Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan langsung lafaz adzan kepada Abu Mahdhurah radhiyallahu 'anhu. Dalam riwayat Abu Dawud ini disebutkan bahwa adzan dimulai dengan "Allahu Akbar, Allahu Akbar" (dua kali), kemudian "Asyhadu an la ilaha illallah" (dua kali), lalu "Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah" (dua kali). Riwayat ini juga menunjukkan adanya variasi dalam periwayatan tentang berapa kali takbir di awal adzan, namun yang masyhur dan diamalkan adalah empat kali takbir di awal.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits yang dimaksud:
Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Mahdhurah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ mengajarinya adzan:
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ
"Allahu Akbar, Allahu Akbar; aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah; aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah."
(HR. Abu Dawud no. 505)
Dalil pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila diseru untuk melaksanakan shalat pada hari Jum'at, maka bersegeralah kamu mengingat Allah..."
(QS. Al-Jumu'ah [62]: 9)
Ayat ini menunjukkan bahwa adzan adalah seruan untuk mengingat Allah, dan lafaznya harus sesuai dengan yang diajarkan Nabi ﷺ.
Pandangan ulama:
Imam Asy-Syafi'i rahimahullah dalam kitab Al-Umm menjelaskan bahwa adzan yang diajarkan Nabi ﷺ kepada Abu Mahdhurah adalah salah satu bentuk adzan yang sah, dan beliau menyebutkan bahwa takbir di awal adzan adalah empat kali berdasarkan riwayat yang lebih kuat. Namun beliau juga mencatat adanya riwayat yang menyebutkan dua kali, sebagaimana dalam hadits Abu Dawud ini.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa perbedaan riwayat tentang jumlah takbir awal ini adalah karena perbedaan periwayatan, namun yang masyhur dan diamalkan oleh kaum muslimin adalah empat kali takbir di awal adzan, sebagaimana dalam adzan Bilal dan Abdullah bin Zaid.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits Abu Mahdhurah ini memiliki beberapa jalur periwayatan yang saling melengkapi:
- Riwayat Ibnu Juraij (yang disebut dalam hadits ini): Menyebutkan adzan secara lengkap dengan takbir dua kali di awal, kemudian syahadatain, kemudian ajakan kepada shalat dan keberuntungan, lalu takbir dua kali, dan diakhiri dengan la ilaha illallah.
- Riwayat Malik bin Dinar: Disebutkan bahwa takbir di awal hanya dua kali ("Allahu Akbar, Allahu Akbar" saja).
- Riwayat Ja'far bin Sulaiman: Menyebutkan "Kemudian ulangi dan angkat suaramu: Allahu Akbar, Allahu Akbar" — ini menunjukkan adanya pengulangan takbir.
Imam At-Tirmidzi rahimahullah menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang jumlah takbir di awal adzan. Namun jumhur (mayoritas) ulama — di antaranya Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi'i, dan Imam Ahmad — berpendapat bahwa takbir di awal adzan adalah empat kali. Ini berdasarkan hadits Abdullah bin Zaid yang lebih shahih dan jelas, serta praktik yang berlangsung terus-menerus sejak zaman Nabi ﷺ hingga sekarang.
Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah dalam Irwa'ul Ghalil menjelaskan bahwa hadits Abu Mahdhurah yang menyebutkan dua kali takbir adalah riwayat yang syadz (menyalahi riwayat yang lebih kuat), karena riwayat-riwayat lain dari Abu Mahdhurah sendiri — seperti yang diriwayatkan oleh Muslim dan para penulis kitab sunan — menyebutkan empat kali takbir di awal adzan.
Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah juga menjelaskan bahwa adzan yang diajarkan Nabi ﷺ kepada para sahabat adalah dengan empat kali takbir di awal, dan inilah yang diamalkan oleh kaum muslimin di seluruh dunia hingga hari ini.
Hikmah dari hadits ini:
- Adzan adalah syiar Islam yang agung, dan lafaznya harus dijaga sesuai tuntunan Nabi ﷺ.
- Nabi ﷺ mengajarkan adzan secara langsung dan praktis, bukan hanya teori — ini menunjukkan pentingnya belajar ibadah dengan cara meniru langsung dari yang lebih tahu.
- Adanya variasi riwayat menunjukkan bahwa para sahabat sangat teliti dalam meriwayatkan ibadah, dan para ulama sangat hati-hati dalam memilih riwayat yang paling kuat.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Mahdhurah radhiyallahu 'anhu adalah seorang pemuda Quraisy yang pada awalnya mengejek suara adzan Bilal. Ketika Nabi ﷺ mengetahuinya, beliau memanggilnya dan dengan penuh kasih sayang mengajarinya langsung lafaz adzan. Abu Mahdhurah pun menjadi muadzin di Mekkah, dan keturunannya terus menjadi muadzin di Masjidil Haram hingga beberapa generasi.
Imam Asy-Syafi'i menyebutkan bahwa ia mendengar adzan di Masjidil Haram yang dilantunkan oleh keturunan Abu Mahdhurah, dan lafaznya persis seperti yang diajarkan Nabi ﷺ. Ini menunjukkan keberkahan ilmu yang diajarkan langsung oleh Nabi ﷺ dan dijaga oleh generasi setelahnya.
Hikmahnya: Ketika seseorang ditegur karena kesalahan, hendaknya ia menerima dengan lapang dada dan belajar dengan sungguh-sungguh, sebagaimana Abu Mahdhurah yang awalnya mengejek, kemudian menjadi muadzin yang mulia.
Kesimpulan Praktis
- Adzan dimulai dengan empat kali takbir — ini adalah pendapat jumhur ulama dan yang diamalkan kaum muslimin.
- Lafaz adzan harus dijaga sesuai yang diajarkan Nabi ﷺ, tidak boleh dikurangi atau ditambah.
- Belajar ibadah harus dari sumber yang benar — dari Al-Qur'an, hadits shahih, dan pemahaman ulama.
- Perbedaan riwayat adalah hal yang wajar dalam ilmu hadits, dan tugas ulama adalah memilih yang paling kuat.
- Adzan adalah syiar yang agung — hendaknya kita menghormatinya dan menjawabnya ketika mendengarnya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.