Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 506 tentang Asal usul disyariatkannya adzan melalui mimpi

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah salah satu riwayat tentang sejarah pensyariatan adzan. Intinya, sebelum adzan disyariatkan, kaum muslimin kebingungan bagaimana cara memanggil untuk berkumpul shalat. Rasulullah ﷺ sempat berpikir untuk menggunakan terompet, api, atau lonceng, namun semuanya tidak cocok. Kemudian Allah ﷻ menunjukkan melalui mimpi seorang sahabat dari kalangan Anshar tentang lafaz adzan, dan Rasulullah ﷺ pun memerintahkan Bilal untuk mengumandangkannya. Hadits ini juga memuat kisah tentang bagaimana shalat berjamaah di masa awal dan keringanan dalam puasa.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Shalat, Bab Bagaimana Adzan, no. 506. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam at-Tirmidzi dengan redaksi yang serupa.

Kisah ini berkaitan dengan firman Allah ﷻ dalam Al-Qur'an tentang panggilan shalat:

QS. Al-Jumu'ah [62]: 9

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum'at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui."

Juga terkait dengan firman Allah tentang keringanan puasa bagi musafir dan orang sakit:

QS. Al-Baqarah [2]: 185

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ

"Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) pada bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu..."

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

1. Sejarah Pensyariatan Adzan

Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ketika Nabi ﷺ tiba di Madinah, kaum muslimin berkumpul untuk shalat tanpa ada panggilan khusus. Mereka sempat berdiskusi tentang cara memanggil. Sebagian mengusulkan lonceng (seperti umat Nasrani), sebagian mengusulkan terompet (seperti umat Yahudi), dan sebagian lagi mengusulkan api. Namun Rasulullah ﷺ tidak menyukai semua usulan tersebut.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa mimpi sahabat Anshar ini adalah mimpi yang benar dan menjadi dasar disyariatkannya adzan. Ini menunjukkan bahwa adzan adalah syiar Islam yang agung, dan Allah ﷻ sendiri yang mengajarkan lafaznya melalui mimpi yang benar.

2. Mimpi Sahabat Anshar

Sahabat Anshar itu melihat dalam mimpinya seseorang mengenakan dua pakaian hijau berdiri di masjid dan mengumandangkan adzan. Warna hijau melambangkan pakaian penghuni surga, menunjukkan bahwa adzan adalah perkara yang mulia dan berasal dari Allah.

Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa mimpi para nabi dan orang-orang shalih adalah bagian dari wahyu atau ilham yang benar. Mimpi sahabat ini menjadi dasar penetapan syariat adzan.

3. Peran Bilal bin Rabah

Rasulullah ﷺ memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan. Ini menunjukkan bahwa Bilal adalah muadzin pertama dalam Islam. Beliau memiliki suara yang merdu dan keras, sehingga panggilan adzan dapat didengar oleh banyak orang.

4. Kisah Umar bin Khattab

Umar berkata bahwa ia juga bermimpi hal yang sama, tetapi ia malu untuk menyampaikannya karena sahabat Anshar itu lebih dahulu menyampaikan mimpinya kepada Rasulullah ﷺ. Ini menunjukkan adab seorang sahabat yang tidak ingin mendahului saudaranya dalam kebaikan.

5. Hikmah tentang Shalat Berjamaah

Dalam hadits ini juga disebutkan bahwa para sahabat ketika datang ke masjid dan mendapati shalat sudah berjalan, mereka langsung mengikuti di posisi mana pun mereka mendapati imam—baik berdiri, ruku, atau sujud. Ini menunjukkan semangat mereka dalam menjaga shalat berjamaah.

6. Keringanan dalam Puasa

Bagian akhir hadits ini menceritakan tentang turunnya keringanan bagi orang sakit dan musafir untuk tidak berpuasa, serta dihalalkannya makan, minum, dan hubungan suami istri di malam hari bulan Ramadhan setelah sebelumnya dilarang jika sudah tidur.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah, kaum muslimin berkumpul untuk shalat tanpa ada panggilan. Suatu hari, Rasulullah ﷺ mengumpulkan para sahabat dan bermusyawarah tentang cara memanggil kaum muslimin untuk shalat.

Ada yang mengusulkan mengibarkan bendera, ada yang mengusulkan menyalakan api di tempat tinggi, ada yang mengusulkan terompet, dan ada yang mengusulkan lonceng. Namun Rasulullah ﷺ tidak menyukai semua usulan itu karena menyerupai kebiasaan umat lain.

Malam harinya, seorang sahabat Anshar bermimpi melihat seseorang mengenakan dua pakaian hijau berdiri di masjid. Orang itu mengumandangkan adzan, lalu duduk sebentar, kemudian berdiri lagi dan mengucapkan iqamah. Ketika bangun, ia segera menemui Rasulullah ﷺ dan menceritakan mimpinya.

Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah telah menunjukkan kepadamu kebaikan. Pergilah dan ajarkanlah lafaz ini kepada Bilal, karena suaranya lebih keras darimu."

Maka sejak saat itu, Bilal mengumandangkan adzan untuk setiap shalat. Umar bin Khattab kemudian berkata: "Demi Allah yang mengutusmu dengan kebenaran, aku juga bermimpi seperti yang ia mimpikan, tetapi ia lebih dahulu menyampaikannya, maka aku malu."

Kisah ini menunjukkan bagaimana Allah ﷻ memuliakan syariat adzan dengan mengajarkannya melalui mimpi yang benar, dan bagaimana para sahabat saling menghormati dalam menyampaikan kebaikan.

Kesimpulan Praktis

  1. Adzan adalah syariat yang agung yang Allah ﷻ ajarkan melalui mimpi yang benar kepada sahabat Anshar, kemudian Rasulullah ﷺ memerintahkan Bilal untuk mengumandangkannya.
  2. Menjaga shalat berjamaah adalah perkara yang sangat ditekankan oleh Rasulullah ﷺ, bahkan beliau sempat ingin mengutus orang-orang untuk memanggil kaum muslimin.
  3. Bersegera dalam kebaikan tanpa merasa malu, tetapi tetap menjaga adab terhadap saudara sesama muslim.
  4. Allah menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya, seperti keringanan puasa bagi musafir dan orang sakit.
  5. Mimpi orang shalih bisa menjadi petunjuk kebaikan, sebagaimana mimpi sahabat Anshar ini.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.