Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 5019 tentang Tiga jenis mimpi dan cara menyikapi mimpi buruk

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan tiga hal penting: pertama, mimpi orang mukmin yang jujur akan semakin jarang salah di akhir zaman; kedua, mimpi terbagi menjadi tiga jenis—kabar gembira dari Allah, gangguan setan, dan bisikan hati sendiri; ketiga, adab ketika melihat mimpi buruk adalah bangun lalu shalat dan tidak menceritakannya kepada orang lain. Hadits ini juga mengajarkan bahwa belenggu dalam mimpi adalah isyarat keteguhan dalam agama.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits riwayat Abu Dawud no. 5019 dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2263) dan Imam Ahmad dalam Musnad-nya.

Ayat Al-Qur'an yang terkait tentang mimpi sebagai kabar gembira:

QS. Yunus [10]: 64

لَهُمُ الْبُشْرَىٰ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ ۚ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

"Bagi mereka kabar gembira di dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar."

Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menyebutkan bahwa sebagian ulama menafsirkan "kabar gembira di dunia" ini dengan mimpi baik yang dilihat seorang mukmin (Tafsir Ibn Katsir, surat Yunus).

Hadits lain yang terkait—riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabi ﷺ bersabda:

"مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي"

"Barangsiapa melihatku dalam mimpi, maka sungguh ia telah melihatku, karena setan tidak bisa menyerupai bentukku."

Penjelasan Rinci

Pertama: Makna "apabila waktu semakin dekat" (إِذَا اقْتَرَبَ الزَّمَانُ)

Para ulama berbeda pendapat tentang makna ini. Imam Abu Dawud sendiri memberikan penjelasan dalam riwayat ini bahwa yang dimaksud adalah "waktu malam dan siang semakin dekat (sama panjangnya)". Namun pendapat yang lebih kuat—dan disebutkan oleh Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari—adalah bahwa yang dimaksud adalah dekatnya hari kiamat. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh mayoritas ulama, termasuk Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Imam an-Nawawi menjelaskan: "Maknanya, ketika hari kiamat semakin dekat, maka mimpi orang mukmin semakin jarang dusta, karena hal ini merupakan salah satu tanda kenabian yang semakin dekat, dan ini adalah kabar gembira bagi orang-orang beriman agar mereka bersemangat dalam kebaikan."

Kedua: Tiga Jenis Mimpi

Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (kitab Ta'bir ar-Ru'ya) menjelaskan pembagian mimpi ini secara rinci:

  1. Ar-Ru'ya ash-Shalihah (mimpi baik)—ini adalah kabar gembira dari Allah. Mimpi ini bisa berupa mimpi para nabi, atau mimpi yang mengandung petunjuk dan kebaikan. Ini adalah satu-satunya jenis mimpi yang layak diceritakan dan diharapkan.
  2. Mimpi yang menakutkan dari setan—setan berusaha membuat seseorang bersedih dengan mimpi buruk. Maka ketika seseorang melihat mimpi buruk, ia dianjurkan untuk berlindung kepada Allah dari keburukan mimpi tersebut, meludah ke kiri (tanpa dahak), bangun dan shalat, serta tidak menceritakannya kepada orang lain.
  3. Mimpi dari bisikan hati sendiri—yaitu apa yang sedang dipikirkan atau dibicarakan seseorang sehingga terbawa dalam tidurnya. Ini bukan kabar gembira dan bukan gangguan setan, hanya bunga tidur biasa.

Ketiga: Adab Ketika Melihat Mimpi Buruk

Dalam hadits ini, Nabi ﷺ memerintahkan tiga hal:

  • Bangun dan shalat
  • Tidak menceritakan mimpi buruk kepada orang lain

Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya ar-Ruh menjelaskan hikmah perintah ini: "Karena menceritakan mimpi buruk akan menambah kesedihan dan kecemasan, baik bagi yang bermimpi maupun yang mendengarnya. Sedangkan shalat adalah sarana untuk memohon perlindungan kepada Allah dan menghilangkan gangguan setan."

Keempat: Makna Belenggu (Al-Qaid) dan Leher Terbelenggu (Al-Ghull)

Nabi ﷺ bersabda: "Aku suka belenggu (al-qaid) dan tidak suka leher terbelenggu (al-ghull). Belenggu adalah keteguhan dalam agama."

Imam Ibn Hajar menjelaskan perbedaan keduanya:

  • Al-Qaid (belenggu di kaki)—menunjukkan keteguhan dan kekokohan dalam agama, karena orang yang terbelenggu kakinya tidak bisa pergi ke mana-mana.
  • Al-Ghull (belenggu di leher)—menunjukkan keterikatan yang hina, seperti tawanan yang diikat lehernya. Ini bisa berarti keterikatan pada perkara dunia yang hina atau kekufuran.

Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menyebutkan bahwa mimpi para nabi adalah wahyu, dan mimpi orang-orang shalih adalah kabar gembira. Beliau juga menjelaskan bahwa semakin jujur seseorang, semakin benar mimpinya, karena mimpi adalah cerminan dari keadaan hati dan kejujuran seseorang.

Story Telling

Imam Muhammad bin Sirin—ulama tabi'in yang terkenal sebagai ahli ta'bir mimpi—pernah ditanya tentang seseorang yang bermimpi buruk. Beliau menjawab dengan bijak: "Jangan engkau ceritakan mimpimu kepada siapa pun kecuali kepada orang yang engkau cintai karena Allah, atau kepada orang yang alim lagi bijaksana. Karena mimpi itu mengikuti orang yang menceritakannya."

Diriwayatkan bahwa Muhammad bin Sirin sendiri sangat berhati-hati dalam menafsirkan mimpi. Beliau sering berkata: "Aku tidak menafsirkan mimpi kecuali dengan apa yang aku ketahui dari Al-Qur'an dan sunnah." Ini menunjukkan bahwa menafsirkan mimpi bukanlah perkara main-main, melainkan ilmu yang harus dijaga dengan adab dan kehati-hatian.

Kesimpulan Praktis

  1. Jangan mudah percaya pada mimpi—hanya mimpi baik yang layak diharapkan dan diceritakan, itupun kepada orang yang tepat.
  2. Jika bermimpi buruk, lakukan tiga hal: bangun dan shalat, berlindung kepada Allah dari keburukan mimpi, dan jangan menceritakannya kepada orang lain.
  3. Jaga kejujuran—semakin jujur seseorang dalam perkataan dan perbuatannya, semakin benar mimpinya. Ini adalah motivasi untuk senantiasa berkata benar.
  4. Mimpi bukan sumber hukum—mimpi tidak bisa dijadikan dasar penetapan hukum syariat. Yang menjadi sumber hukum hanyalah Al-Qur'an dan hadits shahih.
  5. Jangan menceritakan mimpi buruk—karena hal itu bisa menimbulkan kecemasan dan kesedihan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.