ.
Ketiga, dzikir sebelum tidur: takbir 34, tahmid 33, tasbih 33. Total 100 di lisan, 1000 di timbangan. Ini adalah amalan yang diajarkan Nabi ﷺ kepada putrinya Fatimah dan Ali bin Abi Thalib ketika mereka meminta pembantu, sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa dzikir ini lebih baik bagi mereka daripada seorang pelayan.
Keempat, Nabi ﷺ menghitung dengan tangan. Ini menunjukkan bahwa menghitung dzikir dengan jari tangan adalah sunnah, sebagaimana disebutkan dalam hadits lain bahwa jari-jari akan menjadi saksi di hari kiamat. Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar menganjurkan menghitung dzikir dengan jari tangan karena mengikuti sunnah dan karena jari akan bersaksi.
Kelima, ketika para sahabat bertanya mengapa amalan ini ringan namun sedikit yang mengamalkannya, Nabi ﷺ menjawab bahwa setan datang kepada seseorang saat hendak tidur lalu menidurkannya sebelum ia berdzikir, dan setan datang saat shalat lalu mengingatkan kebutuhannya sebelum ia berdzikir. Ini menunjukkan bahwa setan sangat berusaha menghalangi manusia dari dzikir. Ibnu Qayyim dalam Ighatsat al-Lahfan menjelaskan bahwa setan mengetahui besarnya pahala dzikir, sehingga ia berusaha sekuat tenaga melalaikan manusia darinya.
Perbedaan pendapat: Sebagian ulama seperti Ishaq bin Rahuyah dan Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa dzikir setelah shalat yang disebutkan dalam hadits ini (10-10-10) dan yang dalam Shahih Muslim (33-33-33) bisa diamalkan keduanya, atau memilih salah satu. Al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah menilai hadits ini shahih dan menganjurkan mengamalkannya. Yang paling kuat adalah bahwa kedua bentuk dzikir tersebut sah dan bisa diamalkan, karena keduanya berasal dari Nabi ﷺ.
Story Telling
Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Fatimah radhiyallahu 'anha, putri Nabi ﷺ, datang kepada ayahnya mengadukan tangannya yang lecet karena menggiling gandum, dan meminta seorang pelayan. Nabi ﷺ tidak memberinya pelayan, tetapi mengajarkan kepadanya dan Ali dzikir sebelum tidur: takbir 34, tahmid 33, tasbih 33. Beliau bersabda, "Itu lebih baik bagi kalian berdua daripada seorang pelayan."
Ali bin Abi Thalib berkata, "Aku tidak pernah meninggalkan dzikir ini sejak aku mendengarnya dari Rasulullah ﷺ." Ketika ditanya apakah ia tetap mengamalkannya bahkan pada malam Perang Shiffin, ia menjawab, "Aku tidak meninggalkannya." Ini menunjukkan kesungguhan salaf dalam menjaga amalan ringan namun besar pahalanya.
Al-Hasan al-Bashri pernah berkata bahwa amalan yang paling berat adalah istiqamah (konsisten), karena setan tidak pernah berhenti menggoda manusia untuk meninggalkan amalan kecil yang rutin.
Kesimpulan Praktis
- Jaga dzikir setelah shalat fardhu: tasbih 10, tahmid 10, takbir 10 — atau bisa juga 33-33-33 sesuai riwayat lain, dan keduanya baik.
- Jaga dzikir sebelum tidur: takbir 34, tahmid 33, tasbih 33, dihitung dengan jari tangan.
- Jangan remehkan amalan kecil yang rutin, karena setan paling senang membuat manusia meninggalkannya.
- Sadari bahwa setan berusaha menghalangi saat shalat dan saat hendak tidur, maka lawanlah dengan kesungguhan dan doa.
- Ajarkan kepada keluarga, sebagaimana Nabi ﷺ mengajarkannya kepada Fatimah dan Ali.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.