Penjelasan Hadits Abu Dawud No. 4982 tentang Larangan mengutuk setan dan anjuran menyebut nama Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita adab yang sangat indah ketika tertimpa musibah atau hal yang tidak menyenangkan, seperti tersandungnya kendaraan. Rasulullah ﷺ melarang kita mengucapkan "ta'isa asy-syaithan" (semoga setan binasa) karena ucapan ini justru membuat setan semakin sombong dan besar. Sebaliknya, beliau memerintahkan kita untuk mengucapkan "bismillah" (dengan nama Allah), karena dengan menyebut nama Allah, setan akan mengecil dan menjadi hina. Ini adalah bagian dari adab-adab harian yang diajarkan Islam untuk melindungi diri dan menjauhkan kita dari godaan setan.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Abu Dawud:

Teks hadits yang Anda berikan adalah riwayat dari seorang sahabat yang menjadi pembonceng di belakang Nabi ﷺ. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan lainnya. Hadits ini menunjukkan bahwa seorang mukmin hendaknya selalu berdzikir kepada Allah dalam setiap keadaan, dan tidak bergantung pada ucapan-ucapan yang tidak bermanfaat.

Ayat Al-Qur'an yang Relevan:

Allah Ta'ala berfirman tentang tipu daya setan yang lemah:

إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا

"Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah." (QS. An-Nisa' [4]: 76)

Ayat ini menegaskan bahwa kekuatan setan sebenarnya lemah. Kekuatannya hanya sebatas bisikan dan godaan. Jika seorang hamba berlindung kepada Allah dan menyebut nama-Nya, maka tipu daya setan akan sia-sia.

Kaitan dengan Ulama:

Para ulama seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa syaitan itu makhluk yang lemah, tetapi ia bisa "membesar" dalam pandangan manusia ketika manusia merasa takut atau justru menantangnya dengan ucapan yang sia-sia. Adapun dzikir kepada Allah, ia adalah senjata paling ampuh untuk mengecilkan dan mengalahkan setan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memberikan pelajaran penting tentang kekuatan kalimat bismillah dan bahaya ucapan yang tidak bijak. Mari kita bedah maknanya:

  1. Larangan Mengucapkan "Ta'isa asy-Syaithan" (تَعِسَ الشَّيْطَانُ):

Kata ta'isa berarti "semoga ia binasa" atau "semoga ia celaka". Mengapa Nabi ﷺ melarang ucapan ini? Bukankah kita boleh mendoakan kebinasaan setan?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan bahwa ucapan seperti ini tidak bermanfaat bagi yang mengucapkannya. Setan adalah makhluk yang sombong. Ketika kita mengucapkan "semoga engkau binasa", setan justru akan semakin membesar dan berkata, "Dengan kekuatanku aku bisa melakukan ini dan itu." Ucapan ini menunjukkan kelemahan kita, karena kita berhadapan dengan setan dengan kekuatan kita sendiri, bukan dengan kekuatan Allah. Ini adalah bentuk kesombongan terselubung dari pihak manusia yang merasa bisa melawan setan dengan ucapan.

  1. Perintah Mengucapkan "Bismillah" (بِسْمِ اللَّهِ):

Nabi ﷺ mengajarkan kita untuk mengucapkan bismillah ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Apa rahasianya?

Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Al-Wabilush Shayyib menjelaskan bahwa menyebut nama Allah adalah sebab turunnya pertolongan Allah dan kehinaan bagi setan. Ketika seorang hamba menyebut "Bismillah", ia bersandar kepada Allah, bukan kepada dirinya sendiri. Ia mengakui kelemahannya dan memohon pertolongan Allah. Pada saat itulah setan akan mengecil, karena ia tidak mampu melawan orang yang berlindung di bawah nama Allah yang Maha Perkasa.

  1. Makna "Setan Membesar" dan "Setan Mengecil":

Ini adalah permisalan yang sangat dalam. Setan tidak memiliki jasad yang bisa berubah besar atau kecil secara fisik. Namun, yang dimaksud adalah pengaruhnya dalam hati. Jika kita sibuk memikirkan setan, menantangnya, atau merasa takut padanya, maka pengaruh setan dalam hati kita menjadi besar. Sebaliknya, jika kita sibuk mengingat Allah, maka pengaruh setan menjadi kecil dan lemah, seperti lalat yang tidak berarti.

Imam As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa keimanan dan dzikir adalah cahaya yang mengusir kegelapan setan. Hati yang dipenuhi dzikir tidak akan ada tempat bagi setan untuk bersarang.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya oleh muridnya, "Wahai Imam, bagaimana cara melawan bisikan setan yang datang saat shalat?" Imam Ahmad menjawab, "Jika setan datang membisikkan sesuatu, maka katakanlah 'A'udzu billahi minasy-syaithanir rajim' (aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk) dan lanjutkan shalatmu. Jangan engkau lawan bisikannya dengan pikiranmu, karena itu justru akan membuatmu sibuk dan setan semakin senang."

Kisah ini menunjukkan bahwa cara mengalahkan setan bukanlah dengan berdebat dengannya atau melawannya dengan ucapan yang sia-sia, melainkan dengan berlindung kepada Allah dan terus berdzikir kepada-Nya. Inilah inti dari hadits di atas.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak Dzikir: Biasakan lisan kita selalu basah dengan dzikir, terutama kalimat bismillah di setiap awal aktivitas dan ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
  2. Jangan Menantang Setan: Hindari ucapan-ucapan yang menunjukkan kita menantang setan dengan kekuatan sendiri, seperti "semoga setan binasa" atau sejenisnya. Itu bukan cara yang diajarkan Nabi ﷺ.
  3. Bersandar Hanya kepada Allah: Sadari bahwa kita lemah dan tidak memiliki daya upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Ucapan bismillah adalah bentuk pengakuan kelemahan kita dan permohonan pertolongan kepada Allah.
  4. Jaga Hati dari Rasa Takut: Jangan biarkan hati kita dipenuhi rasa takut kepada setan. Rasa takut yang berlebihan justru akan membuat pengaruh setan semakin besar. Gantilah rasa takut itu dengan rasa takut kepada Allah dan keyakinan bahwa Allah Maha Melindungi hamba-Nya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?