Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ bagi orang yang berdusta atau berbohong hanya untuk membuat orang lain tertawa. Ini menunjukkan bahwa dosa besar, meskipun dalam konteks bercanda dan hiburan, tetap saja dosa. Nabi ﷺ mengulang kalimat "celakalah" sebagai bentuk penekanan dan ancaman yang sangat serius.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Abu Dawud:
Teks Arab hadits (sesuai yang Anda berikan):
حَدَّثَنَا مُسَدَّدُ بْنُ مُسَرْهَدٍ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ، قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ " وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ " .
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dalam Sunan-nya, Kitab Adab, Bab Tentang Larangan Berbohong, no. 4990. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Imam Ahmad, dan dinilai hasan oleh para ulama.
Ayat Al-Qur'an yang Relevan:
Allah ﷻ berfirman dalam QS. Luqman [31]: 18:
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
"Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri."
Ayat ini mengajarkan adab dalam bergaul, termasuk tidak merendahkan orang lain demi kesenangan diri sendiri, yang sejalan dengan larangan berbohong untuk membuat orang tertawa.
Kaitan dengan Ulama:
Para ulama dari kalangan salaf sangat memperhatikan masalah ini. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menjelaskan bahwa larangan berbohong ini bersifat umum, termasuk dalam konteks bercanda. Imam An-Nawawi dalam Riyadhush Shalihin juga menempatkan hadits ini di bawah bab "Larangan Berbohong" dan menjelaskan bahwa dusta tidak dibenarkan dalam keadaan apapun, kecuali dalam tiga hal yang disebutkan dalam hadits lain (saat perang, mendamaikan dua orang yang berselisih, dan perkataan suami kepada istrinya).
Penjelasan Rinci
Hadits ini memberikan pelajaran yang sangat penting tentang bahaya dusta, terutama ketika dusta tersebut dijadikan alat untuk hiburan. Mari kita bedah maknanya:
- Makna "Wail" (ويل): Kata "wail" adalah kata yang menunjukkan ancaman dan kebinasaan. Ini adalah kata yang sangat keras. Ketika Nabi ﷺ mengucapkannya tiga kali ("Celakalah baginya! Celakalah baginya!"), ini menunjukkan betapa besarnya dosa perbuatan ini di sisi Allah ﷻ.
- Konteks Bercanda: Hadits ini secara khusus menyebutkan orang yang berbohong "untuk membuat orang lain tertawa". Ini menunjukkan bahwa banyak orang menganggap remeh dusta dalam bercanda. Padahal, dalam Islam, bercanda itu diperbolehkan, tetapi harus dengan kejujuran. Imam Al-Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ sendiri pernah bercanda dengan seorang wanita tua, tetapi beliau tidak pernah berdusta dalam candaannya.
- Pandangan Ulama:
- Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa dusta adalah salah satu dosa besar, dan mempersembahkan dusta untuk hiburan adalah bentuk penghinaan terhadap nikmat akal dan lisan yang Allah berikan.
- Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam syarhnya terhadap Riyadhush Shalihin menegaskan bahwa seorang mukmin tidak sepantasnya menjadikan dusta sebagai alat untuk menarik perhatian atau membuat orang lain tertawa. Ini akan menghilangkan kepercayaan orang lain dan merusak keimanan.
- Imam Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Al-Fawa'id menyebutkan bahwa dusta adalah sumber dari segala keburukan, dan ia akan mengeraskan hati serta menjauhkan pelakunya dari jalan petunjuk.
- Perbedaan dengan Bercanda yang Dibolehkan: Bercanda yang dibolehkan adalah yang tidak mengandung kebohongan, tidak merendahkan orang lain, tidak berlebihan, dan tidak membuat lalai dari mengingat Allah. Contohnya adalah bercanda dengan hal-hal yang benar dan tidak menyakiti perasaan.
Story Telling
Ada sebuah kisah yang sangat terkenal dari seorang ulama salaf, Bahz bin Hakim (perawi hadits ini), yang meriwayatkan dari kakeknya, Mu'awiyah bin Haidah al-Qusyairi radhiyallahu 'anhu. Suatu ketika, ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Nabi ﷺ, "Wahai Rasulullah, bolehkah aku berbohong kepada istriku?" Beliau menjawab, "Tidak ada kebaikan dalam kebohongan." Laki-laki itu bertanya lagi, "Bagaimana jika aku ingin menyenangkannya dengan suatu ucapan?" Beliau bersabda, "Tidak mengapa engkau berkata yang benar, dan tidak ada dosa bagimu dalam hal itu." (HR. Ahmad, dan dinilai hasan oleh para ulama).
Kisah ini menunjukkan bahwa bahkan untuk menyenangkan istri sekalipun, kebohongan tidak dibenarkan. Betapa indahnya ajaran Islam yang menjaga lisan seorang mukmin dari segala bentuk kepalsuan.
Kesimpulan Praktis
- Jauhi Dusta dalam Segala Bentuk: Baik dalam perkataan serius maupun bercanda, dusta adalah dosa. Jadikan kejujuran sebagai prinsip utama dalam setiap ucapan kita.
- Bercandalah dengan Cara yang Baik: Bercanda itu diperbolehkan, tetapi harus dengan perkataan yang benar, tidak berlebihan, dan tidak menyakiti orang lain.
- Jaga Lisan dari Hal yang Sia-sia: Gunakan lisan kita untuk berzikir, membaca Al-Qur'an, dan berkata baik, bukan untuk hal-hal yang mendatangkan murka Allah.
- Takutlah pada Ancaman Allah: Hadits ini adalah peringatan keras. Jangan sampai kita termasuk orang-orang yang disebut "celaka" karena meremehkan dosa dusta.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.